BALIEXPRESS-Purnama yang jatuh pada tanggal 21 Juni 2024 ini menjadi hari yang spesial karena bertepatan dengan Sukra Wuku Wayang.
Bukan purnama biasa, namun purnama kali ini disebut dengan Purnama Malesade.
Menurut Ida Pandita Kebayan dalam video yang diunggah di media sosialnya menyebut bahwa ada satu hari dalam kalender Bali menjadi hari yang sangat cemer dan leteh yaitu pada hari Jumat Wayang.
Baca Juga: JANGAN DILANGGAR! Melukat Pada Purnama Malesada Nemu Sukra Wayang, Ini Dampak yang Ditimbulkan!
Pada saat ini, Dewa Siwa dikalahkan oleh anaknya sendiri yakni bhatara Kala.
“Keletehan dan kecemeran ini menyusup pada air sehingga air menjadi sesuatu yang cemer dan leteh,” ujar Ida Pandita dikutip pada Jumat (21/06).
Air yang mengelami keletehan tersebut ketika digunakan melukat atau berkeramas akan mengurangi kesucian dan membuat taksu berkurang.
“Kebetulan juga pada hari ini juga bertepatan dengan Purnama Malesade,” jelasnya.
Baca Juga: Pantang Melukat Saat Purnama Malesada Nemu Sukra Wayang; Begini Penjelasan Ida Pandita Kebayan
Purnama Male artinya purnama yang tidak bersih sehingga meskipun Purnama tidak disarankan untuk melukat dan keramas.
Meski hari ini pantang untuk melakukan pelukatan dan upacara pebersihan, namun Ida Pandita Kebayan membeberkan hal yang seharusnya dilakukan dihari Purnama Malesade bertemu dengan Jumat Wuku Wayang.
Pertama, membuat tapak dara di ulu hati menggunakan pamor atau kapur sirih.
Tapak dara ini dibuat di ulu hati seluruh anggota keluarga.
Baca Juga: Pegawai Rumah Sakit Bali Mandara Akan Dilatih Bahasa Isyarat agar Ramah dengan Kelompok Rentan
Kemudian mencari daun tulak kemudian dibuat tapak dara menggunakan pamor.
Selanjutnya daun tulak itu ditempatkan di gerbang rumah, di kamar dan di merajan.
“Atau bisa diletakkan ditempat-tempat spesial lainnya,” jelas Ida Pandita Kebayan.
Editor : Wiwin Meliana