Tidak sulit mencari Pura Goa Gong ini. Lokasinya persis di tikungan yang cukup tajam. Pura ini juga bisa diakses dengan berbagai moda kendaraan baik roda empat maupun roda dua.
Perjalanan menuju ke pura Goa Gong, bisa dilalui dari pertigaan kampus bukit jimbaran ambil arah menuju Selatan.
Kurang lebih berjarak 3 km dari kampus bukit sudah terpampang dua buah patung macan yang berada di depan pintu gerbang masuk halaman parkiran Goa Gong.
Baca Juga: Pura Goa Raja di Besakih: Erat Kaitannya dengan Manik Angkeran dan Dang Hyang Sidhi Mantra
Umat Hindu yang nangkil harus rela melewati beberapa buah anak tangga. Setelah sampai di lokasi, tentu akan dibuat takjub dengan keberadaan goa yang sudah berusia puluhan abad.
Suasana di pura ini juga begitu tenang. Vibrasi spiritualnya begitu terasa. Sehingga sangat cocok untuk melakukan meditasi di pura ini.
Goa gong peninggalan jaman prasejarah, tepatnya pada jaman mesolitik. Berdasarkan penelitian para arkeolog, goa ini diyakini telah ada sejak 2500 SM yakni pada masa prasejarah.
Mulut goa menghadap ke utara, dan goa gong memiliki kedalaman sekitar 15,40 meter, lebar 14, 30 meter dan tinggi langit-langit goa antara 2-5 meter.
Pemangku Pura Goa Gong, Jro Mangku Sukantha erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha.
Dalam Lontar Dwijendra Tattwa, dikisahkan perjalanan Dang Hyang Nirarta atau Pedanda Sakti Wawu Rawuh dari Pasuruan Jawa Timur, hingga di Pura Goa Gong dan Moksa di Pura Kuhur Uluwatu.
Dalam perjalanan itu, Beliau suara gaib yang datang dari dalam goa. Beliau pun melakukan pertapaan di Pura Kayu Sugih, untuk mengetahui sumber suara.
Baca Juga: Pura Goa Raja Besakih; Stana Sang Hyang Naga Tiga, Tempat Memohon Kemakmuran
Kemudian beliau dihadang oleh dua ekor naga dan terjadilah pertarungan.
Kemudian kedua ekor naga itu berhasil dikalahkan.
Mereka kemudian meminta penyupatan kepada Dang Hyang Nirartha agar bisa rohnya dibebaskan.
Permohonan itupun disanggupi. Kedua ekor naga itu dibebaskan rohnya.
Namun, dengan catatan, naga berwarna merah dan kuning badannya tetap menjaga goa tersebut. Kedua naga itulah sebagai raja dan ratu dari wong samar di goa gong.
Jro Mangku Sukantha selaku pemangku Pura Goa Gong memaparkan pura ini diempon oleh Desa Adat Jimbaran yang terdiri dari 12 Banjar Adat.
Sedangkan, pemangkunya sendiri merupakan turun temurun dari leluhurnya Jro Mangku Sukantha sejak 1929.
Ada sejumlah pelinggih di Pura ini. Pertama Pelinggih Dewi Kwan Im yang dipuja dengan nama Ratu Ayu Syahbandar.
Pelinggih ini juga dipuja oleh umat Budha. Selain itu, karena Dang Hyang Dwijendra menganut paham Siwa-Budha.
“Makanya yang nangkil ke pura ini tidak hanya umat Hindu saja. Tetapi juga umat Budha. Mereka meyakini stana Dewi Kwan Im ini memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi umat Budha yang berkunjung,” katanya.
Baca Juga: Pura Goa Raja Besakih, Tiga Naga Penjaga Unsur Inti Bumi
Di pura ini juga ditemukan pelinggih Meru Tumpang Tiga sebagai stana Ida Bhtara Sakti Luhur Gunung Kukus Goa Gong, Pelinggih Dewa Ayu Manik Galih, Ida Dukuh Sakti, Ngurah Agung, Pelinggih Padma Tiga Pemujaan Hyang Sakti, Ratu Niang Sakti, Padmasana.
Ia mengatakan, di pura ini terdapat duwen Ida berupa gong, tetapi berupa batu yang mengeluarkan suara secara gaib.
Suara gaib itu kerap muncul saat pujawali, Soma Pon Wuku Sinta (Soma Ribek).
“Selain mengeluarkan suara, gong batu ini juga mengeluarkan tirta yang bisa dijadikan sebagai tamba atau obat. Ini memang aneh, karena kan di atas goa kondisinya tanah kapur yang gersang. Airnya sumbernya darimana itu yang masih menjadi misteri,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika