Bendesa Adat Tengkulung, I Gede Eka Surawan menceritakan banyak pemedek yang nangkil untuk memohon taksu.
Terutama bagi para pragina maupun paranormal acapkali nunas taksu di pura ini.
Taksu di pura ini juga erat kaitannya dengan pelinggih Ratu Ayu Mas Gegelang.
Konon Ratu Ayu Mas Gegelang ini senang dengan unen-unen, sehingga beliau menguasai taksu agung utamanya yang menjadi spirit dalam berkesenian.
Selain itu, ada juga pelinggih Ratu Bagus Panji, Ratu Gede Pengarah-arah.
Kemudian ada pula arca sakral yang diyakini muncul dari laut.
Baca Juga: Berada di Tepi Pantai, Pura Dalem Tengkulung berawal dari Kisah Sengkuluk yang Terbang
Arca inilah yang kemudian distanakan di Pura Dalem Tengkulung.
Pujawali di Pura Dalem Tengkulung bertepatan dengan tumpek wariga, atau tumpek uduh tepatnya 25 hari jelang Hari Raya Galungan.
Selain pemaksan, pengempon ada prasanak ida yang tangkil ke Pura dalem Tengkulung saat piodalan, dari berbagai daerah.
Ada dari kawasan Tanjung Benoa, Bualu, Kedonganan, Denpasar, Sesetan Kaja. Bahkan ada sejumlah wilayah dari Bali.
Umat Hindu yang hadir juga banyak saat pujawali.
Apalagi pujawalinya hanya satu hari saja, dari malam sampai pagi.
“Saat piodalan inilah, prasanak Ida Batara di Pura Dalem Tengkulung yang berasal dari berbagai wilayah di Bali akan hadir untuk menghaturkan ayah-ayahan. Yang nangkil selain memohon taksu, ada juga memohon obat hingga jabatan di pura ini,” sebutnya.
Ketika memasuki tengah malam, pralingga Ida Batara yang lunga ke Pura Dalem Tengkulung akan bersembahyang layaknya umat yang tangkil alias duduk di natar atau lantai pura.
Baca Juga: Dewi Melanting dijaga Ribuan Wong Samar, Pura Melanting Ramai saat Buda Wage Klawu
Usai bersembahyang, Ida Batara dipersilakan untuk kembali ke pura masing-masing
Pura ini juga merupakan pura swagina, karena ada kaitannya dengan subak.
Meski demikian, status pura ini juga bisa sebagai pura Dang Kahyangan, karena berkaitan dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha.
“Memang sebagai pengulun subak abian. Karena masyarakat punya abian disini. Tempat Bertani, ada juga dibuktikan sumur, di tengahing alas. Jadi kami percaya ini juga sebagai pura swagina. Nah apakah ini Dang Kahyangan, Sad Kahyangan tentu masih berproses,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika