Pura Suranadi terletak di Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Kata Suranadi berasal dari dua buah kata yaitu sura yang artinya dewa dan nadi yang artinya sungai, jadi Suranadi dapat diartikan sebagai sungainya para dewa.
Pura Suranadi terdiri dari tiga lokasi yaitu pura Ulon yang berlokasi di pura utama, pura pengentas yang terdiri di tengah dan pura pembersihan yang berlokasi di sebelah barat.
Selain ketiga pura ini, terdapat satu Pura lagi yang letaknya di tengah hutan lindung Suranadi, yaitu Pura Majapahit.
Pemangku Pura Suranadi, Jro Mangku I Made Putra menjelaskan Pura Suranadi sangat erat kaitannya dengan Panca Tirta, yaitu lima sumber mata air atau biasa di kenal dengan istilah kelebutan.
Adapun kelima sumber mata air itu terletak di pura Ulon sebanyak dua buah yaitu Petirtaan dan Pengelukatan, dua sumber mata air di pura Pengentas yaitu Pengentas dan toya Tabah dan satu sumber mata air pembersihan di pura pembersihan.
Selain kelebutan masing-masing lokasi juga memiliki areal pemandiannya.
Areal pemandian di lokasi pura Ulon letaknya di pinggir jalan, dan menjadi tempat mandi umum bagi wisatawan dan warga setempat.
Lokasi pemandian di pura Pengentas lokasinya lebih sederhana dan lebih kecil karena hanya diperuntukkan untuk mandi sakral bagi masyarakat yang akan berobat atau mencari tambe, serta untuk mencari tirta pengentas untuk digunakan dalam acara pengabenan.
Sedangkan di pura Pembersihan lokasi mandi terdiri dari dua kolam yaitu kolam pertama merupakan lokasi melukat dan kolam kedua merupakan kolam renang biasa.
“Dahulunya kedua kolam ini merupakan satu tempat yang sama, namun lambat laun dua kolam ini disekat karena dianggap memiliki dua fungsi yang berbeda yaitu kolam utama diperuntukkan bagi masyarakat yang akan melakukan ritual keagamaan,” jelasnya.
Kolam utama digunakan untuk melukat yang dianggap suci dan menggunakan tata cara tersendiri, sedangkan kolam renang biasa dipergunakan murni sebagai sarana rekreasi air oleh wisatawan dan warga sekitar.
Dikatakan Mangku Putra, masyarakat yang melaksanakan melukat di pura Suranadi, khususnya di areal pura pembersihan harus mengikuti tata cara yang telah ditentukan oleh pura.
Pemedek yang nangkil wajib memakai kain putih.
Baca Juga: Berada di Tepi Pantai, Pura Dalem Tengkulung berawal dari Kisah Sengkuluk yang Terbang
Kain putih sudah disediakan di areal pura secara gratis dan dapat digunakan bergiliran antar sesama pengunjung, namun banyak juga masyarakat yang membawa kain putih sendiri dari rumah dengan alasan kepraktisan.
Sebelum memasuki areal kolam utama, masyarakat dihimbau untuk mandi terlebih dahulu di aliran kolam yang sudah disediakan, hal ini agar areal kolam utama benarbenar steril dan tidak terkena busa sabun dan shampo.
“Sebelum memasuki kolam utama, masyarakat menghaturkan canang terlebih dahulu, maka dari itu masyarakat hendaknya sudah mempersiakan canang dari rumah atau dapat membeli di area pura,” paparnya.
Ritual melukat dilakukan di kolam utama, terdapat satu pancuran besar yang merupakan mata air yang tidak pernah berhenti mengalir.
Masyarakat secara bergantian akan mandi dan berdoa tepat di depan pancuran tersebut.
Sehabis melukat, maka pemedek bisa langsung ganti pakaian mengenakan pakaian sembahyang (rapi). Masyarakat yang telah melakukan melukat, lalu menggunakan baju sembahyang.
Tahapan selanjutnya, pemedek bisa muspa di Pesimpangan mandi suci dengan sarana canang/daksina.
Disamping areal kolam melukat terdapat sebuah Pesimpangan, maka masyarakat yang telah melukat wajib untuk bersembahyang di Pesimpangan tersebut menggunakan sarana canang atau daksina
Dilanjutkan ke Utama Mandala pura pembersihan. “Setelah selesai bersembahyang di Pura Pesimpangan, maka masyarakat dianjurkan untuk bersembahyang ke Utama Mandala yang terletak di sebelah utama lokasi kolam melukat,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika