Tidak hanya erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha, tetapi juga ada pantangan yang harus diperhatikan.
Mata air yang muncul tersebut sangat disucikan dan digunakan dalam berbagai ritual.
Pengempon Pura Tirta Segening, Ida Bagus Mangku menjelaskan uniknya, di pura ini,pemedek dilarang menggunakan dirigen untuk nunas tirta.
Namun hanya diijinkan menggunakan payuk. Sebab jika menggunakan jirigen, maka dipastikan tirta akan surut.
“Ring Gemblong nike meparab Pranda Istri Rai. Siapapun pemedek yang nangkil, agar memahami sejarahnya. Jangan membawa jirigen plastic, karena sudah pasti bisa surut airnya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Pengempon Pura Tirta Segening berasal dari Krama Banjar Siku yang jumlanya sudah ratusan Kepala Keluarga.
Pemedek yang nangkil juga banyak dari pelosok Bali. Bahkan, yang nangkil kebanyak para Sulinggih dari Brahmana.
Baik Brahmana Keniten, Brahmana Kemenuh, Brahmana Manuaba yang nangkil.
“Tidak hanya brahmana tertentu saja. Tetapi semua Brahmana bisa nangkil ke Pura Ini. Pura ini tergolong unik, karena petirtan Ida Brahmana yang merupakan warih Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh,” sebutnya.
Di sisi lain, pemedek yang melaksanakan upacara seperti pelebon atau pengabenan, maka sarana bebantenan yang digunakan itu saat nangkil seperti sarana banten suci, soroan, pejati, prastitsa.
“Kalau ngaben harus ada salaran, untuk canang secukupnya,” paparnya.
Sedangkan, kalau petirtan, maka cukup dengan sarana banten suci, sorohan dan pejati. Ditambah dengan canang secukupnya.
“Memang sekarang kita sepakati, untuk nuur tirta, mendak tirta, sepakati harus menggunakan payuk yang ukurannya tidak terlalu besar, disesuaikan dengan kebutuhannya,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika