Pura Watu Klotok posisinya terletak di pinggir Pantai Watu Klotok. Tidak sulit untuk mencarinya, sebab bisa diakses melalui jalan By Pass Ida Bagus Mantra.
Posisi yang berada di dekat jalan By Pass membuat kawasan ini mudah dijangkau berbagai moda transportasi kendaraan.
Suasana pura yang berada di tepi Pantai begitu tenang kian menambah vibrasi spiritual. Pantai ini juga begitu indah, lantaran Pulau Nusa Penida begitu terlihat secara samar-samar.
Tak mengherankan, jika pemedek akan menikmati pemandangan yang indah ini.
Pemedek juga bisa melakukan tirtayatra ke pura lainnya yang dekat dengan Pura Watu Klotok, seperti Pura Goa Lawah maupun Pura Dasar Bhuwana Gelgel.
Keberadaan Pura Watu Klotok juga berkaitan erat dengan Pura Basakih dalam rangka upacara malasti ataupun mulang pakelem dalam rangkaian upacara-upacara besar yang digelar di Pura Besakih, seperti misalnya upacara Eka Dasa Rudra, Tri Bhuana, Eka Bhuana, Candi Narmada, ataupun Panca Wali Krama.
Pemangku Pura Watun Klotok, Jero Mangku Gede menjelaskan, Pura Watu Klotok memiliki keterkaitan dengan Mpu Kuturan.
Tradisi menyebut bahwa Mpu Kuturan-lah yang memilih Pura Watu Klotok ini sebagai tempat pasucian Ida Bhaṭara Besakih tersebut.
Selain itu Pura Watu Klotok ini sangat berarti bagi para petani di Bali. Hal ini mengingat bahwa pura ini menjadi tujuan puja kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar lahan pertanian mereka senantiasa subur dan terbebas dari serangan hama tanaman.
Dalam pada itu di palataran Nistha Maṇḍala atau jaba sisi terdapat arca Dewa Baruṇa.
Sementara itu di palataran Madhya Maṇḍala atau jaba tengah terdapat palinggih Sang Kāla Surya, yang merupakan aspek dari Dewa Baruṇa, di sisi selatan palataran.
Sementara itu di sisi timur dari palinggih Sang Kala Surya tersebut terdapat palinggih Ratu Gede Panataran Ped, berupa sebatang pohon ketapang dan tugu taksu atau ngarurah.
Adapun palinggih utama di Pura Watu Klotok ini adalah sebuah palinggih Ida Bhaṭara Makocok atau Makocel, berupa sebuah batu yang berbunyi jika dikocok-kocok, seperti ada isinya yang beradu di dalamnya. Batu inilah yang merupakan asal-usul dari Pura Watu Klotok itu sendiri.
Dijelaskan Mangku Gede, saat pemugaran palinggih, ia sempat mundut batu tersebut. Kala itu ia cukup kesulitan membawanya karena cukup berat.
ketika mundut itulah ia membuktikan bahwa batu itu saat digerakkan memang mengeluarkan suara dari dalam.
“Suaranya Klutuk, klutuk, begitu suaranya. Memang batunya mekocok dan sangat disakralkan,” ungkapnya.
Palinggih ini disebut juga sebagai palinggih Ida Bhaṭara Lingsir. Batu ini ditemani (unen-unen atau rencang) oleh palinggih bikul (tikus) putih, lalipi poleng (ular belang), dan penyu macolek pamor.
Konon penyu ini muncul setiap seratus tahun sekali. Selain itu ada pula sebuah sumber air yang digunakan sebagai beji.
Selanjutnya di sebelah sumber air itu terdapat Meru Tumpang Tiga, yang merupakan sthana Dewi Danu. Ada pula sebuah palinggih Sri Sadhana.
Pria asal Desa Tojan, sebagai Janbanggul Pura Watu Klotok menjelaskan, di areal pura juga terdapat pelinggih Ida Kanjeng Ratu, Ida Ratu Gede Dalem Peed, Ratu Niang Sakti,
Selain Pelinggih Ida Bhatara Lingsir Watu Kloto ada pula Ida Bhatara Dewi Gangga, Ida Bhatraa Ulun Danu. Ada Pelinggih Gedong Alit, Pelinggih Bhatara Segara, Padmasana (dik)
Editor : I Putu Mardika