Dikatakan Janbanggul Pura Watu Klotok, Jro Mangku Gede tidak sedikit umat Hindu yang nangkil sembari nunas tamba.
Karena diantara mereka menderita penyakit non medis. Ada juga yang belum memiliki keturunan.
Menurutnya, permohonan itu bisa dilakukan dengan nunas tirta dari wangsuhan batu mekocok.
Bahkan, banyak yang sudah membuktikan. Dulu, ada pemedek yang sakit storke, namun setelah memohon wangsuhan diberikan kesembuhan.
“Pemedek yang nangkil ketika memohon pengobatan, batu itu dibasuh dengan air bungkak gadang. Ida Batara yang saya mohonkan kepada Beliau agar dikabulkan. Jadi saya hanya memohonkan saja. Saya tidak tahu apa-apa. Sudah banyak yang terkabul,” ujar pemangku asal Tojan itu.
Baca Juga: Misteri Batu Mekocok di Pura Watu Klotok, Ada Penyu Muncul Seratus Tahun Sekali
Selain memohon kesembuhan dan keturunan, umat Hindu yang nangkil ke pura ini juga banyak yang memohon pangelukatan.
Bahkan, hampir tiap hari ada yang malukat, kecuali saat Pasah. Jika umat ingin malukat, disarankan membawa lima buah pejati.
“Prosesinya Melukat dulu di Segara menggunakan bungkak, pejati jumlahnya 5, rincannya tiga Bhatara Lingsir, Surya, dan ajeng satu. Sisanya di segara dua. Yang nangkil ramai pada kajeng kliwon, purnama tilem, kecuali pasah,” paparnya.
Rincianya, dua pejati untuk sarana malukat di jaba sisi pura atau pinggir pantai dan tiga pejati untuk di jeroan.
Proses persembahyangan juga dimulai dari jaba, Ida Bhatara Ratu Kanjeng, Ratu Gede Dalem Peed, Ratu Niang Sakti, kemudian di jeroan.
Baca Juga: Berada di Dalam Hutan Bali Barat, Pura Dang Kahyangan Prapat Agung jadi Pintu Niskala Penjaga Bali
Pujawali di Pura Watu Klotok dilaksanakan bertepatan pada rahina Anggarkasih Julungwangi, dan saat Ngusaba Purnamaning Sasih Kalima.
Pemedek yang nangkil dari berbagai pelosok Bali.
“Di areal ini juga ada sumur yang digunakan sebagai mata air. Ada 118 mata air. Sehingga tidak pernah kering. Untuk kebutuhan ritual,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika