Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tenget!Pohon Kepah Raksasa Berusia Ratusan Tahun di Pura Gria Kepah Agung Nusa Penida, Begini Kisahnya

I Putu Mardika • Sabtu, 6 Juli 2024 | 22:02 WIB

 

Pura Gria Kepah Agung di Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung
Pura Gria Kepah Agung di Nusa Penida, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung
BALIEXPRESS.ID-Kawasan Nusa Penida memiliki pura kahyangan jagat yang cukup banyak. Selain Pura Goa Giri Putri, Pura Dalem Ped, di kawasan ini juga terdapat Pura Griya Kepah Agung. Pura ini memiliki ciri khas dengan Pohon Kepah yang sudah berusia ratusan tahun.

Pura ini terletak dekat dengan Pura Penataran Ped, di Banjar Bodong Desa Ped, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung Bali.

Pura ini berada di bawah pohon besar dengan beraneka tumbuhan tanaman.

Masyarakat setempat meyakini, konon pohon besar tersebut sudah ada sejak zaman kerajaan Bali dan penjajahan belanda belum masuk ke Bali.

Dalam areal Pura Gria Kepah Agung, ada sejumlah pelinggih yakni berupa pelinggih Gedong, Bale Piasan, Padmasari dan Pelinggih Pohon kepah.

Selain itu juga di bangun sebuah beji untuk pemelasian atau pesiraman Ida sesuhunan di Pura Gria Kepah Agung.

Pura ini Dibangan sekitar tahun 2004 dan pada Buda Wage Kelawu atau 25 April 2004 dilaksanakan pujawali pertama.

I Gusti Made Kertayasa, selaku Pengempon Pura Gria Kepah Agung Nusa Penida menceritakan Pohon besar di kawasan pura sangat angker.

Berbagai peristiwa aneh di luar logika sering terjadi. Tidak sedikit yang meraskaan aura mistis di kawasan itu.

“Para tetua di desa sering meberikan nasehat agar hati-hati saat melintas karena tenget (angker, Red). Dahulu di pohon juga terdapat bale, seperti bale piasan. Konon menurut cerita bale itu menjadi tempat menghukum orang yang bersalah. Jika dia salah bahkan akan dihukum mati,” jelasnya.

Dirinya menyebutkan Pura ini mulai dibanguin sekitar tahun 2004 lalu, atau sudah 20 tahun silam. Tepatnya pada tanggal 25 April 2004 saat Buda Wage Kelawu

“Nah pada saat Buda Wage Kelawu tanggal 25 April 2004 itulah kami menghaturkan pujawali yang pertama kalinya,” katanya.

Ia pun memaparkan alasan mendirikan Pura Gerya Kepah Agung ini. Gusti Kertayasa mengaku mendapatkan pawisik melalui mimpi berulang kali. Namun, ia menganggap hanya sebagai bunga tidur semata.

Sampai suatu ketika, ia mengalami peristiwa aneh yang di luar nalar. Pada waktu itu ia hendak pindah rumah ke tempat lain yang masih di wilayah desa dengan jarak sekitar 1 km dari tempat semula.

Kala itu ia hendak membawa dua ekor babi peliharaannya untiuk (bangkung dan celeng). Namun, baru berjalan sekitar 20 meter, rupanya babi itu terlepas dan berlari kencang.

“Saya berpikir, harus dicaru kemana ini babinya yang lari? Akhirnya pasrah, karena jalannya masihs saat itu masih semak belukar.

Di tengah keputusasaan itu mencari babinya yang lepas, Gusti Kertayasa memilih melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggalnya yang baru.

Tak disangka, babi itu justru lebih dulu sampai di tempat tinggalnya yang baru hendak dituju.

“Ini tidak masuk akal, kenapa babi kok bisa tahu dimana saya itu mau tinggal. Ini menjadi pertanda, kalau kami merasa ada kontak bathin dengan taru Kepah yang besar di Pura ini,” paparnya.

Terlebih, taru ini sering didatangi pemedek dari Bali yang mau nangkil ke Pura Dalem Peed.

Begitu pula dari masyarakat setiap mau lewat maturan ke Pura Ped tetap meluangkan waktu melakukan persembahyangan di Pohon Kepah berusia ratusan tahun ini.

Lambat laun di tengah ramainya pemedek yang nangkil ke Pohon Kepah ini, Gusti Kertayasa berharap agar dirinya diberikan kemapanan ekonomi sehingga bisa ngaturang pelinggih untuk yang berstana di pohon kepah.

“Kalau saya berhasil, anak anak berhasil, saya akan nangiang atau membangun linggih beliau. Harapan ini sebagai rasa bakti saya kepada beliau, bukan semata mata untuk kami, tetapi untuk semua umat Hindu yang kira kira ingat sama beliau, Ida Ratu Niang Sakti,” kenangnya.

Benar saja, harapannya menjadi kenyataan. Setelah ekonominya semakin mapan, anak-anaknya sudah mengenyam Pendidikan, ia akhirnya mewujudkan harapannya untuk membangun pelinggih di Pura Griya Kepah Agung.

Sejak dibangun itu pula, pemedek datang dari berbagai pelosok di Bali. Bahkan ada yang nangkil dari luar Bali hingga Jawa. Umat yang nangkil tak hanya dari umat Hindu saja. Tetapi juga dari umat non Hindu.

“Walaupun umat nonHindu yang nangkil dengan pakaian versi mereka, kami tidak melarang. Karena itu adalah hak mereka. Terpenting sujud bakti dengan tulus. Karena Tuhan itu maha kasih terhadap siapa saja. Maka dari itu kami berharap, agar siapapun yang nangkil untuk tetap menunjukkan keramahan,” paparnya.

Menurutnya, pemedek yang nangkil bertujuan untuk mencari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Apapun yang diminta oleh pemedek sering dikabulkan oleh yang Ida Ratu Niang Sakti.

Tidak mengherankan saban hari pemedek yang nangkil semakin lama semakin ramai, begitu juga sejumlah bangunan di pura ini jumlahnya kian berkembang. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #hindu bali #hindu #pura #klungkung #nusa penida #Gria Kepah Agung