Petirtan yang menjadi petilasan Maha Rsi Markandeya ini memiliki tegak pidoalan saat Purnama Sasih Kenem.
Tepatnya saat Kajeng. Kadang pujawali diambil sebelum dan sesudah purnama, asalkan bertepatan saat kajeng.
Djelaskan Mangku Ageng, saat pujawali pemedek yang nangkil berasal dari berbagai wilayah di Banyuwangi.
Baca Juga: Pura Dalem Kerangkeng Nusa Penida, Jadi Tempat Menghukum Roh Berdosa
Utamanya yang berasal dari Kecamatan Glenmore. Tidak jarang juga umat Hindu yang nangkil berasal dari wilayah Bali dan Nusantara.
Pemedek yang nangkil bisa membawa sarana apa saja untuk dijadikan persembahan. Semua dipersembahkan dengan penuh keikhlasan.
Sedangkan yang muput adalah Sulinggih yang ada di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.
Sarana banten yang digunakan juga menyesuaikan dengan persembahan masyarakat di Jawa.
“Bentuknya saranananya juga pisang satu tangkep,” ungkapnya.
Tak hanya itu, kisah cerita pemedek yang sembuh juga banyak tersiar dari berbagai wilayah.
Sebut saja dari warga Kecamatan Glenmore yang memiliki anak balita yang sulit berjalan. Sampai orang tuanya sempat putus asa melakukan pengobatan.
Kemudian setelah berkali kali nangkil, sang anak diajak melukat, lalu sembuh dan bisa berjalan kaki dengan normal.
Uniknya, ada juga kisah seorang hakim yang bertugas di Banyuwangi. Beliau saat memvonis kasus di Banyuwangi sering mengalami pori-pori keluar lumpur, dan sakit.
Tetapi setelah ada petunjuk nangkil dan berobat di Beji Gumuk Kancil ia akhirnya sembuh.
“Kembali ke keyakinan, memang banyak cerita seperti itu, karena ada proses pelukatan dasa mala, sehingga banyak yang sudah membuktikannya,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika