Pura Antaboga ini jaraknya sekitar 35 kilometer dari Kota Banyuwangi, Jawa Timur. Posisinya persis berada di tengah hutan Pinus.
Selain itu, di Pura Antaboga ini terdapat Pohon Tri Murti yang merupakan gabungan dari Pohon Beringin putih, Pohon Bunut dan Pohon Serut.
Pemedek yang nangkil ke Pura Antaboga ini harus rela menelusuri jalan bebatuan dari jalan utama. Sebab memasuki areal hutan pinus yang rimbun.
Kawasan hutan ini dikelola oleh PT Perhutani.
Saat memasuki areal Pura Antaboga suasana sejuk dan indah membuat hati menjadi tenang. Gemercik air yang jernih kian menambah vibrasi spiritual pemedek yang nangkil.
Baca Juga: Pura Dalem Kerangkeng Nusa Penida, Jadi Tempat Menghukum Roh Berdosa
Menariknya, di areal ini tidak hanya merupakan tempat persembahyangan bagi umat Hindu semata.
Tetapi bisa disebut sebagai tempat yang pluralis. Sebab di areal ini juga terdapat Mushola, Patung Bunda Maria, Patung Yesus, Patung Budha, Patung Dewi Kwan Im dan pelinggih Padmasana.
Pemangku Pura Antaboga, Mangku Gimin Pura Antaboga menyebut Pura Antaboga ini terbilang istimewa.
Pohon tiga jenis jadi satu atau yang disebut pohon Tri Murti di pura ini konon merupakan tempat pertapaan Rsi Markandeya, seorang tokoh besar Hindu pendiri Pura Besakih.
Tak hanya itu, di kawasan Pura Antaboga yang masih berupa hutan juga didirikan tempat suci semua agama yang ada di Indonesia.
Maka, pura ini menjadi salah satu simbol keindahan toleransi di Indonesia sekaligus destinasi wisata religi yang tak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Banyuwangi.
Pemangku Pura Antaboga, Mangku Gimin menjelaskan beji di Pura Antaboga ini bermula dari saran dari penekun spiritual dari Bali yang menyarankan agar kawasan ini menjadi tempat suci.
Kemudian tahun 2010 penekun spiritual tersebut sempat melakukan semedi dan mengambil sumber air dari mata Antaboga. Kawasan inipun diyakini memiliki getaran spiritual yang sangat kuat.
Dikatakan Mangku Gimin, wajar saja kawasan ini memiliki vibrasi spiritual yang kuat.
Pasalnya, kawasan ini dulu pernah menjadi tempat bertapa Maha Rsi Markandeya sebelum melanjutkan perjalanan sucinya ke Bali.
Ia menyebut, pura ini dinamakan pura Antaboga karena melihat makna kata Anantaboga yang berarti Ananta tidak pernah habis dan boga berarti makanan.
Jadi Antaboga merupakan makanan yang tiada habisnya.
Menurutnya, semua kehidupan itu di atasnya Ibu Pertiwi. Semua yang hidup di atas itu adalah Ibu Pertiwi atau Antaboga yang tidak akan pernah ada habisnya.
Mangku Gimin tidak menampik jika di areal ini dianggap sebagai simbol toleransi.
Pasalnya tidak hanya tempat suci umat Hindu saja yang ada. Tetapi juga ada Mushola, Patung Bundamaria, Yesus, dan Dewi Kwan Im, Budha dan Padmasan.
Disinggung terkait keberadaan pohon raksasa yang diselimuti kain hitam putih ini, Mangku Gimin tak menyangkal jika Konon di pura inilah menjadi tempat pertapaan Rsi Markandeya.
“Pohon ini ada tiga jenis. Diisebut pohon tri murti. Ada pohon bunut, pohon beringin dan pohon serut. Di dalam pura ini terdapat Lingga Yoni. Hanya saja posisinya tertutup,” katanya.
Umat Hindu yang nangkil untuk sembahyang juga bisa melakukan meditasi hingga sungkem di areal pohon ini. Pujawali di Pura ini bertepatan dengan purnama Kasa.
Umat Hindu yang sembahyang ke pura ini berasal dari berbagai wilayah dari Jawa hingga Bali.
Selain itu, ada sejumlah pelingih di pura ini. Seperti Ratu Gede Dalem Peed, Campuan Tiga, Bunda Ratu, Ibu Pertiwi, Dewa Wisnu, dewi Kwan Im, Budha, dan padmasana. (dik)
Editor : I Putu Mardika