Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pura Maospahit: Pura Unik yang Berbeda dengan Pura Umat Hindu Bali Lainnya, Teruma Soal Mandala-nya

IGA Kusuma Yoni • Minggu, 14 Juli 2024 | 00:00 WIB
Pura Maospahit terletak di Jalan Sutomo, Denpasar.
Pura Maospahit terletak di Jalan Sutomo, Denpasar.

BALIEXPRESS.ID - Beberapa pura Hindu di Bali telah menjadi Warisan Cagar Budaya Nasional, termasuk Pura Maospahit yang terletak di Jalan Sutomo, Denpasar.

Pura ini dilindungi oleh Undang-Undang RI No 5 Tahun 1992 dan merupakan satu-satunya pura dengan konsep Panca Mandala.

Jro Mangku Ketut Gede Sudiasna, pemangku Pura Maospahit, menceritakan bahwa pura yang didominasi oleh arsitektur bata merah ini adalah salah satu peninggalan Sri Kbo Iwa.

"Sri Kbo Iwa dikenal sebagai ahli bangunan pada masanya, sehingga banyak pura peninggalannya masih lestari," jelasnya.

Sejarah Pura Maospahit tercatat dalam Babad Wongayah Dalem, yang menceritakan perjalanan Sri Kbo Iwa dalam membangun pura.

Menurut prasasti tersebut, Sri Kbo Iwa membangun Pura Maospahit pada tahun Saka 1200 (1278 M) dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke wilayah Badung.

Di lokasi Pura Maospahit saat ini, Sri Kbo Iwa membangun Candi Raras Maospahit yang menghadap ke Barat.

Candi Raras Maospahit adalah gedong bata merah besar dan unik dengan dua patung gerabah kuno di pintu masuk pura.

"Gedong Bata masih ada dan menjadi palinggih utama di Pura Maospahit," lanjut Jro Mangku Gede.

Selain itu, di Mandala Utama Pura Maospahit terdapat bangunan candi yang menghadap ke Barat, yang dibangun oleh Raja Kerajaan Bandana (Badung) untuk mendampingi Gedong Candi Raras Maospahit.

Raja mengutus I Pasek untuk mengambil ukuran gedong candi di Majapahit, dan setelah berhasil, gedong candi Majapahit dibangun di sebelah Candi Raras Maospahit.

Hingga kini, peninggalan Sri Kbo Iwa dapat dilihat di Pura Maospahit dengan dua palinggih utama di Mandala Utama Pura Maospahit, yaitu Gedong Bata Merah yang menghadap ke Barat (Candi Raras Maospahit) dan kembarannya yang menghadap ke Selatan (Candi Raras Majapahit).

Di depan agak ke selatan terdapat Sanggar Kabuyutan, sementara Salu Kembar ada di area sebelah Timur penyengker Mandala utama Pura Maospahit.

Jro Mangku Gede menjelaskan bahwa yang dipuja di Pura Maospahit adalah Ratu Ayu Mas Maospahit di Candi Raras Maospahit dan Ida Bhatara Lingsir Sakti di Candi Raras Majapahit.

Pujawali di Pura Maospahit dilaksanakan dua kali dalam setahun, yaitu pada hari Purnama Jyesta dan Purnama Kalima.

"Upacara dan upakara di Pura ini disesuaikan dengan tradisi di Kota Denpasar, namun pelaksanaannya sangat sederhana," jelas Jro Mangku Gede.

Keunikan lain dari Pura Maospahit adalah konsep Panca Mandala yang mengadopsi struktur pertahanan kerajaan Majapahit, dengan pura di tengah yang mendapat perlindungan dari keempat arah mata angin.

Bagian Panca Mandala ini meliputi:

1.  Mandala Pertama di depan dengan pintu gerbang Candi Kusuma yang menghadap Jalan Sutomo.

2.  Mandala Kedua di sebelah selatan pura yang berupa gang menuju Candi Renggat di sebelah Barat pura.

3.  Mandala Ketiga atau Jaba Sisi di sisi barat yang bisa diakses melalui Candi Rebah dari gang di selatan. Fungsi utama Mandala ini adalah sebagai dapur utama untuk menyiapkan sesajen saat pujawali.

4.  Mandala Keempat atau Jaba Tengah yang diakses dari Jaba Sisi melalui Candi Bentar di sebelah timur. Di Mandala ini terdapat bangunan suci seperti Bale Pesucian, Bale Tajuk, dan Bale Sumanggen yang berfungsi sebagai wali kesenian sakral.

5.  Mandala Utama di tengah yang diakses melalui Jaba Tengah dengan pintu kori agung berarsitektur bata merah dengan relief kuno. Di Mandala Utama terdapat dua bangunan utama, yaitu Candi Raras Maospahit dan Candi Raras Majapahit, serta bangunan lainnya. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Wongayah Dalem #hindu #denpasar #sejarah #pura maospahit #mandala #babad