Beberapa pelinggih di Pura Agung Kentel Gumi memiliki keunikan tersendiri yaitu pelinggih Ratu Pancer Jagat, dan pelinggih Pertiwi.
Keunikan nilai simbol Pelinggih Ratu Pancer Jagat karena bentuknya sangat sederhana dan berada di depan pelinggih meru tumpang solas.
Pemangku Pura Agung Kentel Gumi, Jero Mangku Made Kukuh menjelaskan, pelinggih dengan satu kaki dengan batu pipih pada dasarnya ini sebagai simbol lingga-yoni perlambang simbol laki-laki dan perempuan serta simbol positif dan negatif kekuatan hidup.
Simbol ini diyakini sebagai penanda kesuburan di bumi.
Baca Juga: Umat Hindu Wajib Tahu! Pura Agung Kentel Gumi bekonsep Tri Guna Pura, Begini Maknanya
Pelinggih Pancer Jagat adalah cikal bakal awal berdirinya Pura Agung Kentel Gumi di Klungkung oleh Mpu Kuturan sehingga usianya diperkirakan telah lebih dari 500 tahun.
“Pelinggih tiang pancer ini sebagai penanda agar menjadi pancer jagat, sehingga menjadi teteg,” paparnya.
Pelinggih unik lainya adalah pelinggih dasar atau pertiwi. Areal ini dibatasi tembok/penyengker yang pintu masuk dan keluar/pamedalnya menghadap ke utara.
Sebagai ciri simbol budaya pada pelinggih pertiwi ini berwujud arca ibu pertiwi sebagai lambang Dewi Basundari.
Pelinggih ini erat kaitannya dengan Pura Dasar Buana Gelgel yang merupakan purusa dan pradana-nya kahyangan di Klungkung.
Selain itu, adanya lingga perunggu dan batu di dalam pelinggih meru tumpang solas dan menhir dari masa klasik.
Dari sekian banyak benda purbakala, selain pelinggih pancer jagat, arca batu dengan wujud catur muka yang merupakan perwujudan dari Dewa Brahma memiliki keunikan dengan perletakan arca catur muka termasuk unik dan tidak biasa.
Arca catur muka maupun arca-arca perwujudan Dewa Ganesha dan lingga yang dalam konsep Hindu merupakan perwujudan Dewa Siwa.
Lingga bagian atas berbentuk bulat, bagian tengah berbentuk segi delapan dan bagian bawah berbentuk segi empat.
Pada bagian silindris lingga batu tanpa goresan replika lingga sedangkan bagian depan silindris lingga perunggu berisi goresan replika lingga.
Ia menambahkan, sebagai konsep Tri Guna Pura, keberadaan Pura Agung Kentel Gumi tidak boleh dilupakan oleh pejabat negara yang memimpin jagat Bali. Baik sebagai Bupati maupun sebagai Gubernur.
Sebab, jika sampai dilupakan, maka tentu diyakini akan membawa dampak negatif bagi Jagat Bali.
"Siapapun kalau menjabat di Bali tidak boleh sampai lupa dengan Pura Agung Kentel Gumi, karena tentu jika ingin jagat tentram, maka tidak boleh dilupakan," tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika