Hal ini dilakukan oleh Pasaraman Sastra Kencana yang berlokasi di Banjar Tegak Gede, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali.
Pinihsepuh Pasraman Sastra Kencana, Jro Nabe Budiarsa menjelaskan, umat Hindu yang nangkil untuk melakukan Penglukatan Rangda Tiga melalui sejumlah prosesi.
Pertama, pasien dipakaikan kain berwarna merah yang sudah berisi tulisan atau rerajahan. Kemudian disiram dengan tirta khusus.
Bahkan, pasien bisa pingsan di tengah proses penglukatan yang terus dilaksanakan sembari diucapkan mantra Sastra Dasa Aksara dan Kanda Empat.
Jro Nabe Budiarsa lanjut mengatakan kain merah yang berisi rerajahan itu bertujuan untuk melebur, ngeseng dan memusnahkan penyakit.
Sedangkan untuk kain putih kegunaan mencabut dan membersihkan atau menyucikan jasmani, jadinya kain merah untuk keseimbangan jasmani dan kain putih untuk keseimbangan rohani.
Usai pasien dilukat ia langsung sadar malah ingin tersenyum.
Baca Juga: Lahir di Wuku Rangda Tiga, Ini Alasannya Kenapa Perlu Penglukatan Rangda Tiga
Dikatyakan Jro Nabe Budiarsa hal itu terjadi karena roh yang asli bisa masuk ketubuhnya sesudah itu kekuatan durga yang ada di dalam tubuh (Tri Durga Wisesa) atau Rangda Tiga dimana Beliau sudah berubah fungsi tidak lagi memiliki sifat negatif, jahat dan emosi tapi menjadi bersifat kasih.
“Setelah dilukat, maka sifat negatif itu cenderung berubah menjadi sifat kasih, seperti halnya sebuah kotoran dirumah di permentasi menjadi pupuk, dan setelah di prosesi maka kerejekian itu bisa berlipat ganda sehabis ini silahkan diuji kerejekiannya,” paparnya.
Ia menambahkan, pemedek yang melakukan penglukatan Rangda Tiga disarankan untuk tetap tenang dalam menjalani proses melukat.
"Jangan gugup, jangan takut. Supaya kekuatan Durgha tidak frontal. Karena kalau tahu Beliau mendapatkan kekuatan yang positif, tentu tidak akan dihalangi. Sehingga itu yang membuat orang yang dilukat akan menjadi senyum" imbuhnya.
Menurutnya, aura positif setelah dilukat Rangda Tiga maka akan menunjukkan hal positif dan bisa dibuktikan oleh orang terdekatnya. Baik suami, atau istrinya.
"Perubahannya pasti akan dirasakan oleh orang-orang terdekatnya. Apakah sikapnya awalnya pemarah, emosi, menjadi lebih ke kasih, kemudian rejekian dan lebih bersahaja," tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika