Pura ini bahkan didatangi perahu secara niskala saat pujawali.
Pura ini berada di tengah Hutan Bakau yang masih terjaga kesariannya.
Selain itu, ada bangunan pelinggih berupa perahu di Pura ini. Perahu ini erat kaitannya dengan kisah I Renggan dalam Babad Nusa.
Dalam Babad Nusa Penida menyebutkan ketika perahu I Renggan hendak menabarak membelah pulau Bali, maka Hyang Giri Toh Langkir dengan kekuatan adnyananya (kekuatannya) menyerukan angin kencang
Sehingga perahu I Renggan tidak mampu menghadapi gelobang tinggi di tengah laut. Akibatnya, I renggan terdampar di Nusa Cenik.
Layar perahu I Renggan ngelembong kea rah barat menjadi Nusa Lembongan Jungut Batu. Jungut Batu artinya jungut merupakan ujung layar dan batu adalah pulau.
Pengempon Pura Gili Maya, Mangku I Wayan Sarmin mengatakan Pura Gili Maya Taman Sari erat dengan perjalanan para leluhurnya yang dahulu sempat terkena wabah penyakit.
Mereka berupaya berobat hingga ke Bali. Meskipun sudah mencari mantri, namun tidak kunjung sembuh
Kondisi inilah rupanya ada pawisik, agar mereka melaksanakan ngayah di Pura Gili Maya Taman Sari. Dikatakan Mangku Wayan Sarmin, di pura ini ada sebuah tirta yang muncul di tempat Padma rong tiga atau sumur Gili Maya Taman Sari
“Di lokasi inilah tirta muncu dari tanah. Ajaibnya, air tidak asin melainkan tawar.
Meskipun berada dekat dengan Pantai. Inilah sebuah keajaiban,” katanya.
Disinggung terkait keberadaan pelinggih perahu di Pura Gili Maya Taman Sari, ia menyebut di pura ini sebagai tempat bersandarnya perahu para subandar pada masa lampau.
Saat pujawali, di Pura Gili Maya akan bersandar beberapa perahu secara niskala, melalui jalur loloan di mangrove. “Perahu identik dengan kisah I Renggan dan dalem Nusa,” paparnya.
Ia menambahkan, Umat Hindu sebelum nangkil ke pura disarankan untuk melukat di pura mumbul di areal pura Taman Sari.
Sehingga penangkilan semakin lengkap dengan proses pembersihan menggunakan tirta pingit.Tidak jarang ada yang menggunakan tirta pingit ini sebagai obat.
Pujawali di pura ini dilaksanakan pada Anggarkasih Julungwangi setiap enam bulan sekali. Saat pujawali, dilaksanakan dengan memohon tirta di Penataran Peed.
Pura ini juga ada kaitannya dengan pura Goa Raja. Ada juga suara gong gaib saat hari keramat,
Di pura ini, ada sejumlah pelinggih. Pertama Pelinggih Padma sebagai Dalem Semaya. Ada juga pelinggih Perahu sebagai stana Juru Menega dan sebagai pengayatan Dewa Baruna.
Kemudian di Padma Tiga stana Sang Hyang Tri Purusa. Sedangkan Padma Semaya sebagai Prajapati
Di Pura Gili Maya Taman Sari juga terdapat tapakan Rangda berambut putih dan berambut hitam. Selain itu juga ada Sang Hyang Jaran berwarna merah dan putih.
Keberadaan tapakan dan sang hyang Jaran ini erat kaitannya dengan sekeha kesenian di Jungutbatu.
Dikatakan Mangku Sarmin, pada tahun 1970 an para penglingsir membentuk Sekeha Drama Gong dengan adanya Rangda Berambut Putih dan Sekeha Sang Hyang Jaran.
Sehingga terbentuknya sekeha seni pada saat itu. Namun, lambat laun, karena kendala regenerasi, sehingga sekeha itu tidak jalan dan tapakan Rangda dan Sang Hyang Jaran distanakan di Pura Gili Maya Taman Sari.
“Karena tidak adanya sekeha, sehingga rangda dan jaran disakralkan di Pura Taman Sari dan bergelar ratu lingsir. Kemudian distanakan lagi rangda berambut hitam bergelar Ratu Anom. Sedangkan sang hyang jaran yang berjumlah dua, putih dan merah bergelar Oncesrawa. Sehingga di Pura Gili Maya Taman Sari terdapat sungsungan dua rangda dan dua tapakan Sang Hyang Jaran,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika