Pura Prapat Nunggal merupakan pura yang dapat di kunjungi oleh seluruh umat beragama yang berbeda-beda.
Pada Pura Prapat Nunggal terdapat Pelinggih dari Kanjeng Ratu Kidul yang berada di areal Nista Mandala.
Tidak sulit mengakses Pura Prapat Nunggal. Pura ini jaraknya sekitar 1 kilometer sebelah selatan Indonesia Power Banjar Pesanggaran, atau sekitar 0,5 kilometer sebelah barat pintu masuk jalan Pelabuhan Benoa.
Pura ini hanya memiliki luas sekitar 4,5 are. Pura ini memiliki struktur Tri Mandala, dari areal Nista, Madya dan Utama Mandala.
Salah satu keunikan pura ini adalah dapat dikunjungi umat yang non Hindu.
Pemucuk Pura Prapat Ninggal, I Wayan Joni, menjelaskan jika dirinya ngayah sejak tahun 2002. Berdasarkan penjelasan para penglisngsirnya, pura ini sudah ada sejak dulu.
Tetapi prapat nunggal itu ada di dalam hutan, jauh ke dalam sekitar 200 meter.
“Nama Prapat Nunggal dikenal sangat magis dan menakutkan. Dulu, orang yang mendengar kata Prapat Nunggal sudah takut karena dianggap bernilai magis. Sehingga dikenal dengan angker,” sebutnya.
Awal pemujaan pura prapat nunggal mulai dari Beji. Dari Beji awalnya adalah Sanggar Agung, sebagai pengayengan ke Prapat Nunggal.
Lambat laun, semakin berkembang dan ramai didatangi pemedek.
“Pedagang di pasar Sanggal Denpasar banyak yang nangkil ke Pura. Banyak penari melukat untuk nunas taksu. Di Prapat Nunggal ada pesimpangan Ida Pranda Sakti perjalanan dari Sakenan menuju Peti Tenget. Disanalah beliau beristirahat dan nginang,” jelasnya.
Di Pura Prapat Nunggal terdapat juga Pelinggih Simpang Empat yang berbentuk patung Budhha Catur Muka atau Maha Brahma yang berada di Areal Madya Mandala.
Pelinggih ini dicat dengan dominasi warna merah keemasan.
Uniknya, pemedek bisa melaksanakan persembahyangan dari empat sisi Pelinggih Catur Muka atau Maha Brahma dengan berbagai permohonan.
Baca Juga: Nangkil ke Pura Luhur Muncaksari Tabanan, Pemedek bisa Peroleh Paica Manik Galih sebagai Jejaton
Bahkan, di tiap sisi sudah diisi tulisan yang menyebutkan permohonan itu. Baik dari sisi depan, sisi belakang, sisi kanan dan sisi kiri.
Semuanya menunjukkan berbagai hal yang berbeda, mulai urusan jodoh, karir, rejeki, hingga kehidupan sosial.
Sebut saja jika persembahyangan dari belakang, maka umat Hindu bisa memohon keselamatan, ketentraman, kerukunan, damai, dijauhkan dari segala penyakit, mara bahaya, panjang umur, dan kesembuhan untuk yang sakit.
Sedsangkan pada sisi kiri, pemedek bisa memohon kepada Maha Brahma berupa segala hal yang sifatnya kebaikan, diberikan keselamatan di perjalanan, ujian lulus, kebijaksanaan, mengusir segala kemalangan dan kesialan.
Kemudian pada sisi belakang, pemedek bisa memohon rejeki untuk dagang yang lancar, usaha berkembang, naik gaji dan pangkat, menang tender, kemakmuran, jual rumah, dan urusan utang piutang.
Selanjutnya pada sisi kanan, pemedek bisa mengucapkan doa dengan permohonan berupa jodoh yang baik untuk pergaulan di masyarakat, wibawa dalam memimpin, masalah masalah dalam perkawinan agar cepat selesai, masalah dengan teman baik dan sebagainya.
“Banyak pemedek yang nangkil agar rejeki dilancarkan, usaha dan bisnis berjalan lancar, jodoh, Kesehatan dan hubungan asmara dimudahkan,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika