Uniknya, pujawali dilaksanakan umat Hindu ini dalam sekala alit (kecil) dan ageng (besar).
Penguger atau Kelian Pura I Putu Suma Artha Pujawali dilaksanakan setiap Anggarakasih Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Hari Raya Galungan. Piodalan dibagi dua, yakni piodalan alit dan ageng (besar).
“Yang agung setahun sekali. Sedangkan yang alit atau kecil dilaksanakan setiap enam bulan sekali atau 210 hari,” jelasnya.
Selain pujawali, di Pura Ulun Danu Beratan juga dilaksanakan upacara Magpag Toya saat Purnama Sasih Kepitu.
Tujuannya memohon kemakmuran. Upacara Pakelem dilaksanakan setiap lima tahun sekali dengan sakal cukup besar.
Baca Juga: Populer jadi Tempat Wisata Dunia, Pura Ulun Danu Beratan Jadi Tempat Ritual Penting di Bali
“Kalau acara mapag toya ini selalu menjadi daya Tarik wisatawan untuk disaksikan, karena ramai pemedek yang nangkil,” sebutnya.
Upacara ini merupakan ungkapan terima kasih masyarakat atas anugerah yang sudah diberikan baik berupa kemakmuran, keselamatan dan hasil panen yang berlimpah.
Upacara ini umumnya juga diikuti oleh Krama Subak.
Ditambahkan Suma Artha di Pura Ulun Danu Beratan juga dilaksanakan upakara Tawur Agung Balik Sumpah Parisuda Bumi.
Ritual Pemahayu Jagat ini dilaksanakan tahun 2022 silam.
Upakara Pamahayu Buana Tawur Balik Sumpah Utama di pura ini dilaksanakan karena melihat situasi dan kondisi saat ini di Bali.
Selain itu, ritual ini dilaksanakan karena di Bali sering terjadi bencana alam sebelumnya seperti banjir bandang, pohon tumbang termasuk Covid-19 yang melanda dunia hingga tiga tahun.
Pura Kahyangan Jagat ini diempon oleh 4 (empat) Gebog Pesatak (Gebog Pesatak Candikuning, Gebog Pesatak Baturiti.
Selain itu juga diempon oleh Gebog Pesatak Antapan, dan Gebog Pesatak Bangah) yang terdiri dari 12 (dua belas) Desa Adat, 6 (enam) Desa Pamaksan dan 2 (dua) Pengayah Pelinggih yaitu Pande Bayan dan Pande Marga yang ada di Kawasan Bali Tengah. (dik)
Editor : I Putu Mardika