Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Arca Da Tonta di Pura Pusering Jagad Desa Trunyan Sangat Disakralkan, Dihormati dengan Tarian Barong Brutuk

I Putu Mardika • Rabu, 24 Juli 2024 | 04:11 WIB

Barong Brutuk penghormatan terhadap Arca Da Tonta yang berstana di Pura Pancering Jagad, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli
Barong Brutuk penghormatan terhadap Arca Da Tonta yang berstana di Pura Pancering Jagad, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli
BALIEXPRESS.ID-Di pura Pancering Jagat, Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani Bangli, Bali ini terdapat bangunan suci meru yang bertumpang tujuh. Di dalam meru tersimpan sebuah area batu megalitik setinggi kurang lebih 4 (empat) meter yang oleh masyarakat trunyan sangat disakralkan.

Jero Penyarikan Desa Adat Trunyan, I Nyoman Lilin Area tersebut dikenal dengan nama Arca DaTonta.

Tempat berstananya Ratu Gede Pancering Jagat di bangunan meru tumpang tujuh. Meru tumpang tujuh tersebut dianggap sebagai simbol lelaki (purusa).

Simbol perempuan (predana) ada pada pelinggih Ida Ratu Ayu Dalem Pingit berupa bangunan meru tumpang tiga yang dilengkapi dengan lambang sebuah lobang yang tak dapat diukur dalamnya.

Simbol purusa(laki-laki) dan pradana (perempuan), menurut kepercayaan masyarakat trunyan dan orang Bali lainnya merupakan simbol kesuburan.

Baca Juga: Sejarah Desa Trunyan: Legenda Putri Betara Kehen yang Diperistri Ratu Sakti Pancering Jagat

“Di Desa Trunyan juga mempunyai keunikan lain yakni, tari Barong Brutuk, yang dipercayai penjelmaan dari Ratu Gede Pancering Jagat,” paparnya.

Konon arca tersebut adalah piturunan atau diturunkan dari langit oleh dewa. Alkisah pada suatu hari ada seorang petani Desa Trunyan yang berburu kijang. Petani tersebut membawa anjingnya dalam berburu itu.

Tiba-tiba si anjing menyalak dengan hebatnya. Rupanya si anjing menjumpai sebuah arca batu yang menyembul di semak-semak.

Namun si petani menemui kesulitan saat hendak mencabut arca tersebut. Untuk itu keesokan harinya masyarakat Desa Trunyan berama-ramai menyaksikan arca aneh itu.

Uniknya arca itu tumbuh semakin lama semakin tinggi, sampai setinggi empat meter.

Arca tersebut kemudian dibuatkan sebuah Meru Tumpang Pitu. Selanjutnya, disekitar itu lalu dibangun kompleks pura yang kini dikenal sebagai Pura Pancering Jagad seperti tersebut di atas.

Guna menghormati Bhaṭara Da Tonta itu setiap kali diselenggarakan upacara, ditarikanlah sebuah tarian suci yang disebut sebagai tarian Barong Brutuk.

Baca Juga: Sejarah Desa Trunyan Kintamani: Berawal dari Sosok Dewi yang Mencari Bau Harum, Menghina Matahari dan Hamil

Tarian ini ditarikan oleh para pemuda Desa Trunyan yang belum menikah atau daa taruna.

Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng suci dan pakaian yang terbuat dari kraras atau daun pisang kering.

Para penari itu kemudian akan menari berkeliling pura sambil membawa pecut atau cemeti. Warga desa yang terkena cemeti itu akan merasa beruntung, karena akan disembuhkan dari penyakitnya. 

Begitu pula dengan kraras. Daun pisang kering yang menjadi pakaian tarian suci itu apabila terjatuh akan menjadi rebutan para warga, karena diyakini mengandung tuah yang akan mendatangkan rezeki yang berlimpah. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#desa trunyan #bali #barong brutuk #Kintamani #bangli #pura #Arca Da Tonta #sejarah