Sejarah Desa Pegayaman yang memiliki toleransi yang tinggi antara umat Hindu dan Muslim dalam masyarakatnya yang multikultur. Selain itu, akulturasi budaya di Desa Pegayaman sangat kuat, baik dari sisi bahasa, hingga tradisi ngejot saat hari raya keagamaan.
Tokoh Masyarakat Pegayaman, Ketut Muhammad Sohartio menjelaskan nama Desa Pegayaman dapat dipaparkan dari dua versi. Versi pertama diambil dari nama sejenis tanaman keras (Gatep dalam bahasa Bali) yang dalam bahasa Jawa di sebut Gayam.
Karena dulunya desa Pegayaman berupa hutan Gatep atau Gayam. Versi ke dua diambil dari nama sejenis keris Gayaman yang ada pada jaman kerajaan Mataram (sekarang keraton Surakarta) karena leluhur Pegayaman berasal dari Belambangan.
Sejarah Desa Pegayaman tidak bisa lepas dari pemimpin Raja Buleleng bernama Anglurah Kibarak Panji Sakti.
Beliau seorang sosok pemimpin yang arif dan bijaksana, beliau berwawasan sangat luas, kreatif dan pro aktif, cerdas dan nasionalis, kepemimpinannya demokratis bernuansa budaya dan spiritual, serta menghargai perbedaan (Bhineka Tunggal Ika).
"Bahwa Panji Sakti itu diberikan isyarat mencari orang Islam agar direkrut dijadikan tentara di Kerajaan Buleleng. Orang Pegayaman saat itu dikenal dengan Kumpi Bukit orang yang sutindih terhadap Kerajaan Buleleng," jelasnya.
Dalam menyikapi penduduk Buleleng yang multi budaya, Anglurah Kibarak Panji Sakti menghadapinya dengan menerapkan lima sistem yaitu kepekaan sosial yang tinggi, toleransi, keterbukaan, memberi tanggung jawab dan meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
Dengan mengimplementasikan lima konsep dasar kepemimpinan ini, wilayah kerajaan Buleleng bisa aman dan sejahtera. Dalam Babad Buleleng dijelaskan bahwa penduduk desa Pegayaman berasal dari Jawa Blambangan.
Keberadaannya di Buleleng adalah mengantarkan atau mengiringi keberangkatan Raja Buleleng dengan mengendarai Gajah ke Blambangan selanjutnya ke Bali.
Sebagai tanda persahabatan maka Raja Buleleng (Anglurah Kibarak Panji Sakti) diberikan hadiah berupa se-ekor gajah yang ditempatkan di Banjar Jawa, sampai sekarang wilayah ini bernama Banjar Jawa.
Banjar Petak sebagai tempat petakan kandang gajah sedangkan banjar Peguyangan adalah tempat berkubangnya (meguyang: bahasa Bali) gajah.
Suatu ketika orang-orang jawa yang ada di Banjar Jawa dipindahkan ke selatan dari kerajaan Buleleng, yaitu sebuah perbukitan yang penuh dengan pohon Gatep atau Gayam dalam bahasa Jawa dengan mengemban tiga tugas pokok.
Sewaktu-waktu disiapkan untuk invasi ke Bali Selatan, persiapan menghadapi musuh kalau ada penyerbuan ke Buleleng dari Bali Selatan dan sebagai tameng atau tapal batas kerajaan Buleleng bagian Selatan.
Terkait dengan tugas tersebut maka pada Tahun 1711 masehi terbukti ada penyerbuan besar-besaran dari raja Mengwi ke Buleleng.
Hal ini di dengar oleh pasukan Pegayaman dan langsung menghadang di Desa Gitgit dan pasukan musuh dapat dipukul mundur sampai di Pancasari (Benyah dahulu), kemudian menyusul pasukan Taruna Goak dari desa Panji bergabung dengan pasukan Pegayaman di Desa Benyah atau Pancasari (sekarang).
"Pegayaman sebagai sendi pertahanan di wilayah selatan Kerajaan Buleleng," paparnya.
Musuh terdesak sampai di Taman Tanda dan akhirnya pasukan Mengwi menyerah kalah. Sekitar tahun 1850 masehi terdamparlah sebuah kapal di pantai Buleleng (Kampung Bugis), kapal tersebut adalah rombongan dari raja Bone Sulawesi yang hendak pergi ke Jawa dan Madura.
Selanjutnya rombongan tersebut menghadap Raja Buleleng dan diterima serta ditawarkan untuk bergabung di desa Pegayaman.
Salah satu prajurit dari Jawa yang kawin dengan seorang perempuan dari lingkungan keluarga Raja Buleleng, sebagai tanda adanya pembauran budaya di Desa Pegayaman.
Di Desa pegayaman terdiri dari tiga suku yaitu suku Jawa, Suku Bali dan Suku Bugis yang hidup berdampingan dengan rukun dan suka bergotong royong.
Selain memiliki Sejarah yang panjang, meski penduduknya mayoritas beragama Islam, mereka juga mengdopsi tata nama seperti orang Bali.
Sistem penamaan diri masyarakat muslim Pegayaman menggunakan urutan kelahiran yakni Wayan, Nengah, Nyoman dan Ketut layaknya orang Hindu Bali.
"Anak pertama diberikan nama Wayan, anak kedua disematkan nama Nengah, anak ketiga disematkan nama Nyoman dan anak keempat diberikan nama awal Ketut," singkatnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika