Namun, siapa sangka, proses mewujudkan pura megah seluas 1,4 hektar ini membutuhkan waktu yang tidak singkat di tengah keterbatasan dana. Konon, dalam catatan sejarah, tanah di areal pura ini berbau wangi, sehingga dijadikan sebagai tempat suci.
Kemegahan Pura Mandara Giri Semeru Agung memang semegah namanya. Posisinya persis berada di pinggir jalan.
Candi Waringin Lawang yang merupakan bangunan khas Kerajaan Majapahit dengan warna merah bata nampak megah dan kokoh di pintu masuk pura. Suasana hijau nan asri begitu terasa saat menginjakkan kaki di areal pura ini.
Namun, ketika kaki lebih jauh melangkah masuk ke areal madya mandala dan utama mandala, rupanya asristektur Bali begitu kental.
Mulai dari candi bentar, wantilan jejeran pelinggih dan wantilan. Semua mengikuti arsitektur Bali. Maklum, pura ini diarsiteki oleh Ir. Nyoman Gelebet.
Ketua PHDI Lumajang, Jawa Timur, Edy Sumianto, 50 menjelaskan jika Umat Hindu di kawasan Semeru sejatinya sejak 1969 silam berangan-angan bisa mendirikan pura di lambung timur Gunung Semeru.
Impian itu seolah begitu sulit diwujudkan. Ijin pendirian tak mudah didapat. Dana pembangunan tidak gampang dikumpulkan. Terlebih kondisi ekonomi umat Hindu di kawasan Semeru kala itu masih kekurangan.
Gayung bersambut. Impian umat Hindu di Semeru memiliki pura rupanya mendapat respon dari tokoh Hindu di Bali yang kala itu nuur tirta ke Petirtaan Watu Klosot di kaki Gunung Semeru.
Tirta itu terkait Karya Agung Eka Dasa Rudra di Pura Besakih, Karangasem pada tahun 1979.
Pembangunan pura di Kaki Gunung Semeru diwacanakan oleh penglingsir Puri Agung Ubud Ida Tjokorda Gede Sukawati (sudah lebar).
Bahkan wacana itu muncul sejak tahun 1963. Pertimbangannya, karena kerap umat Hindu di Bali nuur Tirtha ke Petirtaan Watu Klosot di Kaki Gunung Semeru untuk digunakan saat upacara berskala besar di Bali.
Dimana perjalanan jauh yang ditempuh dari Bali ke Semeru hingga memakan waktu selama 11 jam, kerap membuat pemedek bermalam di kawasan Lumajang.
Persoalannya, karena pemedek nangkil sembari nuur tirta, maka tentu harus ada tempat suci sebagai tempat untuk menstanakan tirta sementara waktu.
“Dengan dasar itu, maka dipandang perlu untuk membangun pura di kawasan Semeru. Apalagi Gunung Semeru sebagai Gunung Tertinggi di tanah Jawa sanagt disucikan. Bahkan sudah diungkap dalam susastra Negara Kertagama,” terang Edy.
Waktu berjalan. Tahun 1986 niat umat di Semeru mewujudkan pura kembali membuncah. Tepat setelah PHDI Kabupaten Lumajang terbentuk. Bahkan pembangunan pura di kawasan Semeru sebut Edy menjadi program kerja PHDI Lumajang.
Awalnya bukan pura yang dibangun. Tetapi sekertariat parisada Kabupaten lumajang. Kemudian kedatangan tokoh-tokoh dari Bali yang hendak ke Petirtaan Watu Klosot untuk mendak tirta serangkaian dengan upacara di Besakih dimanfaatkan bertemu dengan para tokoh Hindu di Lumajang.
Dalam pertemuan itu kemudian ada kesepakatan jika tokoh dari Bali siap membantu mewujudkan pembangunan pura di Kabupaten Lumajang.
Terlebih hubungan Bali dan Lumajang sangat erat. Pasalnya keberadaannya Gunung Semeru kerap dikaitkan dengan cerita Kuno di Tantu Pagelaran.
Konon disebutkan bahwa Gunung Semeru adalah potongan dari Gunung Mahameru di India yang dipindahkan ketika Pulau Jawa belum stabil.
Pun demikian ketika Bali belum stabil, konon ujung Gunung Semeru juga dibawa ke Bali dan menjadi Gunung Agung dan Gunung Batur bahkan hingga ke Lombok yaitu Gunung Rinjani.
“Atas dasar itulah, tokoh di Bali sepakat untuk membantu. Sehingga ketika ada nuhur tirta di Watu Klosot dan akan dibawa ke Bali maka tirta terlebih dahulu distanakan di Pura Lumajang,” imbuhnya.
Kendati sudah ada kesepakatan, namun pembangunan pura tak serta merta langsung bisa dilakukan.
Semula, pura direncanakan hendak dibangun di Desa Ngandangan. Namun belum terwujud lantaran lokasinya dinilai tidak cocok.
Bahkan ada beberapa lokasi yang muncul sebagai alternatif pendirian pura. Yakni Desa Kertosari dan Senduro.
“Dari ketiga lokasi itu sempat ditolak. Misalnya lokasi di Desa Kertosari sempat ditolak umat karena sering menjadi jalur lahar Gunung Semeru. Kemudian di Desa Ngandangan karena terkendala akses jalan. Sedangkan di Senduro (agak bawah, Red) lokasinya sempit,” bebernya.
Hingga akhirnya disepakati, di Desa Senduro bagian atas yang menjadi lokasi tetap Pura Mandara Giri Semeru Agung dengan luas areal awalnya 20x60 meter.
Sesuai pawisik, bahwa bau tanah di areal pura ini berbau wangi. Lahan ini dibeli dari dana punia donatur dan umat Hindu di Lumajang. Ijin pembangunan diajukan kembali dan turun tiga tahun kemudian.
Pura dibangun bertahap. Setelah batu bata dibeli, padmasana kemudian dibangun, menghadap ke timur. Anehnya, tidak bisa dituntaskan. Kemudian posisi digeser agak ke utara dengan tetap menghadap ke Timur.
Namun tetap tidak bisa dituntaskan. Hingga akhirnya umat mendapat pawisik agar padmasana dihadapkan ke seleatan. Sejak itulah pembangunan lancar dan punia mengalir dari umat Hindu di Bali maupun di luar Bali. Arsitekturnya Nyoman Gelebet,” bebernya.
Pembangunan Pura Mandara Giri Semeru Agung sebut Edy kian lancar setelah rombongan dari Bali yakni Penglingsir Puri Ubud Tjokorda Gde Agung Suyasa (sudah lebar) bersama Jro Gede Batur Alitan, Mangku Suwca dari Besakih, tahun 1989 ketika nuur tirta ke Semeru.
Rombongan kemudian bertemu tokoh dari Semeru untuk membahas rencana pengembangan pura.
Kemudian bertepatan Hari Minggu Umanis, Wuku Menail, tepatnya 8 Maret 1992 yang dipimpin delapan pendeta, digelarlah untuk pertama kalinya upacara melaspas Alit dan Mapulang Dasar Sarwa Sekar.
Selanjutnya pada Purnama Sasih Kasa, tepatnya 3 Juli tahun 1992 dilaksanakan upacara besar berupa pamungkah agung, ngenteg linggih dan pujawali. “Setelah itu pula ditetapkan sebagai Pura Kahyangan Jagat,” jelasnya
Lalu apa makna nama Mandara Giri Semeru Agung? Dikatakan Edy, terkait penamaan awalnya pura ini hanya bernama Mandara Giri saja. Namun, ada seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar kemudian kerauhan selama tiga hari pada tanggal 15-17 Desember 1992.
Dalam pawisik, anak itu meminta agar Pura Mandara Giri ditambahkan kata “Semeru Agung”. “Yang berstana di Padmasana Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah Hyang Siwa Pasupati. Pujawalinya setiap Purnama Sasih Kasa. Penyungsungnya di Lumajang sekitar 7.160 umat Hindu. Biasanya selama nyejer 11 hari saat pujawali bisa mengumpulkan dana punia hingga Rp 1 miliar,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika