Rupanya, sejarah berdirinya Desa Banjar tak lepas dari tokoh Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade yang juga sebagai pendiri Geriya Gede Banjar.
Koran Bali Express (Jawa Pos Group) pun berusaha menelusuri sejarah berdirinya Desa Banjar dari Ida Bagus Wika Krishna yang merupakan generasi kelima Pemimpin perang Banjar, Ida Made Rai.
Gus Wika, sapaan akrab Ida Bagus Wika Krishna menuturkan jika berdirinya Desa Banjar tidak dapat dipisahkan dari sosok Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade. Lewat beliaulah hutan ilalang dirabas menjadi pemukiman yang kini dikenal sebagai Desa Banjar.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), mantan Pembimas Hindu DIY Yogyakarta menceritakan berdasarkan penuturan para pendahulunya, jika sejarah terbentuknya desa Banjar sebagai ibu kota Buleleng Barat atau Nagari Banjar tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya kerajaan Buleleng oleh Ki Gusti Ngurah Panji Sakti atau yang lebih populer dengan sebutan Ki Barak Panji Sakti.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti merupakan keturunan dari Dalem Sagening, dari seorang ibu yang bernama Ni Luh Pasek yang berasal dari Desa Gobleg.
Berdirinya Kerajaan Buleleng yang diperkirakan sekitar tahun 1604 Masehi inilah memiliki korelasi dengan Danghyang Wiragasandhi. Dimana salah satu putranya, yakni Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade menjadi cikal bakal berdirinya Desa Banjar.
Pasca berdirinya kerajaan Buleleng yang dipimpin oleh raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, kerajaan Kelungkung sebagai sesuhunan Bali-Lombok dipimpin oleh raja I Dewa Pemayun atau yang lebih populer dalam masyarakat Bali dengan sebutan Dalem Bekung.
Pada masa pemerintahan I Dewa Pemayun, didampingi oleh seorang purohita yang bernama Danghyang Wiraga Sandhi.
Beliau merupakan putra tertua dari Danghyang Nirartha. Dalam beberapa catatan sejarah dan babad, pemerintahan I Dewa Pemayun rupanya tidak berjalan dengan baik.
Bahkan, cenderung tidak sejalan dengan pemikiran Danghyang Wiraga Sandhi sebagai penasehat spiritualnya.“I Dewa Pemayun dengan Dang Hyang Wiraga Sandi tidak memiliki kecocokan dalam konteks pemikiran,” ujar Gus Wika memulai pembicaraan.
Perselisihan tersebut berujung Danghyang Wiraga Sandhi memutuskan untuk kembali ke Jawa. dalam perjalanannya pulang ke Jawa, Danghyang Wiragasandhi sebut Gus Wika hanya diiringi oleh empat putranya.
Yakni Ida Pedanda Sakti Bukian, Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade, Ida Pedanda Sakti Kamenuh dan Ida Pedanda Sakti Bukit. Sedangkan istri dan putra bungsu Danghyang Wiragasandi, yaitu Ida Pedanda Sakti Ketandan ditinggalkan di Gelgel.
Dalam perjalanan menuju Jawa, rombongan Danghyang Wiragasandhi melewati Desa Gobleg, Buleleng. Di desa itu, Danghyang Wiragasandhi secara tidak sengaja bertemu dengan Ki Pasek Gobleg, yang tak lain sahabatnya,
Karena memiliki kedekatan, rombongan Dang Hyang Wiragasandhi kemudian dibujuk oleh Ki Pasek agar mengurungkan niatnya untuk pulang ke Jawa. Rombongan diminta menetap di Taru Pinghe yang sekarang menjadi Desa Kayu Putih.
Sebab, Dang Hyang Wiragasandhi diminta untuk berkenan diangkat sebagai pandita suci dan pimpinan adat.
Atas permintaan Ki Pasek Gobleg, akhirnya Danghyang Wiragasandhi berkenan untuk menetap di Taru Pinghe dan bersedia sebagai Bhagawanta Kerajaan Buleleng.
Singkat cerita, Putera pertama Dang Hyang Wiragasandhi bernama Ida Pedanda Sakti Bukian diminta oleh Raja Mengwi sebagai Bagawanta. Sedangkan, putra keduanya yakni Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade selanjutnya diminta membuka lahan baru sebagai pusat pemerintahan.
Lahan yang dibabatnya adalah hutan yang penuh ditumbuhi ilalang. Sehingga secara etimologis, Banjar itu berasal dari kata “baa” yang berarti api dan “anyar” berarti percikan api yang menyala-nyala dari pohon ilalang yang kering.
Hal paling pertama di buat adalah perapat agung (Catuspata) untuk menentukan titik kesucian (madhyaning ikang bhuwana) dan pusat pertemuan kelima arah sebagai titik pangubengan Panca Dewata, dan akhirnya mendirikan pasraman di sana, yang kemudian disebut Griya Gede Banjar
“Geriya Gede sebagai titik nolnya. Yang pertama dibangun adalah Prapat Agung sebagai orientasi arah,” imbuh Gus Wika.
Lambat laun, Nagari Banjar kian terkenal. Sosok Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade yang memiliki tingkat spiritual tinggi menyedot perhatian banyak sulinggih dari tanah Jawa untuk datang ke Banjar.
“Beliau mengalami kisah gaib, sehingga banyak pendeta dari Jawa dulu pernah datang ke Banjar dan menguji kekuatan, kesaktian beliau. sehingga setelah dikenal, ramailah yang bermukim di Banjar,” jelasnya.
Oleh Raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti, wilayah Nagari Banjar ini menjadi Ibu Kota Buleleng Barat, yang mewilayahi sejumlah daerah.
Mulai dari Temukus hingga Teluk Terima. Semenjak itulah Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade ngagem (mengmban) dua swadahrma. Yakni istilah lokalnya Ngeraja Rsi.
“Artinya seorang pendeta tetapi juga sebagai penguasa wilayah. Kalau dalam teks lontar dan sejarah disebut dengan Manca Siwa Agung. Beliau menjalankan dua swadarma itu. Beliaulah yang membangun Desa Banjar,” bebernya.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade kemudian dibuatkan arca Raja Rsi, yang disimpan di Pelinggih Pajenengan, Merajan Geriya Gede Banjar, yang terletak di Dusun Melanting, Desa/Kecamatan Banjar.
“Di Merajan Geriya Gede Banjar ada Pelinggih Pajenengan yang di dalamnya terdapat tiga Padma. Dalam konteks Ista Dewata disebut Tri Purusa, yakni Siwa, Sada Siwa dan Paramasiwa. Tapi, secara langsung juga digunakan untuk menstanakan roh-roh suci dari Peranda yang sudah Lebar (meninggal). Di sinilah Arca Raja Rsi distanakan,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika