Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dulu Jadi Tempat Masumpah bagi Pencuri, Pura Ulun Kulkul jadi Tempat Nunas Tirta saat Melaspas Kulkul

I Putu Mardika • Sabtu, 27 Juli 2024 | 21:07 WIB

 

Pura Ulun Kulkul Besakih sebagai stana Dewa Mahadewa serta terdapat kulkul keramat
Pura Ulun Kulkul Besakih sebagai stana Dewa Mahadewa serta terdapat kulkul keramat
BALIEXPRESS.ID-Pura Ulun Kulkul di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem merupakan salah satu pura pakideh (utama) di Pura Agung Besakih. Juga merupakan salah satu pangider (Catur Loka Pala) dengan posisi di Barat, stana Ida Bhatara Mahadewa.

Pura Ulun Kulkul berada di sebelah barat Pura Penataran Agung Besakih. Untuk mencapai pura ini, pemedek bisa berjalan kaki tidak lebih dari 100 meter dari Pura Penataran Agung.

Pura ini berada di sebelah kanan jalan pada palebahan yang agak tinggi. Pura ini sebagai parahyangan dengan konsep Catur Loka Pala.

Pemangku Pura Ulun Kulkul I Gusti Mangku Jana mengatakan di Pura Ulun Kulkul sebagai stana Dewa Mahadewa. Pura ini juga tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan Pura Besakih.

Pura Ulun Kulkul diambil dari adanya sebuah kulkul atau kentongan berukuran besar di dalam Pura. Dari cerita turun temurun di desa atau Banjar, bila memebuat kulkul, maka harus dipelaspas dan dimohonkan tirta di Pura Ulun Kulkul

Tujuannya agar kulkul yang dibuat memiliki taksu, sehingga ditaati oleh krama desa atau krama pemaksan pura yang akan menggunakan kulkul tersebut.

Dahulu, pelebahan Pura Ulun Kulkul hanya terdapat pelinggih yang sangatlah sederhana. Namun, setelah dilakukan pemugaran pada tahap pertama tahun 1985 dan tahun 1992. Pemugaran meliputi perluasan pura dan perbaikan pelinggih yang ada.

Terdapat empat palinggih pokok, dan gedong utama merupakan linggih Ida Bhatara Mahadewa, dua buah palinggih bale pelik, dan pelinggih Bhatara Suara (kulkul). Di sana terdapat sebuah kulkul yang dikeramatkan.

Kulkul ini dianggap paling utama dan mulia dari semua kulkul yang ada di Bali. Dahulu setiap desa atau banjar yang membuat kulkul harus dipelaspas dengan dimohonkan tirta di Pura Ulun Kulkul agar memiliki taksu, yaitu ditaati oleh krama desa atau krama pemaksan pura yang akan memakai kulkul tersebut.

Kala itu, keamanan dan kesejahteraan ekonomi menjadi kebutuhan rakyat yang menjadi tanggung jawab para pemimpin.

Karena itu Raja sebaga Ksatria didampingi oleh Bhagwanta atau pendeta istana menekankan pendirian Pura Besakih termasuk Pura Ulun Kulkul ini.

Bahkan, kalau ada anggota masyarakat yang diduga berbuat salah seperti mencuri atau perbuatan yang melanggar hukum lainnya, maka di Pura Ulun Kulkul inilah diselenggarakan upacara penyumpahan'.

Hal ini untuk membuat umat menjadi takut berbuat melanggar hukum. Penyumpahan ini sebagai bukti bahwa Pura Ulun Kulkul sebagai media untuk membangun rasa aman atau Raksanam.

Penyumpahan ini bertujuan untuk menanamkan pada lubuk hati umat bahwa kalau mereka melanggar hukum Tuhan pasti tahu. Inilah cara menanamkan cara pengawasan oleh diri sendiri agar umat menjaga prilakunya.

Dengan demikian Raja akan lebih mudah membangun rasa aman dalam kerajaannya. Pura Ulun Kulkul juga berfungsi sebagai Pura untuk memohon keselamatan ''Sarwa Mule'' yaitu barang-barang berharga seperti emas, perak, dan batu-batu permata yang diyakini memiliki tuah spiritual.

“Karena benda-benda ini bentuknya kecil sehingga sangat mudah hilang, apa lagi zaman dahulu tidak ada peti besi seperti sekarang untuk menyimpan benda-benda berharga itu,” katanya.

Dengan memuja Tuhan sebagai Bhatara Mahadewa umat yakin akan keamanan barang-barang mereka yang berharga itu.

Demikian juga umat yakin kalau memiliki barang-barang berharga mereka mohonkan Tirtha di Pura Ulun Kulkul sebagai istana Dewanya ''Sarwa Mule''.

Hal itu diyakini akan mendapatkan perlindungan dari Bhatara Mahadewa. Demikian juga para pencuri akan takut mencuri barang-barang yang sudah dimohonkan perlindungan di Pura Ulun Kulkul.

Kalau mereka berani mencuri mereka akan segera ketahuan atau akan mendapatkan ''pastu'' dari Bhatara Mahadewa.

Cara pengamanan ini bersifat Niskala. Pada zaman modern sekarang ini keyakinan orang pada hal-hal Niskala itu agak menipis, karena itu pengamanan Niskala itu hendaknya disertai dengan pengamanan Sekala.

Di samping itu menurut ajaran Hindu dalam hidup ini memang tindakan manusia harus selalu diupayakan seimbang antara tindakan Sekala dan Niskala.

“Pura Ulun Kulkul menjadi tempat untuk menanamkan nilai-nilai keseimbangan itu yang diawali dari melakukan upaya Niskala untuk memperoleh rasa aman sebagai salah satu unsur yang mutlak untuk mendapatkan hidup yang harmonis,” sebutnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #besakih #hindu bali #hindu #pura #karangasem #melaspas #Tirta #kulkul #Dewa Mahadewa #Pura Ulun Kulkul