Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sarana yang Diperlukan Saat Melukat di Beji Waringin Pitu: Tempat Melukat Suci di Bali dengan Tujuh Pancoran Sakral dan Ritual Unik

IGA Kusuma Yoni • Minggu, 28 Juli 2024 | 16:55 WIB

Pancoran Beji Waringin Pitu, yang terletak di Banjar Celuk, Kapal, Kabupaten Badung, Bali
Pancoran Beji Waringin Pitu, yang terletak di Banjar Celuk, Kapal, Kabupaten Badung, Bali

BALIEXPRESS.ID - Pancoran Beji Waringin Pitu, yang terletak di Banjar Celuk, Kapal, Kabupaten Badung, Bali, tidak hanya terkenal dengan simbol-simbol pancoran yang ada di bagian bawahnya, tetapi juga dengan kehadiran sebuah pura atau tempat suci Hindu.

Pura ini memiliki dua pelinggih dan satu Semanggen, tempat suci yang dijadikan stana bagi Ida Bhatara Wisnu sebagai Dewa Pemelihara.

Dewa ini dilambangkan dengan aliran air dan satu Padmasana.

Keunikan Sumber Mata Air

Bagian tengah area ini menampilkan sumber mata air yang berasal dari tiga arah, yaitu Timur, Utara, dan Selatan, serta satu mata air dari bawah.

Di atas mata air tersebut, terdapat arca Dewi Cantik yang merupakan stana Dewi Gangga, dikenal sebagai Dewi Pelebur segala bentuk penyakit dan kotoran dalam wujud air.

Tempat Melukat dengan Hari-Hari Khusus

Gus Ngurah, pemangku Beji Waringin Pitu, menjelaskan bahwa tempat ini berfungsi sebagai tempat melukat atau pengruwatan.

Masyarakat dapat melakukan pengelukatan pada hari-hari tertentu seperti Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, atau hari Otonan.

"Biasanya umat banyak melukat pada hari Purnama, Tilem, atau Kajeng Kliwon," jelasnya.

Persiapan Melukat di Beji Waringin Pitu

Untuk melakukan ritual melukat di Beji Waringin Pitu, umat dapat datang kapan saja dengan membawa sarana upakara berupa dua buah pejati yang akan dihaturkan di Pura Beji Waringin Pitu, satu buah lainnya dihaturkan di mata air kelembutan, dan 10 buah canang untuk dihaturkan di beberapa titik dari togog penyapa di areal parkir hingga plangkiran di Pohon Beringin dan Pelinggih Ida Dukuh di tepi Tukad Penet.

Selain itu, umat juga disarankan membawa bungkak Nyuh Gading dan bungkak Nyuh Gadang masing-masing satu buah, serta bunga sembilan warna yang terdiri dari bunga kamboja merah, kamboja putih, kamboja kuning, mawar merah, mawar putih, sandat, cempaka kuning, cempaka putih, dan bunga teratai.

Prosesi Melukat

Gus Ngurah menjelaskan, prosesi melukat dimulai dengan mandi di tujuh pancoran dan mencuci semua organ sesuai dengan lambang aksara pada setiap pancoran.

Ritual ini dilanjutkan dengan pengelukatan di tirtha kelebutan yang disertai dengan pengelukatan air bungkak dan bunga sembilan warna.

"Pengelukatan di tirtha kelebutan ini sebagai simbol pembersihan secara niskala, setelah melakukan pembersihan secara ragawi di pancoran pitu, sehingga fungsi pengelukatan sekala dan niskala bisa tercapai," paparnya.

Persembahyangan di Pura Beji Waringin Pitu

Setelah pengelukatan, umat melanjutkan dengan persembahyangan di Pura Beji Waringin Pitu untuk memohon keselamatan dan kesehatan dari Ida Bhatara Wisnu.

Pancoran Beji Waringin Pitu bukan hanya tempat yang menawarkan ketenangan dan keindahan alam, tetapi juga memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi setiap umat yang datang berkunjung. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#BEJI WARINGIN PITU #melukat #bali #mengwi #hindu #kapal #badung #bungkak nyuh gading