Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Ratu Mas Sakti, Pura Kramat Seseh, Sejarah Harmonisnya Hindu dan Islam di Bali

IGA Kusuma Yoni • Senin, 29 Juli 2024 | 02:28 WIB

 

Pura Keramat di Seseh, Mengwi, Badung, Bali.
Pura Keramat di Seseh, Mengwi, Badung, Bali.

BALIEXPRESS.ID - Sejarah Harmonisnya umat Hindu dan Islam di Bali yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, tidak saja bisa dilihat dari beragam tradisi yang sampai saat ini masih terjaga.

Namun sejarah harmonisnya hubungan antara umat Hindu dan Islam di Bali juga terlihat dari adanya tempat sembahyang yang sama. 

Salah satunya adalah di Pura Ratu Mas Sakti, Pura Kramat Seseh, yang berlokasi di pesisir Pantai Seseh, desa Seseh, Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung.

Di pura ini terdapat makam Pangeran Mas Sepuh atau yang juga dikenal dengan nama Raden Amangkuningrat.

Seperti apa sejarah dari malam ini, sehingga sampai saat ini, makam ini menjadi tempah ibadah bagi umat Hindu dan Islam, bahkan bagi sebagian umat Islam, Makan Kramat ini dipercaya merupakan salah satu dari makam Wali Pitu?

Menurut Pemangku Pura Keramat Seseh, Jeo Mangku Artana, Pura Keramat atau Makam Keramat ini adalah makam atau yang dalam bahasa Balinya dikenal sebagai Pemereman dari Pangeran Mas Sepuh atau yang juga dikenal dengan nama Raden Amangkuningrat. 

"Pangeran Amangkuningrat ini merupakan keturunan dari Raja Mengwi yang beragama Hindu dan ibu yang berasal dari Blambangan yang beragama Islam. Yang juga merupakan agama yang dipeluk oleh sang pangeran,” jelasnya.

Dari cerita sejarah yang diturunkan dari generasi ke generasi, dijelaskan Mangku Artana, sang pangeran, sejak usia balita, terpisah dari ayahnya dan  dirawat oleh Ibunya di Blambangan.

Setelah dewasa, Pangeran Mas Sepuh menanyakan kepada ibunya tentang ayahnya. 

Setelah Pangeran Mas Sepuh mengetahui jati dirinya, ia memohon izin pada ibunya untuk mencari ayah kandungnya, dengan niat akan mengabdikan diri.

Seijin ibunya, akhirnya Pangeran Mas Sepuh berangkat ke Bali dengan diiringi oleh beberapa punggawa kerajaan sebagai pengawal dan dibekali sebilah keris pusaka milik Kerajaan Mengwi.

Sesampainya di Kerajaan Mengwi, dan menceritakan asal usulnya, akhirnya Pangeran Mas Sepuh diterima dengan baik oleh Keluarga Kerajaan Mengwi dan diberikan tempat yang selayaknya putra Raja Mengwi meskipun beragama Islam. 

Selain dianugerahi dengan kerupawanan, Pangeran Mas Sepuh ini dikatakan Mangku Artana juga dianugerahi dengan kesaktian, salah satunya adalah kemampuan untuk mengobati orang dan berjalan di atas air hingga duduk diatas bunga teratai.

Karena sering membantu orang yang kesusahan, kesaktian Pangeran Mas Sepuh ini memunculkan rasa kecemburuan diantara putra-putra Raja Mengwi yang lainnya.

Hingga suatu ketika saat Pangeran Mas Sepuh diperintahkan untuk menuju Taman Ayun (tempat peristirahatan keluarga Raja) di Mengwi.

Karena Taman Ayun dikelilingi danau mengitari bangunan lengkap dengan taman indahnya, maka Pangeran Mas Sepuh mengunakan kemampuannya untuk menuju Taman Ayun dengan berjalan di atas air yang membuat seisi istana geger. 

Setelah beberapa lama tinggal di kerajaan Mengwi, akhirnya Pangeran Mas Sepuh ingin kembali ke Blambangan untuk menemui ibunya.

Setelah mohon pamit kepada Raja Mengwi, Pangeran Mas sepuh meninggalkan kerajaan Mengwi menuju ke arah Selatan, yakni Pantai Seseh karena ingin menyeberang ke Pulau Jawa melalui Pantai Seseh.

Dalam perjalanan pulang, sesampainya di Pantai Seseh, Pangeran Mas Sepuh diserang oleh sekelompok orang bersenjata tak dikenal sehingga pertempuran tak dapat dihindari.

Melihat korban berjatuhan yang tidak sedikit dari kedua belah pihak, keris pusaka milik Pangeran Mas Sepuh dicabut dan diacungkan ke atas.

"Seketika ujung keris mengeluarkan sinar dan terjadilah keajaiban yang menyebabkan kelompok bersenjata yang menyerang tersebut mendadak lumpuh, bersimpuh dan terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun,” lanjut Mangku Artana.

Setelah mengetahui hal tersebut, Pangeran Mas Sepuh berkata, “Hai, Ki Sanak! mengapa kalian menyerang kami dan apa kesalahan kami?” Mereka diam tak menjawab.

Akhirnya diketahui bahwa penyerang itu masih memiliki hubungan kekeluargaan, dilihat dari pakaian dan juga dari pandangan batiniah Pangeran Mas Sepuh. 

Akhirnya, keris pusaka dimasukkan kembali ke dalam karangka-nya dan kelompok penyerang tersebut dapat bergerak kemudian memberi hormat kepada Pangeran Mas Sepuh.

Setelah itu Pangeran Mas Sepuh kembali melanjutkan perjalanan ke arah Pantai Seseh dan menyeberangi lautan menuju Pulau Jawa dengan berjalan kaki.

Hingga akhirnya Pangeran Mas Sepuh tutup usia dan atas permintaan sang pangeran untuk memakamkan jenazahnya di pesisir Pantai Seseh.

"Dan Pangeran Sepuh ingin dibuatkan tempat peristirahatan di dekat Pantai Seseh yang merupakan tempat pertama beliau mendarat di Bali," tambahnya. ***

Editor : I Putu Suyatra
#Pura Ratu Mas Sakti #bali #mengwi #hindu #sejarah #islam