Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Dahulu Menjadi Tempat Mpu Kuturan Memantau Besakih, Begini Sejarah Pura Peninjoan

I Putu Mardika • Jumat, 2 Agustus 2024 | 04:21 WIB

Pura Peninjoan Besakih sebagai tempat Mpu Kuturan meninjau Besakih pada era Raja Udayana
Pura Peninjoan Besakih sebagai tempat Mpu Kuturan meninjau Besakih pada era Raja Udayana
BALIEXPRESS.ID-Pura Peninjoan sebagai kawasan luhuring ambal-ambal, yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Karangasem. Pura ini menjadi tempat Mpu Kuturan meninjau Besakih semasa pemerintahan Raja Udayana.

Pura Peninjoan posisinya di sebelah barat laut Pura Batu Madeg, di dataran yang cukup tinggi. Untuk mecapai pura ini, dapat melewati kalan di sisi barat. Atau melalui jalan mendaki melalui Semak-semak.

Di sekitar pura, tampak hutan yang masih alami, membuat suasana sangat asri. Vibrasi spiritual begitu kuat. Selaini itu, pemandangan kompleks pura Besakih dari pura ini begitu terlihat secara jelas.

Bisa dilihat sekilas, area Pura Peninjauan memang tidak seluas dan semegah pura lain. Namun di balik kesederhanaannya, Pura Peninjauan memiliki sejarah yang sangat penting

Nama peninjauan berasal dari kata tinjau, yang berarti meninjau. Nama pura erat dengan perjalanan Mpu Kuturan. Konon, dari lokasi inilah Mpu kuturan yang seorang arsitek bangunan suci pura melakukan peninjauan kahyangan besakih yang akan diperluas.

Pemangku Pura, Jro Mangku Mare mengatakan, pura ini menjadi tempat meninjau Besakih dari jarak jauh. “Jadi sebagai tempat Beliau meninjau. Begitu cerita yang saya dengar dari para pendahulu,” paparnya.

Katrena sebagai pura yang unik, pihaknya berharap agar pura ini tidak dilupakan oleh Umat Hindu di Bali. Bukan tanpa alasan, sebab, meski bagian dari kompleks pura Besakih, namun pemedek jarang nangkil ke pura ini.

Ia menambahkan, hasil karya besar Mpu Kutruan sebagai artsitek pura di Bali tidak diragukan lagi. Kemampuannya dalam membangun pura dengan tatanannya hingga kini dirasakan manfaatnya.

Baca Juga: Penasaran! Ada Kuburan tak Biasa di Dalam Pura Ulun Swi Jimbaran, Begini Ceritanya

Pura peninjauan hanya dibatasi oleh satu palebahan, dengan bangunan pokok satu buah meru tumpeng Sembilan. Dengan areal pura yang sempit, tidak ada bangunan pelinggih yang begitu besar. Pelinggih pokok berwujud meru tumpeng Sembilan sebagai linggih Mpu Kuturan.

Menurutnya, Mpu Kuturan dipandang sebagai tokoh besar yang sangat dimuliakan oleh seluruh lapisan masyarakat di Bali, hingga dibuatkan parahyangan. Palinggih yang terutama adalah sebuah Meru Tumpang Sanga yang merupakan palinggih I Dewa Paninjoan atau Mpu Kuturan itu sendiri.

Selain itu di belakang Meru Tumpang Sanga itu terdapat tiga buah babaturan, yang merupakan tempat untuk melakukan panyawangan atau memuja (dari jarak jauh) dengan dewa yang terkait dengan babaturan yang bersangkutan.

Babaturan Panyawangan Gunung Batur, yang menjadi tempat untuk nyawang Dewa Gunung Batur. Babaturan Panyawangan Punggul Wesi, yang menjadi tempat untuk nyawang dewa yang bersthāna di Pura Punggul Wesi (mungkin yang dimaksud adalah Pura Tunggul Wesi), di Desa Tamukus, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.

Baca Juga: Jangan Coba-Coba Nangkil Ke Pura Ulun Swi Jimbaran saat Buda Wage atau Buda Kliwon, Akibatnya Fatal

Babaturan Panyawangan Payasan, yang menjadi tempat untuk nyawang dewa yang ber-sthāna di Pura Payasan, di Desa Tamukus, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem Babaturan Panyawangan Gunung Agung, yang menjadi tempat untuk nyawang Dewa Gunung Agung.

“Pujawali di Pura Penijauan setiap enam bulan sekali, tepat pada Wraspati Wuku Taulu. Pengempon pura ini adalah Kabupaten Bangli,” tutupnya.

 

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #besakih #hindu bali #hindu #pura #mpu kuturan #pura peninjoan