Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Alasan Batu Pulaki Dianggap Sakral, Bisa Gunakan untuk Pedagingan

I Putu Mardika • Sabtu, 3 Agustus 2024 | 03:49 WIB

Batu Pulaki yang berasal dari Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng
Batu Pulaki yang berasal dari Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng
BALIEXPRESS.ID-Kawasan Perbukitan Pulaki, yang terletak di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali tidak hanya dikenal sebagai daerah suci yang terdapat pura kahyangan seperti Pura Pulaki, Pura Pebean, Kerta Kawat, Pura Pemuteran dan Pura Melanting.

Tetapi, kawasan ini ditemukan beragam batu bertuah yang digunakan dalam berbagai ritual dan bernilai ekonomis.

Tidak jarang batu yang dihasilkan disebut Batu Pulaki sebagai gambaran batu yang diperoleh dari kawasan suci dan keramat Pulaki.

Disebut kawasan suci, karena kawasan Pulaki memiliki beberapa tempat suci atau pura kahyangan jagat atau pura untuk umum

Diantaranya Pura Pulaki dan Pura Pabean (pesisir pantai), Pura Melanting, Pura Mutering Jagat, dan Pura Pucak Manik (perbukitan di bagian barat), Pura Belatungan (di perbukitan atau hutan bagian selatan kawasan), Pura Kerta kawat dan Pura Pucak Sari yang berada di kawasan perbukitan di sebelah timur.

Terlepas dari tempat yang disucikan ini, wilayah perbukitan Pulaki memang menjadi tempat bersemayamnya bukit-bukti yang sangat disakralkan. Masyarakat sangat mensakralkan perbukitan ini.

Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan, Ida Bagus Putu Eka Suadnyana, SH.H, M.Fil.H dari hasil risetnya menyebutkan jika kawasan perbukitan inilah menjadi lokasi ditemukannya berbagai jenis batu permata yang dikenal sebagai batu permata Pulaki.

Batu permata Pulaki telah lama dikenal orang khususnya para penggemar batu permata. Bahkan, di areal ini dapat ditemukan beberapa jenis batu yang ditemukan di kawasan suci Pulaki.

Batu Celebung Pulaki atau Kresnadana Bali (Natural Green Epidot) termasuk dalam keluarga batu permata yang memiliki ciri warna hijau pistachio. Kemudian kuning kehijauan, dan ada yang hitam kehijauan.

Jenis Batu Pulaki juga ada Varian Batu Pyritized, Fools Gold, Iron Jasper Chalcedony.

Baca Juga: Dahulu Menjadi Tempat Mpu Kuturan Memantau Besakih, Begini Sejarah Pura Peninjoan

 “Perbukitan dan pegunungan Pulaki menjadi tempat ditemukan jenis batu ini yang memiliki nama lokal Celebung Pulaki atau Kresnadana Bali,” katanya.

Penggunaan Batu Pulaki di Desa Banyupoh sebut Suadnyana erat kaitannya dengan pengisian pedagingan.

Mengacu Lontar Sanghyang Aji Swamandala disebutkan jika membangun tempat suci tidak diisi pedagingan baik dalam bentuk sederhana, menengah maupun utama serta kelengkapannya.

Bangunan itu akan cacat, diyakini para dewa enggan berstana, bahkan ditempati setan. Selain itu dapat menjadikan yang punya bangunan mendapat rintangan, sakit-sakitan. Bahkan bisa menyebabkan kematian  bagi penghuninya.

Disamping bagunan-bangun yang digunakan sebagai tempat pemujaan, bangunan yang diisi pedagingan juga seperti dapur, maupun rumah tempat tinggal.

Pedagingan dalam tradisi umat Hindu Bali, menggunakan unsur-unsur yang terbuat dari, emas, perak, perunggu, tembaga, dan besi.

“Dalam aktifitas membuat pedagingan bagi umat Hindu di Pulaki, tidak sedikit yang menggunakan batu pulaki sebagai bahan pedagingan. Secara relegius lewat upacara mulang pedaginan dan batu yang digunakan sebagai bahan pedagingan diyakini oleh masyarakat memiliki kekuatan yang dapat merubah setatus suatu bangunan menjadi bangunan suci,” katanya.

Baca Juga: Jangan Coba-Coba Nangkil Ke Pura Ulun Swi Jimbaran saat Buda Wage atau Buda Kliwon, Akibatnya Fatal

Bagi umat Hindu di Desa Banyu Poh yang akan melaksanakan upacara mendem pedagingan, isi dari pedagingan didapatkan dari nunas kepada sulinggih, orang suci karena beliau yang berhak dan berwenang membuatnya.

“Tidak sedikit juga orang-orang yang tidak memiliki bahan-bahan yang akan digunakan sebagai pedagingan meminta kepada pengrajin atau penambang batu yang memiliki berbagai jenis batu pulaki,” sebut Suadnyana.

Ia menambahkan, penggunaan batu pulaki sebagai bahan pedagingan, didasarkan atas keyakinan umat Hindu yang ada di desa Banyu Poh terhadap unsur yang terkandung pada batu pulaki yang telah mengandung unsur panca datu.

Sehingga penggunaan jenis batu pulaki, cukup mewakili dari panca datu yang terdapat pada logam mulia seperti emas, perak, perunggu, tembaga dan besi.

Seperti misalnya pada batu Pulaki jenis Panca Warna Pulaki. Dalam satu bongkahan batu jenis ini yang bernama latin Jasper Chalcedony selain berdasrkan macam warna yang mencapai lima macam. Batu ini diyakini memiliki unsur logam panca datu. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Banyupoh #hindu bali #gerokgak #hindu #pura #Batu Pulaki #buleleng