BALIEXPRESS.ID- Jika bicara Kabupaten Karangasem, Bali, salah satu yang terkenal adalah tradisi magibung.
Banyak orang menyebut magibung ini sebagai makan bersama. Namun berdasarkan informasi dari berbagai sumber, magibung di Karangasem lebih dari sekadar makan bersama.
Selain di Karangasem, tradisi magibung ini sebenarnya ada di beberapa daerah di Bali.
Namun sejauh ini, Karangasem termasuk paling populer dengan tradisi ini.
Hampir setiap upacara ada tradisi ini. Bahkan tak jarang, acara syukuran karena sukses meraih yang diinginkan dirayakan dengan magibung.
Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Karangasem, istilah lain dari magibung adalah mekembulan.
Di balik tradisi ini tersimpan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur.
Berbagai olahan yang akan disajikan dalam tradisi magibung ini dirangkai berdasarkan tata letak dewata nawa sanga, dewa penguasa arah mata angin.
Sebelum magibung, olahan terlebih dahulu dipersembahkan kepada Tuhan melalui kegiatan yang disebut dengan mesambeh-sambeh di sekeliling area tempat magibung.
Tata Cara Magibung
Tidak sembarangan. Magibung di Karangasem ada tata caranya. Dalam melaksanakan tradisi ini, ada yang disebut sebagai pengayah.
Pengayah bertugas mengatur berbagai persiapan, yaitu mempersiapkan bundaran tempat magibung.
Bundaran ini harus disesuaikan agar kelompok peserta atau yang dikenal dengan sela tidak berhimpitan dengan kelompok lain.
Pengayah menata nasi dan olahan lain di atas pegibungan yang beralaskan aledan yang umumnya terbuat dari anyaman daun aren. Setelah semua siap, barulah magibung bisa dimulai.
Dalam satu sele gibungan, itu maksimal 8 orang. Mereka duduk bersila untuk pria dan bersimpuh untuk wanita.
Posisi duduk harus posisi miring dengan tangan kanan mengarah ke gibungan.
Orang yang paling tua berada di utara berdekatan sekaligus pemimpin sela.
Pemimpin sela mengawali menaruh olahan, termasuk memberikan arahan ketika magibung sudah bisa dimulai.
Penuangan lauk hanya boleh dilakukan oleh pemimpin sela. Selama magibung, peserta tidak boleh mengembalikan sisa makanan ke dalam gibungan.
Perlu diingat juga, peserta dilarang bersuara keras, apalagi sampai berteriak, berdahak, dan buang angin.
Setelah selesai, tidak diperkenankan meninggalkan tempat mendahului.
Sejarah Magibung
Terdapat beberapa versi soal sejarah magibung di Kabupaten Karangasem.
Salah satu versi menyebutkan bahwa tradisi ini bermula pada masa pemerintahan Raja I Gusti Anglurah Ketut ketika Karangasem berperang melawan Lombok.
Pada masa itu, magibung digunakan sebagai cara yang efektif untuk menghitung jumlah pasukan dan mengetahui jumlah korban perang.
Seiring berjalannya waktu, fungsi megibung bertransformasi dari sekadar menghitung jumlah pasukan menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong.
Tradisi ini kemudian terus dilestarikan dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Karangasem.
Sementara dilansir dari website Warisan Budaya Kemendikbud, dijelaskan bahwa magibung berasal dari kata gibung.
Gibung diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk saling berbagi satu dengan lainnya.
Kata gibung ini kemudian mendapat awalan me-berarti melakukan suatu kegiatan. (*)