Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Hindu Bali di Pura Pucak Bukit Gede: Ada Larangan Unik untuk Warga Sekitar

I Putu Suyatra • Senin, 5 Agustus 2024 | 00:52 WIB

Pura Pucak Bukit Gede; Stana  Siwa dari Bongkahan Gunung Mahameru
Pura Pucak Bukit Gede; Stana Siwa dari Bongkahan Gunung Mahameru

BALIEXPRESS.ID - Pura Pucak Bukit Gede yang terletak di Banjar Poyan, Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, merupakan salah satu pura berstatus Kahyangan Jagat bagi umat Hindu di Bali.

Keberadaan pura ini telah ada sejak zaman dahulu, dibuktikan dengan adanya arca Dewa Siwa di dalamnya.

Hubungan dengan Pura-Pura Lain di Baturiti

Pura Pucak Bukit Gede memiliki keterkaitan dengan beberapa pura lain di wilayah Baturiti, seperti Pura Pucak Padang Dawa, Pura Natar Sari Apuan, dan Pura Pucak Kembar.

Menurut Purana yang ditemukan, Pura Pucak Bukit Gede berawal dari kisah Bhatara Guru yang melakukan Yogha Samadhi dan memotong Gunung Mahameru di India menjadi dua bagian.

Potongan gunung tersebut diterbangkan dan jatuh di Pulau Bali, membentuk gunung-gunung yang ada di pulau ini, termasuk Bukit Gede.

Keberadaan Arca Dewa Siwa dan Lingga Yoni

Pura ini menjadi tempat berstana Dewa Siwa yang bergelar Bhatara Pucak Bukit Gede.

Bukti keberadaan Dewa Siwa di pura ini adalah adanya arca Dewa Siwa dan Lingga Yoni yang berada di Gedong Utama, palinggih utama di Pura Pucak Bukit Gede.

Larangan dan Aturan di Pura Pucak Bukit Gede

Bhatara Guru bersabda kepada penduduk sekitar Pura Pucak Bukit Gede untuk menanam padi, gaga, buah-buahan, dan umbi-umbian, namun melarang penanaman bawang merah dan bawang putih.

Jika dilanggar, tanaman mereka akan terserang hama penyakit.

Struktur dan Pelinggih di Pura Pucak Bukit Gede

Pura Pucak Bukit Gede terdiri dari tiga mandala: utama mandala, madya mandala, dan nista mandala.

Di nista mandala terdapat Bale Pelik, Bale Wantilan, dan Bale Panjang.

Di madya mandala terdapat Bale Pangaruman Omkara, Bale Gong, Bale Pangubengan, Bale Pasandekan, dan Padma Capah.

Utama mandala dibagi lagi menjadi utamaning utama, madyaning utama, dan nistaning utama, yang berisi berbagai palinggih penting.

Peraturan Khusus di Pura

Jero Mangku Gede Pura Pucak Bukit Gede, I Wayan Sugiartawan, menegaskan bahwa penggunaan daging babi untuk upakara di Gedong Meru adalah pantangan.

Selain itu, hanya Jero Mangku Gede dan Panyarikan yang diperbolehkan memasuki area Gedong Meru.

Jika aturan ini dilanggar, akan dilakukan pacaruan sebagai bentuk penyucian.

Pura Pucak Bukit Gede dan Masyarakat Sekitar

Pura Pucak Bukit Gede diempon oleh krama dari 10 banjar yang tersebar di tiga desa: Banjar Poyan, Banjar Belah, Banjar Luwus Desa Luwus, Banjar Temacun, Banjar Tundak, Banjar Kerobokan, Banjar Sekargula, Banjar Peneng, Banjar Mojan Desa Mekar Sari, dan Banjar Anyar di Desa Perean Kangin.

Pura ini menjadi tempat penting untuk memohon keselamatan, kemakmuran, dan kesuburan bagi masyarakat setempat.

Pura Pucak Bukit Gede di Banjar Poyan, Desa Luwus, Tabanan, tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi tetapi juga menjadi tempat penting dalam kehidupan spiritual masyarakat sekitar.

Dengan berbagai keunikan dan aturan khusus, pura ini terus menjadi saksi bisu perjalanan spiritual dan budaya Bali. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #arca #lingga #Pura Pucak Bukit Gede #hindu #yoni #siwa #tabanan