Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Pada Suci: Simbol Persatuan Antar Wangsa di Bali, Simpan Kisah Unik Tentang Toleransi dan Kebersamaan

Putu Agus Adegrantika • Senin, 5 Agustus 2024 | 17:06 WIB

Pura Pada Suci di Desa Sibang, Abiansemal, Badung, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pura Hindu Bali lainnya.
Pura Pada Suci di Desa Sibang, Abiansemal, Badung, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pura Hindu Bali lainnya.

 

BALIEXPRESS.ID - Pura Pada Suci di Desa Sibang, Abiansemal, Badung, memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pura Hindu Bali lainnya.

Umumnya, pura khayangan tiga diempon oleh warga desa, sedangkan pura kawitan diempon oleh satu garis keturunan atau wangsa.

Namun, Pura Pada Suci diempon oleh tiga wangsa berbeda, yang ditandai dengan keberadaan palinggih di areal pura tersebut.

Piodalan di pura ini pun berbeda, sehingga dalam enam bulan diselenggarakan dua kali.

Komitmen Menjalin Hubungan Brahmana dan Ksatria

Pura Pada Suci menjadi simbol komitmen menjalin hubungan antara Brahmana dan Ksatria, baik di masa lalu maupun sekarang.

Hal ini diungkapkan oleh pangempon pura, I Gusti Ngurah Agung Watu Sila, saat ditemui di rumahnya di Desa Sibang Kaja, Abiansemal, Badung.

Pura ini terletak di perbatasan Desa Mambal dengan Sibang, dan sangat mudah diakses dari pusat Kota Denpasar, hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit.

Sejarah Pura Pada Suci

Menurut sejarah yang dijelaskan oleh Agung Watu Sila, pada zaman dahulu terdapat seorang raja bernama Anglurah Mambal yang sering berpindah-pindah tempat tinggal.

Ketika kembali ke Mambal, diadakanlah pertemuan dengan Brahmana Mambal, yakni I Gusti Ngurah Mambal Sakti dan Anak Agung Gede Kamasan.

Mereka memutuskan agar tidak ada lagi yang berpindah-pindah, dan raja harus menetap di Sibang.

Keunikan dan Makna Pura Pada Suci

Ngurah Agung Wetu menjelaskan bahwa pura ini menjadi bukti nyata komitmen menjalin kebersamaan antara warga Ksatria dan Brahmana di Desa Sibang.

Warga Brahmana dari Mambal juga ikut menjadi pangempon, dengan dibangunnya Gria Pada Mambal di utara pura tersebut.

Struktur pura terdiri dari dua bagian, yaitu utama mandala dan nista mandala.

Pada utama mandala, terdapat tiga palinggih yang masing-masing diempon oleh warga Puri Agung Sibang Kaja, Puri Sibang Gede, dan warga Brahmana.

Piodalan Pura Pada Suci

Piodalan di Pura Pada Suci dilaksanakan dua kali dalam enam bulan, bertepatan dengan Angarkasih Tambir.

Upakara yang dihaturkan sama untuk ketiga palinggih, tanpa ada perbedaan.

Nama "Pada Suci" mencerminkan kesamaan dalam prosesi upacara dan tingkat upacaranya, serta kebersihan lahir batin.

Pelaksanaan Piodalan

Ida Ayu Raka, pangempon Pura Pada Suci, menjelaskan bahwa piodalan dilaksanakan pada Angarkasih Medangsia, berselisih empat minggu dari piodalan yang dilaksanakan oleh Puri Agung.

Upakara yang digunakan termasuk pragembal dan tumpeng sebelas. Di sebelah timur pura terdapat sebuah beji, yang juga dihaturkan upakara berupa banten pajati saat piodalan berlangsung.

Pura Pada Suci bukan hanya tempat suci, tetapi juga simbol kebersamaan dan komitmen warga Desa Sibang, Abiansemal, Badung.

Keberadaan pura ini memperkuat hubungan sosial dan spiritual antara warga dari berbagai wangsa. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #PURA PADA SUCI #ksatria #sibang #hindu #brahmana #badung