BALIEXPRESS.ID - Topeng Sidakarya merupakan salah satu seni pertunjukan wali. Pementasan Topeng Sidakarya merupakan bagian dari rangkaian upacara.
Tanpa pementasan Topeng Sidakarya, upacara dianggap tidak lengkap.
Ada beberapa sejarah yang menjadi cikal bakal keberadaan Topeng Sidakarya.
Menurut budayawan Drs. I Gede Anom Ranuara, SSN, MSI, sejarah Topeng Sidakarya dikaitkan dengan perjalanan seorang pendeta bernama Empu Kayumanis.
Empu Kayumanis ditugaskan memimpin upacara di Pura Uluwatu, Desa Pecatu, Badung.
Karena kelelahan akibat usia yang sudah tua, Empu Kayumanis tidak sampai ke Pura Uluwatu.
Perjalanan sang pendeta ke Pura Uluwatu yang ditempuh dengan berjalan kaki, hanya sampai di Alas Jarak (Denpasar).
Agar upacara bisa berjalan, dari tempat inilah sang pendeta melantunkan puja mantranya.
Ada ciri-ciri pelaksanaan upacara di Pura Uluwatu dianggap sempurna, yaitu ditandai dengan hujan disertai gempa. Hingga kini, hal itu masih diyakini.
Upacara pun berjalan sempurna atau disebut Sidakarya. Kemudian, tempat (Alas Jarak) sang pendeta melantunkan mantra untuk mendoakan upacara di Pura Uluwatu menjadi sebuah desa yang disebut Desa Sidakarya.
Sebagai penghormatan terhadap perjalanan sang pendeta, di tempat ini didirikan sebuah pura bernama Dalem Sidakarya.
Baca Juga: Politisi PAN Eko Patrio Sebut BUMN Dibawah Erick Thohir yang Terbaik
Setiap pelaksanaan upacara di Bali, wajib memohon tirta ke Pura Dalem Sidakarya agar upacara mencapai kesempurnaan.
Namun menurut Anom, keberadaan Pura Dalem Sidakarya juga dikaitkan dengan perjalanan Brahmana Keling dari Desa Kalingga, Jawa.
Brahmana keling sempat diusir oleh Dalem Waturenggong (sejarah di atas-red) karena mengaku sebagai saudaranya.
Perjalanan sang brahmana terhenti di Bandana Praja (Kabupaten Badung/Denpasar sekarang) yang diperkirakan bernama Desa Sidakarya.
Karena jasa Brahmana Keling menyempurnakan upacara di Pura Besakih dan telah diakui sebagai saudara Raja Dalem Waturenggong, kemudian dilibatkan dalam setiap upacara di Bali.
Maka di tempat pembuangan (Bandana Praja, kini Desa Sidakarya) didirikan tempat suci bernama Pura Dalem Sidakarya.
Jadi, tandas Anom, satu tempat memiliki dua versi cerita yang berbeda. Di tempat suci ini (Pura Dalem Sidakarya) umat Hindu memohon tirta Sidakarya, untuk menyempurnakan kegiatan upacara yang dilaksanakan.
Terkait dengan topeng Sidakarya yang dipentaskan tiap upacara di Bali, jelas budayawan kelahiran Desa Kesiman, Denpasar ini, dihubungkan dengan sejarah Dalem Bali versi Lontar Babad Dalem.
Babad tersebut mengisahkan ekspansi Gajah Mada tahap pertama untuk merangkul Raja Bali Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten menemui jalan buntu.
Patih Bali bernama Kebo Iwa berhasil diperdaya, dan Raja Bali mencapai moksa di Tukad Ayung.
Selanjutnya kedudukan Raja Bali diganti oleh Arya Panji Singaraja yang dinobatkan di Pucak Panarajon, Pura Penulisan, Kintamani, Bangli.
Kegagalan negosiasi dilanjutkan dengan ekspedisi Gajah Mada melalui angkatan bersenjata. Bali berhasil ditaklukkan.
Arya Panji diburu hingga ke wilayah Tegal Asah, Sanur yang sekarang menjadi Desa Buruan.
Sampai di Sanur, Arya Panji ditikam dari belakang hingga jatuh tersungkur. Setelah wafat dalam peperangan, anak-anak Arya Panji dipanggil oleh Gajah Mada untuk mengambil jasad sang ayah.
Ketika jasad dibalik, giginya tampak menonjol keluar. Untuk mengabadikan jasa sang ayah yang dengan gagah berani menghadapi musuh di medan laga, dibuatlah topeng dari kayu yang kemudian disebut “Dalem Sidakarya Wit Peturun” .
Dalem artinya penguasa, Sidakarya berarti keberhasilan. Topeng ini sebagai pengingat kejayaan raja Bali.
Selain itu juga sebagai sinkritisme paham Siwa-Budha dalam penyelenggaraan upacara di Bali dan kesempurnaan tiap tatanan upacara yang diselenggarakan.
Berbagai kekurangan pelaksanaan upacara dipermaklumkan melalui pementasan tarian topeng bebali yang membawa sesaji Beras Catur, Tirta Sidakarya dan Topeng Sidakarya.
Editor : Nyoman Suarna