Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Perjuangan mewujudkan Pura Sanatanagama UGM Yogyakarta, Berkonsep Majapahitan, Gunakan Batu Andesit

I Putu Mardika • Selasa, 6 Agustus 2024 | 14:51 WIB

Areal Utama Mandala Pura Sanatanagama UGM Yogyakarta
Areal Utama Mandala Pura Sanatanagama UGM Yogyakarta
BALIEXPRESS.ID-Pura Sanatanagama yang berada di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kini telah berdiri kokoh selama puluhan tahun diperjuangkan. Pura ini tidak hanya menjadi fasilitias kerohanian bagi mahasiswa UGM yang beragama Hindu.

Tetapi juga menjadi tempat persembahyangan bagi umat Hindu di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.

Koran Bali Exppress (Jawa Pos Group) menyempatkan nangkil ke Pura Sanatana UGM pada Senin (5/8) siang. Lokasinya berada di ruas jalan Podocarpus Yogyakarta, yang masih berada di wilayah kampus UGM.

Keberadaan Pura Sanatanagama UGM masih satu kompleks dengan fasilitas kerohanian bersama empat tempat ibadah lainnya.

Seperti dua bangunan gereja masing-masing untuk kegiatan kerohanian agama Kristen Protestan dan Katolik, Wihara untuk peribadatan agama Buddha, serta Kelenteng untuk peribadatan agama Konghucu.

Sedangkan tempat ibadah agama Islam berupa Masjid Kampus dan Mardliyyah Islamic Center.  Tempat suci umat muslim ini sudah ada lebih dulu sebelum kompleks fasilitas kerohanian UGM ini dibangun.

Pura ini tergolong unik dengan bangunan utama berbentuk candi. Sebab, mengusung konsep Majapahitan, Jawa Timur.

Baca Juga: Sejarah Pura Alas Angker Gianyar; Awalnya Bernama Wana Angker, Saksi Bisu Perjalanan Rsi Markandeya di Bali

Namun yang membedakan, jika candui-candi warisan Majapahit di Jawa Timur materianya didominasi oleh batu bata, namun Pura Sanatamagama ini menggunakan batu andesit seperti material candi-candi di kawasan Jawa Tengah.

Ketua Panitia Pembangunan Pura Sanatanagama UGM, Prof Dr drh Wayan Tunas Artama kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menceritakan Pembangunan Pura Sanatanagama UGM ini memiliki perjuangan yang panjang.

Bahkan, mimpi untuk mewujudkan pura untuk mahasiswa Hindu di UGM ini sudah dilakukan sejak 1991 silam. Proses negosiasi Pembangunan pura ini juga begitu alot dengan rektor-rektor yang pernah memimpin UGM.

Meski penuh lika-liku dan soft diplomasi akhirnya pembangunan kompleks fasilitas kerohanian ini dimulai pada tahun 2020 saat kepemimpinan Rektor UGM sebelumnya, Prof Ir Panut Mulyono Meng DEng IPU ASEANEng.

“Astungkara, kemudian pembangunan mulai dilakukan dengan peletakan batu pertama dilakukan pada 21 Mei 2022 di akhir masa kepemimpinannya.

Sementara proses pembangunan dimulai pada tanggal 24 Januari 2023 di bawah kepemimpinan Rektor Prof dr Ova Emilia MMedEd SpOG (K) PhD,” jelas pria asal Rendang, Karangasem ini.

Meski sudah mendapat lampu hijau dari UGM, namun pembangunan pura ini tidak serta merta dibiayai sepenuhnya oleh universitas. Pertimbangannya, bangunan pura dikatakan sebagai bangunan seni, sehingga bangunan pura tidak bisa ditenderkan.

Panitia pembangunan pura pun harus putar otak untuk mencari dana untuk mewujudkan pembangunan fisik pura. Sedangkan pihak universitas, membantu tender yang bisa dilakukan hanya memfasilitasi struktur rangka betonnya saja sekitar Rp 2 miliar.

Ia mengatakan biaya pembangunan pura ini menelan anggaran yang tidak sedikit. Tercatat, anggaran yang dibutuhkan hingga mencapai Rp 4,5 miliar rupiah.

Baca Juga: Pura Pada Suci: Simbol Persatuan Antar Wangsa di Bali, Simpan Kisah Unik Tentang Toleransi dan Kebersamaan

Selain didanai dari UGM, donatur Pura Sanatanagama ini juga bersumber dari para Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA).

“Setelah dipastikan dibangun, kami mulai mengkomunikasikan dengan para alumni untuk penggalian dana. Kolaborasi ini kami lakukan karena proses pembangunan itu membutuhkan DP (uang muka, Red) sehingga segera kami bergerak,” kenangnya.

Gayung bersambut, respon para alumni untuk membantu mewujudkan pura yang diimpikan sejak dahulu inipun mengalir begitu kuat. KAGAMA pun bergerak, hingga mampu membukukan donasi mencapai Rp 900 juta dalam waktu seminggu.

KAGAMA terus bergerak, bahkan kembali mengumpulkan donasi Rp 1 miliar dari acara event Golf di Jakarta. Selain itu, donasi juga datang dari Pemkab Badung, sebesa Rp 2 Miliar, dari Dirjen Bimas Hindu sebesar Rp 500 juta.

“Kalau dikalkulasi habis Rp 4 miliar. Kemudian proses melaspas dilakukan pada tanggal 23 April 2024 bertepatan dengan Purnama Sasih Jyestha yang kemudian menjadi tegak odalan,” imbuh Prof Tunas didampingi Romo Prasetyo.

Setelah terwujud, pura ini menjadi pusat kerohanian mahasiswa Hindu dari seluruh Nusantara dan civitas akademika UGM yang beragama Hindu. Tercatat ada 782 mahasiswa Hindu dan 42 dosen serta pegawai.

“Ada 35 aktifitas kegiatan di Pura Sanatanagama. Tentu semua mahasiswa Hindu akan memusatkan aktifitas kerohaniannya di pura ini, mereka dilibatkan seperti persembahyangan Purnama-Tilem, hari raya, pujawali dan lainnya,” imbuhnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Gunung Selamat #Lingga Yoni #mahasiswa #Gunung Merapi #Pura Sanatanagama #hindu #pura #yogyakarta #ugm #Gadjah Mada