Ketua Panitia Pembangunan Pura Sanatanagama UGM, Prof Dr drh Wayan Tunas Artama menceritakan ada empat pelinggih di areal utama mandala.
Diantaranya Pelinggih Pepelik, Pelinggih Petirtan, Pelinggih Brahman, dan Pelinggih Gadjah Mada.
“Pelinggih Brahman ini berbentuk Candi, di dalamnya terdapat simbol Tri Murti, Brahma, Wisnu dan Siwa. Ada juga pelinggih Gadjah Mada yang posisinya berada paling selatan,” sebutnya.
Uniknya, untuk pelinggih Brahman, khususnya Lingga Yoni dibuat dari batu yang berasal dari tiga Gunung, yakni Gunung Selamet, Gunung Agung dan Gunung Merapi.
Struktur pura juga diarsiteki oleh Romo Sanjaya.
Ia menambahkan proses mendatangkan batu untuk membuat Lingga Yoni di Pelinggih Brahman memiliki cerita tersendiri.
Semisal, Romo Sanjaya meminta panitia untuk mendatangkan batu dariGunung Agung dalam waktu tiga hari saja.
Tak hanya waktu yang singkat, panitia juga diminta mencari sebuah batu yang harus berbobot 11 kilogram.
“Kami telpon alumni di Bali, mereka yang mencarikan. Astungkara dapat batu itu, langsung dikirim via travel, dan bisa sampai sesaui waktu yang dibutuhkan,” paparnya.
Lain cerita dengan pencarian batu di Gunung Selamat. Rupanya Ratu Bagawan yang selama ini mendampingi panitia Pura Sanatanagama juga diyakini mendapatkan pawisik.
Beliau meminta agar panitia mengambil batu ke Pura Selamat untuk Lingga Yoni.
Perjalanan selama 4 jam ditempuh menuju ke Baturaden. Disana ada situs Lembahwangi di Gunung Selamat. Proses pengambilan batu penuh perjuangan, dilakukan dengan menyusuri jalan setapak
“Kami berangkatnya tengah malam ke situs Lembahwangi. Kemudian setelah berdoa, sampai jam 3 pagi, kami akhirnya bisa mengambil batu,” sebutnya.
Sedangkan untuk menstanakan Gadjah Mada di Pelinggih Gadjah Mada, dilakukan dengan mencari tirta di sebelas lokasi. Terutama di kawasan petirtan di Jawa Timur.
Baca Juga: Ada 11 Palinggih, Pura Menjangan Dibangun Atas Pawisik Gajah Mada
Disinggung terkait sarana ritual ada akulturasi sarana yang digunakan. Diantaranya saat Purnama dan Tilem.
Saat Purnama menggunakan sarana Banten ala Bali, sedangkan saat Tilem menggunakan sarana banten ala Jawa.
Saat ini, Pura Sanatanagama UGM juga sudah memiliki pelaba pura yang berada dekat dengan wilayah Candi Prambanan.
Tujuannya untuk mendukung segala aktifitas ritual di candi Prambanan.
“Apalagi candi Prambanan sebagai tiga fungsi yakni wisata, area ring 1 tempat sembahyang dan ketiga mengisi spiritualitas. Nanti pelaba pura UGM ini setidaknya bisa mendanai berbagai aktifitas ritual di pura ini” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika