Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Tari Baris Cina di Banjar Semawang Sanur Bali: Berawal dari Anak-anak Kerauhan, Diyakini Sebagai Pendekar Cina

Nyoman Suarna • Kamis, 8 Agustus 2024 | 01:37 WIB
BARIS CINA: Pementasan tari Baris Cina di Banjar Semawang, Sanur, Denpasar serangkaian piodalan di pura setempat.
BARIS CINA: Pementasan tari Baris Cina di Banjar Semawang, Sanur, Denpasar serangkaian piodalan di pura setempat.

BALIEXPRESS.ID - Tarian Baris Cina di Banjar Semawang adalah sebuah ritual bagi masyarakat setempat sebagai upaya menangkal grubug  dan bencana.   

Ada sepenggal sejarah, awal mula munculnya tari Baris Cina di Banjar Semawang, Sanur, Denpasar Bali.

Sejarahnya bermula ketika puluhan tahun silam pageblug mengancam wilayah Semawang, Sanur. Saat itu masyarakat menerima wangsit.

Menurut warga, wangsit yang diterima bermula dari anak-anak yang sedang bermain di pantai.

Mereka tiba-tiba kesurupan, memainkan jurus-jurus silat dan menggunakan bahasa ala pendekar silat Cina.

Beberapa warga yang tidak yakin, mencoba menyulut mereka yang kesurupan dengan bara api.

Tak ayal, api itu pun diobarak-abrik, tetapi tak ada yang terluka dan terbakar.

Inilah awal mula keberadaan Baris Cina di Semawang yang disebut Ratu Tuan, sebagai pengejawantahan keyakinan mereka dalam upaya membentengi desa dari pageblug.

Mereka yakin Baris Cina adalah pasukan pendekar Cina yang telah menjadi dewa, yang pernah datang ke pantai Semawang.

Para pendekar ini datang ke Sanur membawa barang dagangan berupa uang kepeng (pis bolong), keramik dan peralatan musik berupa gong beri.

Karena itu pula, musik pengiring tarian baris Cina Semawang di antaranya berupa gong beri (gong tidak bermoncol) dan tambur (bedug) seperti gendang barong sai.

Baca Juga: KOK BISA? Niat Baik Atasi Masalah Sampah, Pengelola di Desa Kenderan Dapat Surat Peringatan

Pementasan tarian Baris Cina biasanya dalam rangkaian mengusir wabah penyakit (grubug) yang mengancam warga pada Sasih Kanem.

Tarian Baris Cina biasanya dipertontonkan di depan sebuah pura di pinggir Pantai Semawang.

Pementasan ini terkait dengan pelaksanaan upacara di tempat suci tersebut dan rangkaian upaya mengusir gubrug.

Pementasan diawali dengan sederetan ritual persembahan sesaji di hadapan para penari dalam posisi berdiri.

Ritual yang dipimpin sejumlah pemangku (pelayan umat) diiringi dengan tetabuhan gamelan yang disebut dengan tambur.

Rangkaian ritual persembahan sesaji ini mengesankan bahwa pertunjukan ini tidaklah sembarangan, tetapi pertunjukan yang berbau sakral yang hanya dipentaskan sewaktu-waktu.

Apalagi diiringi suara gamelan khas mirip barongsai, membuat tarian ini berbeda dengan tarian Bali pada umumnya.

Tari baris adalah tarian perang. Hal ini terlihat dari senjata yang dibawa para penari.

Tari baris pada umumnya membawa senjata berupa tombak, keris, panah, dan perisai (tameng) seperti baris gede, baris dadap, bris cangkang atau katekok jago. Berbeda dengan Baris Cina, para penari membawa samurai seperti para pendekar silat.

Tidak hanya senjata yang berbeda, pakaiannya juga berbeda dengan tarian baris lainnya. Baris Cina memakai kostum celana panjang, baju dan topi.

Satu grup penari yang berjumlah sembilan orang memakai kostum putih, sedangkan grup lainnya memakai pakaian hitam.

Menurut salah seorang warga bernama Ketut Mawang, yang berpakaian putih berstana di Pura Ratu Tuan, sedangkan yang memakai kostum hitam adalah para dewa yang disucikan di sebuan pemujaan di sebelah barat desa.

Masing-masing grup menari secara bergiliran dipandu seorang pemimpin.

Penari yang unjuk gigi pertama adalah penari yang berpakaian putih, sementara yang berkaian hitam duduk sambil menonton.

Para penari memperagakan gerakan silat dengan mempermainkan pedang yang dibawa.

Dalam berapa gerakan dan bila sudah sampai di titik tertentu, sang pemimpin memerintahkan pasukannya (penari) kembali mengambil posisi ke belakang untuk mengulangi gerakan.

Demikianlah para penari memperagakan gerakan silat secara bergiliran antara yang berpakaian putih dan hitam.

Sampai pada puncak pementasan, para penari kesurupan lalu mengamuk dengan memainkan senjatanya.

Kalau tidak dijaga, para penari akan saling tebas dengan gerakan-gerakan silat.

Namun sejauh ini, kata Ketut, tidak ada penari yang sampai terluka terkena sabetan pedang.

Yang dikhawatirkan, jika penari menerobos mengenai penonton. Karena itu, bila penari sudah kesurupan, senjatanya langsung diamankan.

Bila baris Cina sudah dipentaskan apalagi sampai kesurupan, masyarakat Semawang yakin Ratu Tuan sebagai dewa Baris Cina yang disucikan sudah memberkati dan akan menjaga umatnya dari bahaya grubug.

Editor : Nyoman Suarna
#cina #semawang #bali #sanur #pendekar #sejarah #baris cina #kerauhan