BALIEXPRESS.ID - Pura Dalem Balingkang yang berada di Desa Balingkang, Kintamani dipercaya sebagai tempat pemujaan bagi Jaya Pangus beserta istrinya Kang Cing Wi.
Pura yang terletak di utara Gunung Batur tersebut tidak hanya menjadi tempat pemujaan umat Hindu, Bali tetapi juga warga keturunan Tionghoa.
Nama Balingkang, bagi masyarakat Bali, adalah untuk mengenang peristiwa yang terjadi pada zaman kerajaan Bali Kuno yang mengisahkan perkawinan antara Raja Bali dengan seorang putri dari Negeri Tirai Bamboo (Cina) yang bermarga Kang sehingga disebut Bali - Kang.
Tak pelak sering terjadi transaksi antar pedagang lokal dan pedagang luar di pasar wilayah kerajaan bernama Pasar Dikutapura Wijayakranta.
Pedagang lokal akan menjual hasil bumi berupa kopi, sedangkan pedagang Cina membawa tembikar dan madat.
Namun kedatangan pedagang Cina untuk menjual madat dan membeli hasil bumi Bali ditolak para biksu.
Alasannya karena alat tukar berupa pis bolong (uang kepeng) yang dibawa para saudagar Cina ukurannya lebih kecil dari yang berlaku di Kerajaan Singamandawa.
Menyiasati hal itu, para saudagar Cina dipimpin Mpulin memboyong seorang putri cantik dari Cina untuk dipersembahkan sebagai abdi kepada Raja Jaya Pangus.
Putri itu dipersembahkan kepada raja asalkan raja meloloskan permintaan para saudagar Cina untuk melakukan transaksi dengan uang kepeng yang dibawanya.
Tawaran itu diterima Raja Jaya Pangus. Putri Kang Cing Wi (dalam sejarah disebut Chung Kang) dijadikan pelayan kerajaan.
Namun di balik itu, Jaya Pangus yang sudah beristri Dewi Danuh berniat mempersunting putri bermarga Kang itu.
Sayangnya, ketika disampaikan kepada dewan biksu, keinginan sang raja ditolak mentah-mentah.
Dewan biksu dipimpin Biksu Siwa Gandu atau Siwa Gatha menolak kehendak raja karena putri Cina dan pengikutnya adalah para pedagang madat (candu) yang bertentangan dengan kebijakan agama yang dianut saat itu.
Kehadiran putri Cina dan para pengikutnya dikhawatirkan mengacaukan stabiltas kerajaan dengan perdagangan madatnya.
Kendati demikian, raja tetap bersikukuh mempersunting Kang Cing Wi, apapun risikonya.
Karena raja bersikeras, biksu Siwa Gandu mengutuk Kerajaan Batur akan tertimpa bencana gempa dan air bah.
Kutukan itu terbukti. Desa Batur dilanda banjir yang nyaris menenggelamkan kerajaan.
Para biksu lainnya merasa khawatir, kemudian meminta Biksu Siwa Gandu menarik kutukannya.
Biksu Siwa Gandu bersedia menarik kutukannya, asalkan Raja Jaya Pangus turun tahta.
Baca Juga: UPDATE! Terlibat Korupsi BKK, Bendahara dan Kelian Desa Adat Tista Ditahan
Atas desakan dewan biksu demi keselamatan kerajaan, Raja Jaya Pangus bersedia lengser keprabon.
Ia bersama kedua istrinya mengungsi ke arah timur laut menuju Desa Panarajon.
Di sanalah sang raja membangun istana bersama pengikutnya untuk menghabiskan sisa hidupnya, kemudian tempat itu diberinama Balingkang.
Kisah ini juga yang menjadi cikal bakal lahirnya barong landung.
Menurut Sabaraka yang juga juru terang di Objek Wisata Penulisan, kisah ini disadur kembali pada masa Dinasti Warmadewa. Tujuannya, agar menjadi cermin bagi rakyat Bali.
Dalam versi lain, karena perkawinan Jaya Pangus dan Kang Cing Wi tidak kunjung dikarunia anak, pasangan ini bertapa ke Gunung Batur.
Di tempat itu Jaya Pangus bertemu dengan seorang putri cantik bernama Dewi Danuh anak dari Bhatari Batur.
Jaya Pangus kemudian menikahi Dewi Danuh tetapi ditentang Kang Cing Wi.
Akhirnya terjadi adu ilmu antara Kang Cing Wi dan Dewi Danuh.
Pertikaian ini membuat Bhatari Batur (Ibu Dewi Danuh) murka dan mengutuk Jaya Pangus dan Kang Cing Wi menjadi sepasang barong landung.
Editor : Nyoman Suarna