Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Kiduling Kreteg Besakih, Stana Dewa Brahma, Tempat Memohon Nangluk Merana untuk Petani  

I Putu Mardika • Jumat, 9 Agustus 2024 | 02:35 WIB

 

Pura Kiduling Kreteg Besakih sebagai stana Dewa Brahma di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem
Pura Kiduling Kreteg Besakih sebagai stana Dewa Brahma di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem
BALIEXPRESS.ID-Pura Kiduling Kreteg yang menjadi bagian dari Pura Besakih, yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem.Pura yang dihias dengan ornament serba merah ini merupakan stana dari Dewa Brahma.

Pura Kiduling Kreteg memiliki areal yang cukup luas. Pura ini sudah ditata sejak 1971. Kata Kiduling Kreteg berarti sebelah selatan Jembatan. Pura ini terletak di sebelah timur pura Penataran Agung.

Untuk menjangkau pura ini pemedek melewati jalan setapak di depan Pura Pedarman. Melalui sebuah jembatan akan sampai di palemahan pura sebelah timur Sungai

Dalam lontar, Pura Kiduling Kreteg disebut dengan Pura Dangin Kreteg atau timur jembatan. Karena posisinya seolah-olah di sebelah timur jembatan. Bahkan seakan berada di sebelah selatan jembatan kalau berada di Pura Penataran Agung.

Hal ini juga dipengaruhi oleh Pura Besakih yang tidak sepenuhnya menghadap ke selatan. Tetapi agak miring ke arah barat, berhadapan dengan Pura Uluwatu di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung.

Baca Juga: Sejarah Pura Dalem Balingkang: Berawal dari Kisah di Pasar Dikutapura Wijayakranta hingga Kutukan Biksu Siwa Gandu terhadap Raja Singamandawa

Hal inilah yang menyebabkan Pura Besakih dan Pura Uluwatu disebut Hyang Hyaning Segara Ukir atau Hyang Hyaning Segara Gunung. Jadi Pura Luhur Uluwatu sebagai Pradana dan Pura Besakih sebagai Purusa.

Jika dilihat sangat jelas bangunan pura yang mencerminkan keagungan stana Dewa Brahma. Pura ini memiliki tiga mandala.

Untuk areal utama mandala terletak di areal yang paling tinggi. Kemudian madya mandala hanya terdapat tiga bangunan suci.

Pada Utama Mandala terdapat Pelinggih utama berupa Meru Tumpang solas yang posisinya di sisi timur jeroan, sebagai stana Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa Brahma.

Kemudian di sisi barat jeroan terdapat Meru Tumpang Solas stana Ratu Gede Bagus Cili.

Selain itu, masih terdapat meru tumpang pitu stana Ida Bhatara Bulusan. Dua buah meru tumpeng lima stana Ida Bagus Gede Swa dan Ida Bhatara Gede Sia, dan sebuah Meru tumpeng tiga stana Ida Bhatara Gede Sihi.

Di Pura Kiduling Kreteg juga terdapat ritual berupa aci yang dibagi menjadi dua jenis aci, yakni piodalan yang jatuh pada anggara wage dunggulan atau penampahan galungan dan Aci Penyeeb Brahma yang dilaksanakan saat Purnama Sasih Kenem

Aci Penyeeb Brahma dilakukan bertujuan agar padi di sawah tidak mengalami kekeringan. Dalam setiap karya di Pura Kiduling Kreteg semua pelinggih berwarna merah.

Pengempon Pura Kiduling Kreteg, Jro Mangku Srinaja menegaskan, Pujawali di Pura Kiduling Kreteg dilaksanakan Purnama Kenem yang ngamongin adalah daerah Karangasem.

Sedangkan yang ngayah adalah pemaksan di Kiduling Kreteg.

Baca Juga: Begini Asal Usul Pura Gili Menjangan Sumberkelampok, Dibangun atas Pawisik Gadjah Mada

“Aci di Catur Loka Pala, diawali di Pura gelap, Pura Ulun Kulkul, Pura Batu Madeg dan pura Kiduling Kreteg,” ungkapnya.

Saat Purnama Kedasa, semuanya katuran Ida Bhatara Turun Kabeh. Odalan pertama dilaksanakan pada Anggarkasih Prangbakat yang ditujukan kepada Ida Bhatara Brahma, Anggara wage Dugggulan untuk Ida Bhatara Ratu Bagus Cili, Enyitan Kaulu katuran aci penyungsung Ratu di Ida Bhatara Gede Soha.

“Pura Kiduling Kreteg tempat memohon keslamatan agar dijauhkan dari mara bahaya. Selain itu, di pura ini sebagai penguasa merana. Makanya, para petani memohon agar dijauhkan dari hama. Seperti tikus, belalang, burung,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #besakih #Kiduling Kreteg #hindu #pura #rendang #karangasem