Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jejak Sejarah Desa Sidatapa di Kecamatan Banjar, Bertalian dengan Tokoh Suci ini

I Putu Mardika • Jumat, 9 Agustus 2024 | 02:57 WIB

 

Krama Desa Adat Sidatapa Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali saat ngayah di Pura Desa
Krama Desa Adat Sidatapa Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali saat ngayah di Pura Desa
BALIEXPRESS.ID-Sebagai salah satu desa Bali Aga yang ada di Wilayah Kecamatan Banjar, Desa Sidatapa menyimpan berbagai tradisi dan budaya baik lisan dan tertulis yang sangat layak untuk dibedah.

Dalam caatatan sejarah, perjalanan suci Maha Rsi Markandeya juga meninggalkan konsep Bali Taksu yang hingga kini dilestarikan oleh krama Sidatapa.

Sabha Desa Sidatapa, I Wayan Wireyasa, kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menceritakan, berdasaran catatan sejarah yang ia terima dari pendahulunya, jika desa Sidatapa didirikan tahun 785 saka atau 863 masehi. Saat itu, Pura Desa atau Pura Bale Agung sudah didirikan.

“Itu artinya sebelum Pura Desa di bangun wilayah Sidatapa sudah didiami oleh para pendahulu kami. Karena kan tidak mungkin baru ada pemukiman, langsung membangun pura, pasti bertahap” ujarnya.

Sejarah panjang Desa Sidatapa sebut Wireyasa tak lepas dari kisah perjalanan Suci Maha Rsi Markandya dengan ribuan pengikutnya. 

Desa adat Sidetapa diperkirakan mulai didirikan pada tahun 785 Saka oleh Dewa Gede Penyarikan yang datang pertama kali ke Sidetapa dan melihat wilayah tersebut sangat subur dan cocok untuk tempat bermukim hingga diberi nama Gunung Sari.

Baca Juga: Unik!! Ritual di Sidatapa dipuput oleh perempuan yang bergelar Jero Balian Gede

Beliau datang dengan beberapa pengikut dari daerah Batur, dari daerah Dauh Toro Ireng (Taru Ireng) dan daerah Jawa pengikut Rsi Markandeya.

Kelompok masyarakat ini disebut masyarakat Bali Aga atau masyarakat Bali asli. Penyebutan ini berdasarkan sejarah asal-usul masyarakatnya yang disebut sebagai pengikut Rsi Markandeya yang menetap di pulau Bali.

Dari cerita rakyat yang hidup dikalangan masyarakat Desa Adat Sidetapa, bahwa pada awalnya Desa Sidetapa bernama Desa Alas Gunung Sari. Kedatangan mereka ke Alas Gunung Sari ini bergelombang dalam bentuk kelompok-kelompok kecil.

Kelompok yang pertama datang adalah dari kelompok Pasek Tempur, mereka menempati wilayah yang di sebelah utara Desa Adat Sidetapa sekarang, wilayah tempat kelompok Pasek ini diberi nama Banjar Leked.

Menyusul kelompok kedua yang menamakan dirinya kelompok Batur, tinggal di wilayah sebelah timur Desa Adat Sidetapa, daerah ini kemudian diberi nama Banjar Sengkarung.

Gelombang terakhir datanglah kelompok yang menyebut dirinya kelompok Patih. Kelompok terakhir ini menempati wilayah di tengahtengah, yang disebut dengan nama Banjar Tegal Mendung atau Kunyit

Pengikut Rsi Markandeya ini kemudian diperintahkan untuk meneruskan melakukan perabasan hutan untuk dimanfaatkan sebagai lahan seperti desa, pertanian, perkebunan dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula untuk pendirian parahyangan dan kuburan.

Dari penuturan yang diterima para pendahulunya secara turun temurun, konon sebelum tinggal menetap di pemukiman saat ini, warga Sidatapa sempat berpindah-pindah permukiman.

Awalnya, pemukiman berada wilayah barat atau Pejana. Lambat laun karena ada musibah, akhirnya penduduk berpindah ke wilauah timur.

Tak berlangsung lama, permukiman kembali bergeser ke wilayah selatan yang biasa disebut wilayah Kunyit.

Rupanya karena alam kurang bersahabat, akhirnya warga memutuskan untuk berpindah tempat lagi ke posisi tengah wilayah Sidatapa hingga saat ini.

“Dari periodisasi sejarah Bali peradaban desa Sidatapa masuk dalam periodisasi di Bali Kuno dari kisaran tahun 722 Masehi sampai 1343 Masehi. Karena kami sudah membangun pura desa kala itu,” ungkapnya.

Baca Juga: Jejak Misteri Spiritual Desa Sidatapa, Buleleng: Makna Taksu Bali dan Penyebutan Tuhan yang Berbeda dengan Umat Hindu Bali di Tempat Lain 

Wireyasa menambahakan, kuatnya pengaruh Rsi Markandeya di Sidatapa itu dibuktikan dengan peninggalan tradisi upakara yaitu konsep Bali Taksu di dalam Pura Desa.

“Bali Taksu itu artinya banten yang tidak mengunakan tamas, reringgitan, daksina. Sarana upakara seperti buah-buahan itu dipersembahkan dengan alas menggunakan daun pisang. Jadi sangat sederhana dan sampai sekarang kami menerapkannya setiap ada upacara di Pura Desa,” bebernya.

Terkait sistem kepercayaan, Wireyasa menyebut jika Warga Sidatapa menyebut Tuhan dengan sebutan Ida Panembahan.

Mereka meyakini jika Ida Panembahan memiliki kekuatan delapan taksu yang tersebar di delapan penjuru arah mata angin.

Taksu sebagai manifestasi dari Ida Panembahan tidak boleh disebut semabarangan karena sangat disakralkan.

Taksu inilah yang dipanggil dengan tetabuhan Ngundang Taksu saat pujawali di Pura Desa pada Galungan dan Kuningan.

“Makanya saat pujawali kami menghaturkan tabuh nyongnyongan, Tabuh Jaran Sinduk, Tamu-Tamiu. Kami juga memiliki tari-tarian seperti Tari Ngabuang, Tari Meleganti. Penari kadang tidak sadar saat menarikan atau istilah trance (kerangsukan, Red)” imbuhnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #sidatapa #bali aga #Rsi Markandeya #Banjar #sejarah #buleleng