BALIEXPRESS.ID - Desa Adat Duda, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali memberikan solusi terhadap masyarakatnya ketika melaksanakan Upacara Pitra Yadnya atau Ngaben bagi umat Hindu Bali setempat.
Di sana masyarakat yang ingin melaksanakan pengabenan ditawarkan sejenis kremasi ala desa adat, di mana pelaksanaannya tidak jauh beda dengan kremasi di tempat lain, namun tempat dilaksanakannya di desa adat setempat.
Bendesa Adat Duda I Komang Sujana menyebutnya sebagai kremasi ala desa adat. Krama yang ingin melaksanakan itu cukup mengeluarkan biaya sebesar Rp 12 juta maka pengabenan sudah bisa terselesaikan.
Seluruh prosesnya sudah ada yang mengatur.
Program ini diyakini bisa menekan biaya dari upacara pengabenan itu. Karena jika kramanya melaksanakannya di luar, otomatis akan mengeluarkan biaya tambahan lainnya.
“Kalau sudah di sini dilaksanakan, kita bisa tekan biaya, dimana kalau pelaksanaannya di luar, otomatis akan keluar biaya transport. Belum lagi yang menghadiri itu nanti diberikan konsumsi. Kalau di sini cukup diberikan minum saja,” ujarnya Jumat (9/8).
Ia menyadari bahwa zaman semakin berkembang, kremasi sudah mulai menjamur.
Menyikapi hal tersebut, pihaknya pun membuat kremasi ala desa adat ini.
“Jangan sampai bergeser dresta Bali kita, makanya (Desa) Duda bikin solusi. Kami modifikasi yadnya itu tidak mengurangi makna tapi mirip dengan kremasi,” lanjutnya.
Program ini baru dilaksanakan di tiga Banjar yang ada di Desa Adat Duda, diantaranya Banjar Wates Tengah, Banjar Bencingah Duda, dan Banjar Wates Kangin.
Meskipun belum semua Banjar menjalankan program tersebut, namun jika masyarakat Desa Adat Duda yang berada di Banjar lain ingin melaksanakan itu, pihaknya tidak melarang.
“Harapan kami supaya seluruh Banjar melakukan itu. Kemarin juga sudah disosialisasikan, nanti paruman bulan depan kita bisa setujui nanti untuk kremasi la desa adat,” terangnya.
Untuk pelaksanaan kremasi ala desa adat ini, kata Sujana menggunakan satu setra atau kuburan, yakni di Setra Kangin Desa Adat Duda.
Di mana setra tersebut digunakan oleh 18 banjar.
“Desa Adat Duda terus berinovasi supaya jangan sampai menjadi hindu itu berat, jangan sampai melaksanakan dresta Bali itu berat,” pungkasnya.
Ia menegaskan, kremasi ini tidak diharuskan kepada masyarakat setempat, namun ini sebagai solusi apabila ingin menekan biaya.
“Yadnya kan sebagai pengorbanan suci tulus ikhlas, ketika mampu, justru silakan dibesarkan,” tutupnya. ***
Editor : I Putu Suyatra