Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Tejakula: Diartikan sebagai Sinar yang Kuat, Diyakini Ada sejak Abad 10

I Putu Mardika • Rabu, 14 Agustus 2024 | 02:02 WIB

Wayang Wong Tejakula erat dengan perjalanan sejarah di Desa Tejakula
Wayang Wong Tejakula erat dengan perjalanan sejarah di Desa Tejakula
BALIEXPRESS.ID-Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng memiliki Sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Desa ini memiliki kesenian ikonik yakni Wayang Wong yang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia tak benda oleh UNESCO.

Dilansir dari Website Desa Tejakula, awalnya desa ini diyakini sudah ada sejak abad ke-10, seperti yang tercatat dalam prasasti Raja Janasadhu Warmadewa.

Dalam prasasti tersebut, desa ini disebut dengan nama "Hiliran" kemudian berubah menjadi "Paminggir".

Seiring berjalannya waktu, nama desa mengalami beberapa perubahan. Nama "Tejakula" sendiri berasal dari kata "Teja" yang berarti sinar dan "Kula" yang berarti kuat atau besar. Jadi, Tejakula dapat diartikan sebagai sinar yang kuat atau besar.

Sebelum menjadi desa, wilayah Tejakula merupakan hutan belantara yang lebat. Desa Tejakula terbentuk dari kedatangan penduduk dari berbagai daerah yang kemudian menetap dan membuka lahan.

Desa ini memiliki kekayaan budaya yang unik, tercermin dari berbagai upacara adat dan tradisi yang masih dilestarikan hingga kini.

Wayang Wong Tejakula memiliki sejarah yang kaya dan erat kaitannya dengan sejarah desa itu sendiri. Kesenian ini bukan sekadar tontonan, tetapi juga merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat Tejakula.

Wayang Wong Tejakula diperkirakan muncul pada abad ke-16, dipengaruhi oleh tari Parwa yang dibawa oleh kelompok kesenian dari Bangli dan Blahbatuh, Gianyar.

Perpaduan antara tari Parwa dengan unsur-unsur lokal melahirkan Wayang Wong Tejakula yang unik dan khas.

Salah satu ciri khas Wayang Wong Tejakula adalah para penarinya yang wajib berasal dari keturunan Pragina. Pragina adalah sebutan untuk kelompok sosial yang memiliki keahlian dalam bidang kesenian.

Sebagian besar lakon Wayang Wong Tejakula mengambil cerita dari epos Ramayana.

Penari menggunakan kostum dan topeng yang sangat detail dan indah, menggambarkan karakter tokoh dalam cerita Ramayana.

Wayang Wong Tejakula memiliki nilai sakral dan dianggap sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan leluhur.

Pada tahun 1970-an, muncul Wayang Wong Duplikat yang dibuat untuk memenuhi permintaan wisatawan. Wayang Wong Duplikat ini hanya meniru kostum dan topeng Wayang Wong asli, namun tidak memiliki nilai sakral yang sama.

Wayang Wong Tejakula telah diakui sebagai warisan budaya dunia dan sering dipentaskan baik di dalam maupun di luar negeri.

Wayang Wong menjadi salah satu identitas budaya yang membanggakan bagi masyarakat Tejakula. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#tejakula #sejarah #budaya #Wayang Wong #buleleng