Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kasta Pohon dalam Lontar Aji Janantaka: Kayu Cendana dapat Panugrahan untuk Stana Bhatara

I Putu Mardika • Kamis, 15 Agustus 2024 | 04:01 WIB

Pelinggih Piyasan menggunakan kayu cendana sebagai bahan baku untuk pelinggih
Pelinggih Piyasan menggunakan kayu cendana sebagai bahan baku untuk pelinggih
BALIEXPRESS.ID-Selain Pohon Majagau, gaharu, Cempaka Kuning, yang mendapat anugrah untuk digunakan sebagai bahan bangunan parahyangan atau bangunan Bhatara, ada juga pohon Cendana yang kayunya digunakan sebagai bangunan tempat suci atau pelinggih.

Ada ragam jenis pelinggih pada bangunan suci yang menggunakan kayu cendana. Diantaranya yaitu pelinggih meru, kemulan, sekepat sari, taksu, menjangan seluang, bale pesaren, rong dua, piasan, gedong ibu atau gedong simpen.

Sebut saja pelinggih Kemulan atau pelinggih Rong Telu (tiga). Pelinggih ini merupakan tempat berstana Ida Bhatara Tri Murti yaitu Brahma, Wisnu, Siwa/ Iswara. 

Sanggah kemulan sebagai simbol dan leluhur purusa pradana yang di stanakan di kemulan, simbol bhatara hyang Guru dan simbol Tuhan dalam manifestasi beliau sebagai Tri Murti.

Dikatakan Jro Dalang Wayan Contoh pada pelinggih ini sangat layak menggunakan kayu cendana.

Karena Dalam pembuatan Sanggah Kemulan dengan berbahan kayu cendana akan sangat bagus karena kayu cendana memiliki nilai kesucian yang tinggi dan memancarkan aura yang positif.

“Namun tidak semua masyarakat diharuskan menggunakan kayu cendana seutuhnya tetapi dalam setiap bangunan suci harus ada unsur dari kayu cendana walaupun hanya sedikit karena cendana merupakan simbol dari Paramasiwa” katanya.

Baca Juga: Sejarah Pura Agung Besakih, Berawal ketika Rsi Markandeya Mendengar Suara Gaib

Kayu cendana juga digunakan pada Pelinggih piasan. Pelinggih ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk menghias pratima, lingga-lingga Ida Bhatara pada waktu upacara piodalan dan berfungsi sebagai tempat pemujaan Ida Bhatara Sami.

Piasan juga dapat diartikan sebagai tempat menghias dan tempat pelinggihan atau tempat stana Ida Bhatara Sami pada waktu diadakan upacara piodal. 

Melalui upacara penedunan Ida Bhatara Bhatari, pelastian atau pebejian, mekalaiyasan, setelah itu baru dilinggihkan.

Baca Juga: Keunikan Tempat Suci Hindu di Bali: Ada Misteri Suara Angklung Saat Hari-hari Tertentu di Pura Yeh Pulu

Karena dijadikan tempat menghias, maka sangat tepat menggunakan sarana kayu cendana dalam pembuatan.

“Dimanapun pohon cendana tumbuh dapat digunakan sebagai pelinggih dan pratima. Meskipun cendana tumbuh di tempat kotor sekalipun tetap dapat digunakan sebagai kahyangan Dewa karena paramasiwa ada dalam pohon cendana yang tetap suci karena tidak terpengaruh oleh apapun,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Kemulan #Brahma #hindu bali #Wisnu #hindu #rong telu #siwa