Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri dan Asal Usul Watugunung Runtuh: Kisah Sakti di Balik Hari Suci Hindu Bali, Kajeng Kliwon Pamelastali

I Putu Suyatra • Rabu, 21 Agustus 2024 | 03:38 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

BALIEXPRESS.ID - Bali dikenal dengan berbagai hari suci Hindu yang sarat makna dan cerita. Salah satunya adalah Kajeng Kliwon Pamelastali atau yang juga disebut sebagai Hari Watugunung Runtuh.

Hari suci Hindu ini memiliki makna khusus dalam kalender Bali, dan kisah di baliknya sangat menarik untuk disimak.

Asal-Usul Watugunung: Sosok Sakti yang Tak Terkalahkan

Menurut Dosen Universitas Hindu Indonesia I Kadek Satria, S.Ag. M.Si. kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (13/1/2017) lalu, Watugunung adalah nama dari wuku terakhir dalam perhitungan pawukon di Bali.

"Cerita Watugunung ini tak hanya sekadar mitos, melainkan kisah penuh makna yang berakar dalam tradisi Bali," ungkapnya.

Menurut Lontar Medang Kemulan, Watugunung adalah putra Dewi Sintakasih, permaisuri dari Kerajaan Kundadwipa.

Watugunung lahir di tempat yang luar biasa. Dikisahkan bahwa Dewi Sintakasih melahirkan di atas batu besar saat tengah mendaki Gunung Semeru.

Ajaibnya, batu besar itu terbelah dua ketika sang bayi lahir. Dewa Brahma kemudian menamai bayi itu Watugunung dan memberkati dia dengan kekuatan yang luar biasa, tak terkalahkan oleh Dewa, Detya, Denawa, Asura, atau manusia—hanya Dewa Wisnu yang bisa mengalahkannya.

Perjalanan Watugunung: Dari Pangeran Menjadi Perampok

Seiring waktu, Watugunung tumbuh menjadi sosok yang kuat dan sakti.

"Namun, nafsu makannya yang besar membuat ibunya kewalahan, hingga suatu hari, ia memukul kepala Watugunung dengan sendok nasi," kata I Kadek Satria.

Marah, Watugunung meninggalkan istana dan menjadi seorang perampok yang menaklukkan banyak kerajaan, termasuk kerajaan tempat ia dilahirkan, Kundadwipa.

Di sana, ia menikahi ibunya sendiri, tanpa menyadari ikatan darah di antara mereka.

Pertemuan dengan Dewa Wisnu: Akhir dari Watugunung

Suatu hari, Dewi Sintakasih menemukan bekas luka di kepala Watugunung saat sedang mencari kutu.

Ia pun menyadari dosa besar yang telah terjadi. Demi mengakhiri penderitaan, Dewi Sintakasih meminta Watugunung untuk menantang Dewa Wisnu.

Peperangan tak terhindarkan, dan Watugunung akhirnya dikalahkan oleh Dewa Wisnu yang berwujud sebagai kura-kura (Kurma).

Hari kekalahan Watugunung ini kemudian dikenang sebagai Kajeng Kliwon Pamelastali, sebuah hari suci yang menandai runtuhnya Watugunung yang sakti namun tak berilmu.

Rangkaian Hari Suci setelah Watugunung Runtuh

Kisah Watugunung berlanjut dengan serangkaian hari suci dalam kalender Bali.

Setelah kekalahannya, Watugunung menjadi mayat, dan hari Senin setelah Watugunung Runtuh disebut sebagai Soma Candung Watang.

Hari Selasa berikutnya dinamakan Anggara Paid-paidan, saat mayat Watugunung diseret oleh Dewa Wisnu dan ditemukan oleh Bhagawan Boda yang kemudian menghidupkannya kembali pada hari Rabu, yang disebut Budha Urip.

Watugunung kemudian melakukan refleksi dan bertobat, yang diperingati sebagai Sukra Pangredanan pada hari Jumat.

Puncaknya adalah hari Saraswati, hari suci di mana ilmu pengetahuan turun untuk mengalahkan kebodohan, menutup wuku Watugunung dengan penuh makna dan pelajaran.

Pelajaran dari Watugunung: Mengalahkan Kebodohan dengan Ilmu Pengetahuan

Kisah Watugunung bukan hanya legenda, tetapi juga pelajaran penting tentang kekuatan ilmu pengetahuan dalam mengalahkan kebodohan.

Hari-hari suci yang terkait dengan Watugunung mengajarkan kita pentingnya melepaskan ikatan buruk dan mengarahkan diri pada kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Begitulah kisah di balik Kajeng Kliwon Pamelastali, hari suci yang penuh dengan makna spiritual dan budaya yang dalam.

Setiap upacara dan ritual yang dilakukan pada hari ini menjadi pengingat akan pentingnya ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia, serta bagaimana kebodohan dan kejahatan pada akhirnya selalu bisa dikalahkan. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Watugunung Runtuh #bali #Saraswati #hari raya #kajeng kliwon #hindu #Pemelastali