BALIEXPRESS.ID - Banten Pulogembal, atau yang sering disebut Pregembal, adalah salah satu sarana upakara yang memiliki makna mendalam dalam tradisi Hindu di Bali. Namun, apa sebenarnya makna di balik banten ini?
Kata "Pulogembal" berasal dari dua kata: "polo" yang berarti otak, dan "gembal" yang berarti berkembang.
Menurut Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran, Pulogembal melambangkan permohonan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa untuk menganugerahkan energi, kecerdasan, dan kesejahteraan bagi umat manusia, khususnya umat Hindu.
Baca Juga: Misteri dan Asal Usul Watugunung Runtuh: Kisah Sakti di Balik Hari Suci Hindu Bali, Kajeng Kliwon Pamelastali
Dalam Lontar Tapeni Yadnya dan Pelutaning Yadnya, banten Pulogembal dijelaskan sebagai simbol permohonan yang dipersembahkan saat upacara besar seperti ayaban tumpeng 21 bungkul ke atas.
Banten ini memiliki fungsi khusus dalam menjaga keseimbangan alam semesta dan kesejahteraan umat.
Banten Taman Pulogembal: Simbol Kehidupan dan Hukum Alam
Sebagian masyarakat mengenal banten ini dengan nama Banten Taman Pulogembal.
"Taman" di sini menggambarkan sumber air, simbol kehidupan yang sangat penting dalam ajaran Hindu.
Banten Taman Pulogembal memiliki makna agar Sang Hyang Widi memberikan anugerah amertha, yang berarti kehidupan abadi, serta memastikan berjalannya hukum Rta, atau hukum alam.
"Simbolisme dalam banten Pulogembal sangat kaya. Misalnya, banten ini dianggap sebagai kekuatan bumi yang terhubung dengan kekuatan di luar angkasa," jelas Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.
Jajan-jajan yang disusun dalam banten Pulogembal juga memiliki makna masing-masing, seperti Cili Taya yang melambangkan kesucian pikiran, atau Senjata Tri Sula yang melambangkan kekuatan Sang Hyang Sambhu.
Ritual Sakral dalam Upacara Banten Pulogembal
Banten Pulogembal juga memiliki aturan khusus dalam pelaksanaannya. Baik pemangku maupun sulinggih memiliki hak untuk memimpin ritual ini, namun dengan perbedaan tertentu dalam tambahan upakara.
Misalnya, saat pemangku memimpin, tidak terdapat banten Dewa-Dewi di Sanggah Surya.
Namun, jika sulinggih yang memimpin, banten Dewa-Dewi akan dihadirkan sebagai bentuk penghormatan kepada para Dewa-Dewi yang menyaksikan jalannya upacara.
"Pada dasarnya, banten Pulogembal bukan hanya sekadar sarana ritual, tetapi juga sarana untuk mengundang dan memohon anugerah dari Sang Hyang Widi beserta manifestasinya," ungkapnya.
Inilah yang membuat banten ini begitu penting dan sarat makna dalam setiap upacara keagamaan di Bali. ***
Editor : I Putu Suyatra