Dalam setiap yadnya memerlukan berbagai perlengkapan yang selalu memiliki arti tertentu dan utama. Dalam upacara Pitra Yadnya (kematian), masyarakat Hindu di Bali menggunakan berbagai peralatan upacara yang disebut upakara.
Salah satu unsur kecil yang acapkali menjadi bagian kecil dan penting adalah digunakannya padang lepas atau kalua di India disebut dengan rumput Durwa.
I Gusti Agung Istri Purwati, selaku penyuluh Agama di Badung menjelaskan Padang lepas ini bukanlah sembarang padang (rumput). Karena berdasarkan mitologinya padang lepas ini adalah seorang Gandarwa yang bhakti kepada Ganesha.
Bahkan, tapanya kemudian dianugrahi oleh Dewi Parwati fungsi penting dan kemudian menjadi menjadi symbol penting dalam upacara Pitra Yadnya.
Padang lepas ini disamping memiliki fungsi penting dalam ritual agama, padang lepas ini juga dapat difungsikan sebagai obat. “Di Bali, apapun yang digunakan sebagai upakara sebenarnya juga dapat dimakan dan bermanfaat dalam pengobatan” jelasnya.
Padang lepas berbentuk seperti rangkaian tumbuhan bambu, yang terlepas dengan sendirinya jika ditarik dan atau dicabut dalam rangkaian induknya. Padang lepas dalam konteks Pitra Yadnya digunakan pada bubur pirata.
“Bubur pirata ini dibuat dan dipersembahkan kepada Atman (roh) orang yang telah meninggal dan juga sarana persembahan kepada Dewa Yama,” katanya.
Dalam lontar Yama Purwana Tattwa disebutkan bahwa sarana inilah yang dinyatakan sebagai salah satu persembahan kepada Dewa Yama, sehingga meredalah kemarahan beliau.
Mengapa padang lepas memiliki kekuatan meredakan ? Dalam beberapa purana seperti Siwa Purana, Ganesha Purana dikisahkan tentang perkelaian antara Dewa Ganesha dengan raksasa Arnarasura putra Dewa Yama yang berbentuk lumpur yang sangat panas.
Perkelaian di antara keduanya sangat dasyat sehingga membuat para Dewa ketakutan. Dewa Ganesha akhirnya mencoba menyedot lumpur panas itu sehingga habislah lumpas panas yang ada sebagai perwujudan raksasa Arnarasura.
“Segala macam senjata tidak bisa ditembus. Bahkan dewa Ganesha tidak bisa melawannya. Saking marahnya maka disedotlah lumpur oleh Dewa Ganesha,” paparnya.
Akibatnya, perut Dewa Ganesha kembung dan kepanasan hingga berguling-giling karena sakit yang dirasakan.
Peristiwa itu kemudian didengar oleh Dewi Parwati, lalu meminta agar Bhagawan Kasyapa mencari rumput Durwa (padang lepas) untuk diberikan sebagai obat penawar rasa sakit yang diderita Dewa Ganesha.
“Akhirnya setelah memakan rumput ini, panasnya menjadi reda. Sehingga disebut sebagai Pereda panas dalam dan memadamkan panasnya kawah neraka dengan kaitan pitra yadnya,” ungkapnya.
Mitologi ini yang kemudian mendasari digunakannya padang lepasa sebagai sarana (nyasa) saat Sang Atma melewati Neraka tidak merasakan panasnya api Neraka.
Disamping itu, fungsi padang lepas ini dijadikan nyasa (sarana) agar Sang Atma yang meninggal dapat melepaskan diri dari keterikatan duniawinya, sehingga Sang roh dapat dengan tenang berjalan menuju sunya loka.
Padang lepas digunakan dalam persembahan bubur pirate yang berwarna kuning, sementara bubur pirate yang putih berisi ambengan. Bubur kuning yang berisi padang lepas simbol Predana (wanita).
“Durwa ini adalah jelmaan seorang Wanita, simbul cinta kasih yang murni. Durwa ini sangta berbakti kepada Ganesha. Begitu juga simboil cinta kasih pratisentana kepada leluhurnya,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika