Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Tradisi Hindu Bali Saat Galungan, Magobag-gobagan: Ritual Suci Mendapatkan Tirta Daha, Simbol Kesucian Gadis Perawan dan Pria Bujang

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 23 Agustus 2024 | 19:17 WIB
Tradisi Hindu Bali Megobag-gobagan di Bangli.
Tradisi Hindu Bali Megobag-gobagan di Bangli.

BALIEXPRESS.ID - Desa Sala, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, menyimpan sebuah tradisi Hindu Bali unik yang diwariskan turun-temurun, bernama Magobag-gobagan.

Meskipun jarang diketahui oleh orang luar, tradisi ini dipercaya sebagai penolak bala yang efektif jika dilaksanakan secara rutin, terutama saat hari suci Galungan.

Apa yang membuat ritual ini begitu sakral dan misterius?

Tradisi Magobag-gobagan: Menghidupkan Spiritual di Pagi Galungan

Menurut Jero Mangku Taman Tirta, Magobag-gobagan dilaksanakan pada subuh hari, tepat saat perayaan Galungan dimulai.

Tujuannya adalah untuk mendapatkan tirta daha, yang secara simbolis melambangkan kesucian seorang gadis perawan dan pria bujang.

"Masyarakat Desa Sala turun ke campuhan untuk pertama kali menggunakan tirta daha sebagai lambang pembaruan diri," ungkap Mangku Tirta.

Tradisi ini pernah menjadi rutinitas di Desa Sala, namun seiring berjalannya waktu, pelaksanaannya semakin jarang.

"Dulu tradisi ini selalu dilakukan saat Galungan, mungkin karena saat itu air belum mengalir ke rumah warga, jadi orang-orang rutin pergi ke sungai," tambahnya.

Proses Ritual yang Penuh Makna

Ritual Magobag-gobagan dimulai sekitar pukul 04.30 pagi, ketika warga berkumpul di Pura Taman Pecampuhan untuk sembahyang bersama.

Mereka kemudian menuju sungai yang merupakan pertemuan dua aliran air suci.

Di sini, setelah doa dihaturkan oleh pemangku, para peserta akan membasahi rambut dan tubuh mereka, sebagai simbol awal baru.

Prosesi ini dilanjutkan dengan ritual lempar bunga, di mana para wanita menggunakan bunga merah dan pria menggunakan bunga putih.

"Bunga merah melambangkan keberanian, sementara bunga putih melambangkan kesucian. Ini adalah simbol kemenangan Dharma melawan Adharma," jelas Mangku Tirta, yang juga menyebutkan bahwa lilin yang dinyalakan kemudian dihanyutkan di sungai sebagai simbol pembersihan dari segala energi negatif.

Pelestarian Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Tokoh Adat Sala, I Wayan Koyan, mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak ia kecil. Namun, karena kini air sudah mengalir ke rumah-rumah warga, banyak yang tidak lagi mandi di sungai.

"Dulu, jika belum mandi di Yeh Daha, seseorang belum dianggap benar-benar mandi," kenangnya.

Koyan juga menegaskan bahwa tradisi ini akan dilaksanakan rutin setiap enam bulan sekali.

Namun, ada batasan yang harus diperhatikan, seperti warga yang dalam keadaan cuntaka atau wanita yang sedang datang bulan tidak boleh mengikuti ritual ini.

Ingin Tahu Lebih Banyak? Kunjungi Desa Sala Saat Galungan

Bagi Anda yang penasaran dan ingin menyaksikan langsung keunikan tradisi Magobag-gobagan, Desa Sala bisa dicapai dalam waktu sekitar satu setengah jam dari Denpasar.

Ikuti Jalan Bypass Ida Bagus Mantra menuju Desa Tulikup, dan dari sana, perjalanan ke utara akan membawa Anda ke Desa Sala, sebuah desa yang dikenal dengan ritual panglukatan yang memanfaatkan sumber air suci dari dua bendungan.

Tradisi ini bukan hanya ritual biasa, tetapi juga sebuah cara untuk melestarikan kebersamaan, spiritualitas, dan budaya lokal yang penuh makna.

Galungan berikutnya, apakah Anda tertarik untuk menyelami misteri Magobag-gobagan? ***

 
Editor : I Putu Suyatra
#ritual #bali #bangli #hindu #tradisi #Tirta