BALIEXPRESS.ID - Kepercayaan terhadap mitos dan sugesti masih kuat di kalangan umat Hindu Bali, terutama terkait dengan hari Kajeng Kliwon yang diyakini memiliki kekuatan magis luar biasa.
Banyak masyarakat Bali memanfaatkan hari ini sebagai momen khusus untuk melakukan pengobatan tradisional, meyakini bahwa aura sakral pada Kajeng Kliwon dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Kajeng Kliwon sendiri merupakan pertemuan antara dua wewaran, yaitu Tri Wara dan Panca Wara, yang menjadikannya hari yang dianggap sangat sakral dan penuh dengan energi magis.
"Pada zaman dahulu, masyarakat Bali percaya bahwa hari Kajeng Kliwon adalah waktu yang tepat untuk menetralisir penyakit," ungkap Jro Mangku I Wayan Satra saat diwawancarai Bali Express pada Senin (30/1/2017).
Menurut Mangku Satra, jika seseorang menderita penyakit menahun seperti koreng, gondongan, atau bisul yang tak kunjung sembuh, mereka dapat melakukan upacara dengan menghaturkan segehan atau blabaran di penataran agung atau di pertigaan agung, lengkap dengan banten yang telah ditentukan.
"Biasanya, upacara ini juga disertai dengan sesari berupa uang kepeng, yang diyakini dapat 'menukar' penyakit tersebut sehingga si penderita bisa sembuh," jelasnya.
Selain itu, Kajeng Kliwon juga dipercaya sebagai hari yang baik untuk memohon agar anak atau bayi yang belum bisa berbicara atau berjalan dapat segera berkembang.
Dalam ritual ini, bayi yang belum bisa bicara biasanya diberikan tipat gong, yaitu tipat yang telah dihaturkan pada gamelan yang digunakan pada hari tersebut.
Sedangkan bagi bayi yang belum bisa berjalan, dilaksanakan ritual Nigtig yang menggunakan daun ingan-ingan dengan harapan agar si bayi segera mampu berjalan dengan ringan.
Misteri dan kepercayaan di balik Kajeng Kliwon terus hidup di tengah masyarakat, menjadikannya hari yang penuh dengan harapan dan keyakinan.
Benarkah kekuatan magis ini nyata? Atau hanya sekedar mitos yang diwariskan turun-temurun? ***
Editor : I Putu Suyatra