BALIEXPRESS.ID - Setelah hampir sebulan berjuang mengidentifikasi lontar kuno, Prajuru Desa Beratan Samayaji, Buleleng, Bali, akhirnya menemukan secercah harapan dalam pencarian jati diri desa yang telah lama terkubur waktu.
Dalam upaya ini, bersama para Penyuluh Bahasa Bali Kecamatan Buleleng, mereka menemukan sebuah lontar sima yang memuat tata laku dan upacara di Desa Pakraman Beratan Samayaji.
Penemuan ini semakin menarik perhatian karena lontar tersebut ditemukan di antara koleksi keluarga Nyoman Suryasa, yang dikenal sebagai keturunan prajuru di Desa Pakraman Beratan Samayaji.
Leluhur keluarga ini banyak yang berperan sebagai penyarikan atau sekretaris desa, sehingga diyakini ada banyak catatan terkait tradisi desa yang tersimpan di sana.
Dari hasil identifikasi enam lontar milik Nyoman Suryasa, sebuah lontar berjudul "Sima Desa Beratan" menjadi sorotan.
Ditulis pada tahun caka 1784 atau sekitar tahun 1862 masehi, lontar ini merupakan salinan dari catatan yang lebih tua, meskipun penulis aslinya masih menjadi misteri.
Ida Bagus Ari Wijaya, seorang Penyuluh Bahasa Bali dari Kelurahan Beratan, menjelaskan bahwa lontar ini sangat lengkap, berisi tata laku masyarakat hingga tata upacara di Pura Desa Pakraman Beratan Samayaji dan Pura Dalem.
Menariknya, lontar ini juga mencatat seperti nota pembelian, memberikan gambaran detail kehidupan masyarakat pada masa itu.
Catatan lontar ini diyakini ditulis pada hari Soma (Senin) Pon, wuku Ugu, pangelong hari kedelapan, sasih kedasa, yang sesuai dengan tahun 1784 caka, atau sekitar Maret atau April dalam kalender masehi.
Lontar tersebut terdiri dari 63 lembar daun lontar dengan panjang 35 centimeter dan lebar empat centimeter, ditulis dalam aksara Bali dan bahasa Kawi.
Ketut Benny Dirgariawan, tokoh Desa Pakraman Beratan Samayaji, mengungkapkan bahwa lontar ini membahas secara rinci tata upacara di Pura Desa.
Salah satunya adalah pelaksanaan pujawali selama sembilan sasih atau bulan dalam kalender Bali, yang berakhir tepat pada Hari Raya Nyepi.
Tradisi ini, yang unik dan beragam, mulai dari ayunan jantra hingga pakaian khas Tiongkok, menghubungkan desa ini dengan akar sejarahnya sebagai Bali Mula, yang dipercaya telah ada sejak abad ke-11.
Namun, Benny juga mengakui bahwa banyak dari tradisi ini telah punah, seperti ayunan jantra yang hilang puluhan tahun silam.
Tradisi pujawali yang runtut dari sasih kasa hingga sasih kesanga terakhir kali dilakukan pada tahun 1928 masehi.
Dengan adanya lontar ini, desa berencana mempelajari dan menghidupkan kembali tradisi tersebut, meskipun mungkin hanya dilakukan setiap lima atau sepuluh tahun sekali.
Penemuan lontar sima ini bukan sekadar mengungkap sejarah, tetapi juga membuka jalan bagi Desa Beratan Samayaji untuk menghidupkan kembali tradisi kuno yang nyaris terlupakan, menjaga warisan leluhur agar tetap lestari untuk generasi mendatang.