BALIEXPRESS.ID - Nenek moyang kita sangat arif menyikapi kejadian alam. Berbagai pertanda yang diperlihatkan alam, dimaknai sebagai sebuah ramalan yang akan terjadi.
Salah satunya gempa bumi yang ditulis dalam lontar palilindon. Kata palilindon berasal dari kata lindu yang berarti gempa bumi.
Ada dua lontar terkait yang menyoal peristiwa yang akan terjadi pasca gempa bumi, di samping gerhana bulan dan matahari, yaitu lontar Palilindon dan Pecaruan Linuh.
Kalau lontar Palilindon lebih terfokus pada isyarat di balik kejadian alam yang dihitung berdasarkan hari, arah dan bulan, sedangkan lontar Pecaruan Linuh berisi upaya meredam berbagai perisiwa alam yang akan terjadi di balik kejadian gempa, dengan upacara berikut mantra-mantranya.
Lontar Palilindon tersebut berasal dari Jro Kanginan, Desa Sidemen, Karangasem, tetapi sudah dikoleksi Bidang Dokumentasi Budaya Bali, Dinas Kebudayaan Bali.
Lontar dengan panjang 33 Cm, lebar 3,5 Cm tebal 24 lembar ini, disalin dan alih aksara oleh Si Gede Badra pada 7 Oktober 1998.
Sedangkan lontar dengan judul Pecaruan Linuh yang memiliki ukuran 40 Cm x 3,5 Cm, berjumlah 16 lembar ini dialih-aksarakan oleh Ida Bagus Adnyana, S.Sos.
Agak sulit memang memahami isi lontar tersebut, terutama masyarakat umum karena lontar tersebut memakai bahasa Jawa Tengahan.
Terungkap, bila gempa terjadi pada Sasih Kasa atau bulan ke-1 sekitar Juli, pertanda bahwa Dewi Pertiwi sedang beryoga, berarti pemerintah dan negara dalam keadaan tenang karena berpegang pada ajaran agama.
Bila gempa terjadi pada Sasih Karo atau bulan Agustus berarti Dewi Gangga sedang beryoga, ini merupakan pertanda akan turun hujan lebat pada bulan tersebut dan negara dalam keadaan tenang.
Gempa yang terjadi pada Sasih ketiga (September) menandakan semua tanaman akan berbuah bagus karena diberkati Dewa Wisnu.
Demikian juga bila terjadi gempa pada Sasih Kapat (Oktober), diramalkan hujan akan turun lebat pada tahun tersebut karena Dewa Brahma sedang beryoga.
Keadaan alam kurang baik karena dilanda kekeringan dan wabah penyakit jika gempa terjadi pada Sasih Kalima (November).
Kondisi makin buruk jika gempa terjadi pada Sasih Kanem (Desember), Kapitu (Januari), Kaulu (Februari) hingga Kasanga (Maret).
Wabah akan makin ganas, negara juga dilanda kepanikan karena serba kesulitan, ditambah dengan cuaca panas terik.
Barulah pada Sasih Kedasa (April), ketika alam dikendalikan Dewa Sangkara, semua tumbuhan mulai hidup karena alam normal kembali jika gempa terjadi pada masa itu.
Pertanda tidak bagus akan akan terjadi lagi bila gempa mengguncang bumi pada Sasih Jyesta (Mei) karena akan terjadi berbagai masalah dan kejadian, pemerintah dan negara dalam kondisi sulit, termasuk juga perekonomian akan mengalami kesulitan.
Kondisinya akan sama jika gempa menggoyang bumi pada Sasih Sadha (Juni), karena semua tanaman pertanian dan perkebunan tidak akan berhasil panen.
Selain dengan perhitungan bulan (sasih), akibat gempa juga diramal berdasarkan hari yang juga disebut Saptawara.
Bila terjadi pada hari Redite (Minggu), berarti wabah penyakit akan bermunculan dan banyak anak dilanda berbagai penyakit.
Bila terjadi Soma (Senin), pertanda akan ada orang penting termasuk pendeta, rohaniwan yang meninggal.
Gempa yang terjadi pada hari Selasa (Anggara), menandakan maling akan banyak bermunculan. Rabu (Buda) sebagai pertanda bahwa para pedagang dan pebisnis akan banyak merugi.
Wrespati (Kamis) berarti para petinggi dan pemimpin negara akan dilanda masalah.
Bila diguncang gempa pada hari Jumat (Sukra) pertanda akan ada istri pemimpin negara yang sakit.
Selain itu, hewan ternak juga dilanda berbagai penyakit. Gempa pada hari Sabtu (Saniscara) merupakan pertanda bahwa akan banyak wabah penyakit, banyak maling dan rakyat melarat.
Editor : Nyoman Suarna