Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri di Balik Aci Keburan: Tradisi Unik Hindu Bali Berupa Adu Ayam di Pura Hyang Api, Berani Langgaran Pantangan Bisa Diserang Ayam

I Putu Suyatra • Senin, 26 Agustus 2024 | 18:51 WIB

 

Tradisi Hindu Bali, Aci Keburan di Pura Hyang Api, Desa Pakraman Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar
Tradisi Hindu Bali, Aci Keburan di Pura Hyang Api, Desa Pakraman Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar

BALIEXPRESS.ID - Desa Pakraman Kelusa di Kecamatan Payangan, Gianyar, menjadi saksi hidup dari tradisi Hindu Bali yang unik, sarat makna spiritual dan sejarah panjang, yakni Aci Keburan.

Lebih dari sekadar adu ayam, ritual yang dilaksanakan rutin di Pura Hyang Api Kelusa ini menyimpan berbagai keunikan yang mampu menarik perhatian banyak orang.

Namun, apa yang membuat tradisi ini begitu istimewa? Mari kita telusuri lebih dalam.

Aci Keburan: Tajen Bukan untuk Keuntungan

Bagi masyarakat Bali, adu ayam atau tajen seringkali dikaitkan dengan judi. Namun, di Aci Keburan, tajen yang berlangsung selama lebih dari sepekan ini memiliki tujuan yang berbeda.

"Di sini, tidak ada menang atau kalah, apalagi taruhan untuk keuntungan. Aci Keburan adalah bagian dari upacara sakral yang melambangkan kesuburan wewalungan (hewan peliharaan) krama," jelas Nyoman Suarta, Tokoh Desa Pakraman Kelusa.

Suarta yang baru tiga tahun menjabat sebagai Bendesa Pakraman ini menambahkan bahwa tradisi Aci Keburan berawal dari kebiasaan para penggembala hewan yang beristirahat di hutan tempat Pura Hyang Api kini berdiri.

Para penggembala tersebut mengadu dua daun jarak yang diisi dengan duri salak, yang kemudian dianggap sebagai hewan.

Seiring waktu, ritual ini berkembang menjadi adu ayam sebagai simbol keburan atau hewan bersayap yang melambangkan kesuburan dan keselamatan.

Persembahan kepada Dewa Agni di Pura Hyang Api

Aci Keburan merupakan bentuk persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam wujud Dewa Brahma atau Dewa Agni yang bersthana di Pura Hyang Api.

Tujuan utama dari upacara ini adalah memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi hewan peliharaan serta umat manusia.

Tradisi ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali atau setiap Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Hari Raya Galungan), dan konon sudah berlangsung sejak tahun 1338 Masehi.

Menariknya, Pura Hyang Api tidak hanya dikenal sebagai tempat suci untuk tradisi Aci Keburan, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan spiritual Maharsi Markandeya.

Berdasarkan Lontar Bhwanatattwa Maharsi Markandeya, Pura ini merupakan bagian dari jalur dharmayatra dan tirtayatra Maharsi Markandeya di Bali.

Pura ini dipercaya sebagai tempat bersthananya Dewa Api dalam konsep Tattwa Nawadewata.

Pelaksanaan Upacara yang Mengundang Ratusan Pemedek

Setiap pelaksanaan Aci Keburan, Pura Hyang Api selalu dipadati oleh pemedek dari berbagai daerah di Bali.

Mereka datang dengan membawa persembahan berupa banten dan ayam jantan untuk diadu.

Namun, berbeda dengan tajen biasa, dalam Aci Keburan, ayam yang kalah justru dianggap membawa keberuntungan karena telah dihaturkan sebagai bagian dari sesangi (nazar).

"Yang melaksanakan tradisi ini kebanyakan berasal dari luar desa untuk naur sesangi. Desa kami hanya menyediakan tempat, sementara yang melaksanakannya datang dari berbagai daerah," terang Suarta.

Proses adu ayam ini dilakukan tanpa area khusus atau kalangan tajen. Pemedek bebas melepas ayam mereka di sekitar jaba Pura Hyang Api, dan adu ayam pun berlangsung dengan cara yang sederhana namun sarat makna.

Tak heran jika suasana di sekitar pura dipenuhi dengan ratusan ayam yang bertarung bersamaan.

Pantangan dan Mitos yang Menghantui Aci Keburan

Sebagai upacara sakral, Aci Keburan juga diiringi oleh berbagai pantangan. Salah satunya adalah larangan bagi mereka yang sedang cuntaka (kotor secara niskala atau sebel) untuk ikut serta dalam pelaksanaan upacara.

Jika nekat, diyakini akan ada hal buruk yang menimpa mereka.

"Jika ada yang cuntaka tetap ikut, mereka bisa terkena taji ayam yang sedang bertarung. Itu adalah tanda bahwa mereka sedang dalam keadaan tidak suci," ujar Suarta.

Namun, agar hal-hal buruk tidak terjadi, pihak Pura Hyang Api juga bekerja sama dengan Puskesmas Payangan untuk menyediakan obat-obatan, perban, dan ambulans yang berjaga selama upacara berlangsung.

Rentetan Upacara di Pura Hyang Api

Selain Aci Keburan, Pura Hyang Api juga menjadi pusat pelaksanaan beberapa upacara penting lainnya yang dilakukan sepanjang tahun.

Di antaranya adalah upacara pada tumpek uduh untuk memohon kesuburan tumbuhan, tumpek landep untuk kesucian pikiran, tumpek uye untuk keselamatan hewan, dan perayaan Kuningan yang merupakan petoyan atau puncak dari serangkaian upacara tersebut.

Meskipun tradisi ini telah berlangsung sejak lama, setiap kali pelaksanaannya, Pura Hyang Api selalu kekurangan lahan parkir.

Namun, keterbatasan ini tidak menyurutkan niat para pemedek untuk datang dan mengikuti upacara.

Aci Keburan adalah tradisi yang tidak hanya menarik karena keunikannya, tetapi juga karena makna spiritual yang dalam di balik setiap prosesi yang dilakukan.

Di balik riuhnya suara ayam yang bertarung, ada doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan dan kesejahteraan, baik bagi hewan peliharaan maupun umat manusia.

Tradisi ini menjadi bukti bahwa warisan leluhur Bali tetap hidup dan terus dilestarikan oleh generasi sekarang.

Dengan semua keunikan dan sejarah panjangnya, Aci Keburan di Pura Hyang Api adalah sebuah tradisi yang layak untuk diselami lebih dalam, mengungkap makna yang tersirat di setiap tajen yang digelar, dan menghormati warisan spiritual yang telah dijaga selama berabad-abad. ***

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar #Cuntaka #Brahma #Pura Hyang Api Kelusa #Aci Keburan #hindu #tradisi