BALIEXPRESS.ID - Pancoran sebagai sumber air alami kini menjadi daya tarik yang tak terduga. Tren melukat atau penyucian diri di pancoran kembali marak, menarik minat banyak umat Hindu Bali. Salah satu pancoran yang kini menjadi perhatian adalah Pancoran Batan Nyuh.
Apakah Anda sudah pernah mendengar tentang tempat ini? Mari kita telusuri kisah di baliknya.
Jejak Sejarah di Pancoran Batan Nyuh
Terletak di Banjar Langon, Desa Adat Kapal, Kabupaten Badung, Bali, Pancoran Batan Nyuh berdiri di atas lahan milik Jro Mangku Nyoman Suwena.
Tempat ini sudah ada sejak zaman dahulu, namun waktu pasti kemunculannya masih menjadi misteri.
Dengan letaknya yang berada di tepi Sungai Yeh Penet dan suasana alami yang asri, pancoran ini menjadi tempat ideal untuk melakukan panglukatan atau penyucian diri.
"Tempat ini sangat cocok untuk mereka yang ingin membersihkan diri secara spiritual," ungkap Jro Mangku I Nyoman Suwena, penjaga Pancoran Batan Nyuh.
Ciri Khas yang Hilang dan Keajaiban yang Muncul
Nama 'Batan Nyuh' diambil dari posisi pancoran yang dahulu berada di bawah pohon kelapa besar.
Meski kini pohon itu telah tumbang, kisahnya tetap hidup.
Keunikan lainnya muncul saat Jro Mangku Suwena menanam bibit kelapa yang ternyata menghasilkan dua tunas.
Pohon kelapa kembar ini rencananya akan ditanam kembali di sekitar pancoran, mengembalikan ciri khas yang pernah hilang.
Tempat Sakral dengan Jejak Budha
Menurut cerita, Pancoran Batan Nyuh dahulu adalah Pasraman Alit, tempat beristirahat dan menyebarkan ajaran Ida Sang Hyang Budha.
Pengaruh kepercayaan Siwa Budha masih terasa kental di Desa Adat Kapal, terutama di sekitar Pura Puru Sada.
Jika diperhatikan, arsitektur pura ini mencerminkan perpaduan dua aliran, dengan candi yang memiliki stupa di bagian atas dan ornamen Bali di bagian bawah.
Pengalaman Mistis di Pancoran Batan Nyuh
Kejadian tak biasa pernah dialami oleh Mangku Suwena. Suatu malam, saat menonton televisi, tiba-tiba layar televisinya berubah menjadi putih, dan seketika ia merasa berada di Pancoran Batan Nyuh.
Saat itulah ia mendapat petunjuk bahwa Ida Sang Hyang Budha dahulu berstana di pancoran tersebut.
Namun kini, stana beliau sudah pindah ke Pura Sakenan di Desa Munggu, seiring dengan perubahan bentuk palinggih di Pancoran Batan Nyuh.
Pancoran yang Masih Aktif dan Tradisi yang Terjaga
Pancoran Batan Nyuh menjadi tempat yang banyak digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melaksanakan panglukatan dan memohon tirtha saat ada upacara.
Setiap 210 hari sekali, pada Buda Wage Wuku Kelawu, diadakan piodalan di pancoran ini.
Dari lima pancoran yang ada, hanya tiga yang masih mengeluarkan air, dan hanya dua yang digunakan untuk panglukatan, sementara satu lainnya khusus untuk nunas tirtha.
Tradisi Hindu yang Kental di Tempat Sakral Budha
Meski Pancoran Batan Nyuh berkaitan erat dengan tradisi Budha, semua upacara di sini dilakukan dengan tradisi Hindu.
Uniknya, hampir tidak ada umat Budha yang datang ke tempat ini, mungkin karena akses yang dahulu sulit.
Kini, dengan akses yang lebih mudah, Pancoran Batan Nyuh kembali menjadi tempat yang ramai dikunjungi.
Jadi, apakah Anda penasaran untuk merasakan sendiri keunikan Pancoran Batan Nyuh? Tempat ini menunggu untuk dijelajahi, dengan segala misteri dan sejarah yang terkandung di dalamnya. ***