BALIEXPRESS.ID - Pelinggih Kemulan atau yang dikenal juga dengan Pelinggih Rong Telu (memiliki tiga ruangan) yang ada di setiap rumah tangga umat Hindu Bali ini, merupakan salah satu bangunan suci yang tidak saja memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan leluhur.
Menurut Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari dari Geria Wanasari Sanur, sejarah dari Pelinggih Kemulan ini ternyata tidak terlepas dari Pelinggih Rong Tunggal.
Pada masa lalu, seperti yang tertulis dalam Prasasti prasasti Sembiran A IV dengan angka tahun abad ke XI, disebutkan bangunan pelinggih ini dibuat dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (me-rong tunggal) yang digunakan untuk tempat sajian.
"Bangunan rong tunggal inilah yang disebut kemulan atau sanggah kemulan. Peninggalan-peninggalan bangunan ini dijumpai di desa-desa kuno di Bali, seperti di Julah, Sembiran, Lateng, Dausa, dan tempat kuno lainnya," jelasnya.
Lama kelamaan oleh karena kebudayaan manusia makin maju, maka dalam perkembangan sejarah bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (merong dua).
Dalam perkembangan selanjutnya bangunan rong dua yang menjadi tempat untuk menghormati atau memuja leluhur-leluhur mereka yang telah disucikan.
Selanjutnya, dalam perkembangan kemudian, bangunan yang memakai ruangan tiga (rong telu) disesuaikan dengan konsep Trimurti yang terdiri dari tiga dewa, yakni Brahma, Wisnu, dan Iswara.
“Ketiga dewa ini merupakan perwujudan dari Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Mahaesa), yang masing-masing berfungsi sebagai dewa pencipta, pemelihara dan pemeralina (pelebur),” ungkapnya.
“Kesatuan ketiga dewa inilah disebut dengan Sang Hyang Trimurti atau Tri Tunggal. Pengaruh konsep Trimurti inilah menyebabkan bangunan rong telu berfungsi ganda,” jelasnya.
“Pertama, untuk tempat memuja arwah leluhur yang telah suci, dan yang kedua untuk memuja Sang Hyang Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu dan Iswara,” ungkapnya.
Sanggah Kemulan ini dipuja hanya oleh suatu keluarga sekelompok kecil.
Kemudian apabila keluarga kecil sudah membiak menjadi beberapa kepala keluarga, maka mereka mendirikan beberapa buah bangunan/pelinggih untuk melengkapi bangunan yang telah ada di dalam sanggah pemujaannya.
Bangunan-bangunan yang baru ini digunakan untuk tempat pemujaan roh-roh suci dari orang-orang yang dianggap telah berjasa, sesuai dengan pelinggih-pelinggih yang terdapat di dalam bangunan suci asalnya.
Pelinggih-pelinggih yang baru disejajarkan tempatnya dengan bangunan kemulan, sehingga keseluruhannya disebut sanggah pamerajan.
“Bangunan-bangunan baru itu sangat bervariasi, tetapi pada umumnya terdiri dari bangunan menjangan seluang, bangunan gedong, sanggar agung, bangunan berkerucut, bangunan saka ulu gempel, dan bangunan taksu,” tambah Ida Pedanda. ***
Editor : I Putu Suyatra