BALIEXPRESS.ID - Turus Lumbung atau pelinggih yang terbuat dari pohon dapdap atau bisa juga dari pohon kayu santen dalam masyarakat Hindu Bali merupakan pelinggih sementara bagi keluarga baru yang baru mendirikan rumah.
Sebagai cikal bakal dibangunnya pemerajan (tempat pemujaan bagi sebuah keluarga Hindu Bali), ternyata Turus Lumbung ini, memiliki sejarah yang panjang.
Bahkan keberadaannya sendiri sudah tercatat sejak abad lX.
Menurut Ida Pedande Gede Wayahan Wanasari dari Geria Wanasari Sanur, keberadaan Turus Lumbung sebagai tempat pemujaan sementara sudah ada sejak abad XI silam, sebagaimana yang dicatat dalam prasasti Sembiran A IV, yang menyebutkan Tempat Pemujaan Sementara mulai dibuat ketika para penduduk di suatu wilayah merantau ke wilayah lain.
Perantauan ini menurut Ida Pedanda dilakukan karena kepadatan penduduk, banyak penduduk yang semula tinggal dekat tempat-tempat suci pergi ke tempat lain yang agak jauh.
Perpindahan ini mungkin disebabkan oleh beberapa hal, seperti mencari penghidupan yang baru atau karena desa tempat tinggal sebelumnya sudah tidak aman, sering terjadi kerusuhan dan perampokan.
"Seperti halnya yang terjadi di desa Julah pada sekitar abad XI. Pada masa tersebut, dalam prasasti Sembiran ini disebutkan, para perantauan ini membuat suatu bangunan yang sifatnya sementara dan juga tempat pemujaan sementara," jelasnya.
Dalam prasasti Sembiran ini, disebutkan bangunan tempat pemujaan ini dibuat dari Turus (batang) pohon dapdap sebagai tiangnya dan pada bagian atasnya dibuat sebuah altar atau ruangan dengan balai-balai yang dibuat dari bambu untuk tempat meletakkan sajian.
Adapun makna dari Turus Lumbung ini dikatakan Ida Pedanda adalah sebagai sumber penghidupan dan perlindungan bagi pemujanya.
Hal ini tidak terlepas dari sifat dari kayu dadap/turus dadap yang memiliki sifat sebagai tameng atau perisai dari kekuatan negative.
Sedangkan kata Lumbung dalam Turus Lumbung ini mengandung arti adalah sebagai tempat untuk menyimpan padi untuk penghidupan.
Sehingga jika diartikan Turus Lumbung ini sebagai perlindungan pemujanya dalam upaya mencari sumber kehidupan baru.
Adapun sifat dari Turus Lumbung ini adalah bangunan atau tempat pemujaan yang sifatnya sementara dan nanti harus digantikan dengan bangunan yang sifatnya permanen menurut kemampuan penghuninya. ***
Baca Juga: Lontar Sima: Jejak Tradisi Kuno Desa Beratan Samayaji Mulai Terkuak
Editor : I Putu Suyatra