BALIEXPRESS.ID - Setelah rumah rampung dibangun, umat Hindu Bali tidak akan segera menempati bangunan tersebut tanpa melaksanakan ritual sakral yang dikenal sebagai Melaspas.
Tanpa upacara ini, rumah dianggap belum layak untuk dihuni, meninggalkan pertanyaan besar: mengapa upacara Melaspas begitu penting?
Jero Mangku I Wayan Satra menjelaskan bahwa tujuan dari Melaspas adalah untuk membersihkan dan menyucikan bangunan baru secara niskala sebelum digunakan.
Upacara ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga langkah penting untuk menciptakan kedamaian dan ketenangan bagi keluarga yang akan tinggal di dalamnya, serta menjauhkan mereka dari hal-hal negatif yang tak diinginkan.
Mengungkap Makna Mendalam di Balik Kata "Melaspas"
Melaspas sendiri berasal dari dua kata, yaitu "Melas" yang berarti pisah, dan "Pas" yang berarti cocok.
Secara harfiah, Melaspas menggambarkan proses penyatuan unsur-unsur berbeda seperti kayu, tanah, dan batu menjadi sebuah bangunan yang layak dihuni, baik untuk manusia maupun untuk tempat tinggal para Dewa yang disebut palinggih.
Mangku Satra juga mengungkapkan bahwa upacara Melaspas memiliki beberapa tingkatan, mulai dari Kanista yang paling sederhana, Madya yang menengah, hingga Utama yang besar. Tingkatan ini dipilih sesuai dengan kemampuan umat yang melaksanakannya.
Proses Sakral Melaspas: Menyucikan dan Menghidupkan Bangunan
Sebelum ritual Melaspas dimulai, dilakukan terlebih dahulu upacara Macaru.
"Tujuannya adalah untuk mengundang Bhutakala dan mempersembahkan sesajen agar roh-roh yang tadinya mendiami bangunan tersebut kembali ke tempat asalnya," ungkap Mangku Satra.
Selanjutnya, dihadirkan Dewa Ghana, Dewa Rintangan, untuk menghalangi roh-roh pengganggu.
Rangkaian upacara Melaspas kemudian berlanjut dengan mengucapkan orti pada mudra bangunan sebagai permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan memasang ulap-ulap yang disesuaikan dengan jenis bangunan.
Pada bangunan suci, dilakukan penggalian untuk menempatkan padagingan sebagai simbol kekuatan dan kehidupan bagi bangunan tersebut.
Siku-Siku dan Tapak Dara: Simbol Kekuatan dan Keseimbangan
Menariknya, dalam upacara Melaspas, penggunaan alat pertukangan sederhana seperti siku-siku memiliki makna mendalam.
Siku-siku dipercaya mampu meluruskan bangunan yang tidak beraturan dan mencegah konflik akibat kesalahan pengukuran.
Selain itu, simbol tapak dara juga ditempelkan untuk menjaga keseimbangan antara pawongan, palemahan, dan parahyangan, sehingga bangunan tetap kokoh dan tidak mudah roboh.
Dua Dewa Pelindung Bangunan Baru
Dalam upacara pamelaspasan, umat Hindu Bali memuja dua Dewa, yaitu Bhatara Bhagawan Biyasa sebagai Dewa Pemelaspas dan Bhatara Bhagawan Siwakarma sebagai Dewa Pamakuh.
Upacara Pamakuh sendiri bertujuan untuk menguatkan bangunan secara niskala, memberikan keseimbangan dan perlindungan dari segala hal negatif yang mungkin mengancam penghuni bangunan tersebut.
Ritual Melaspas bukan sekadar tradisi, tetapi sebuah upaya mendalam untuk memastikan bahwa setiap bangunan yang didirikan memiliki daya hidup, kekuatan, dan keseimbangan.
Dengan begitu, bangunan tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman, tetapi juga terhindar dari pengaruh-pengaruh buruk yang tak kasat mata. ***
Editor : I Putu Suyatra